spot_img
BerandaAqidah dan ManhajKedudukan Cinta kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam

Kedudukan Cinta kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam

Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah di antara kewajiban yang paling agung dalam agama Islam.

Allah berfirman:

“Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”
(QS. At-Taubah: 24).

Makna Ayat tentang Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Yakni, katakanlah wahai Muhammad kepada orang-orang yang enggan untuk berhijrah ke negeri Islam, jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, atau saudara-saudara kalian dari sisi nasab, atau istri-istri kalian, ataupun keluarga kalian, dan harta yang kalian usahakan dengan susah payah, perdagangan yang kalian takutkan akan merugi, atau rumah-rumah yang kalian cintai semua itu lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya maka tunggulah ancaman Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih utama dibandingkan segala kecintaan duniawi. Allah mengancam mereka dengan keputusan-Nya yang pasti, serta menyebut mereka sebagai orang-orang fasik yang keluar dari ketaatan.

Baca Juga: Bukti Kecintaan Seorang Mukmin Kepada Nabinya

Jika hal-hal tersebut lebih kalian cintai ketimbang Allah dan Rasul-Nya, dan juga jihad yang tujuannya untuk meninggikan kalimat-Nya, maka tunggulah wahai orang-orang yang enggan untuk berhijrah dan berjihad hingga Allah akan mendatangkan untuk kalian dengan hukuman secara segera ataupun yang akan datang, Allah tidak menginginkan kebaikan bagi orang-orang bermaksiat yang keluar dari ketaatan kepada-Nya, yang mereka lebih mengutamakan sesuatu dari kecintaan kepada Allah dari hal-hal yang Allah sebutkan di dalam ayat tersebut.

Dalam firman Allah tersebut, Allah mengatakan “tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” Disini terdapat ancaman bagi yang lebih mengutamakan kecintaan kepada sesuatu daripada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Patut diketahui bahwa Allah tidak akan menggunakan ancaman kecuali pada hal-hal yang hukumnya adalah wajib dan harus dilakukan yang tidak ada pilihan lain padanya.

Sisi penyandingan kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada Rasul-Nya adalah dalam firman-Nya, lebih kalian cintai ketimbang Allah dan Rasul-Nya, bahwa tidak akan sempurna iman seseorang kepada Allah kecuali ia juga mencintai apa yang Dia cintai, membenci apa yang Dia benci.

Dimana tidak ada jalan untuk mengetahui apa yang Dia cintai dan apa yang Dia benci kecuali dari sisi Nabi-Nya yang menyampaikan dari-Nya apa yang Dia cintai dan apa yang Dia benci. Sehingga cinta kepada Allah berkonsekuensi cinta kepada Rasul-Nya, membenarkannya, dan meneladani beliau shallallahu’alaihi wa sallam.

Penjelasan Ulama tentang Cinta kepada Nabi

‘Iyadh berkata, Allah berfirman, “Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan…, maka cukuplah hal ini sebagai motivasi dan peringatan, petunjuk, dan penanda tentang kewajiban mencintai beliau, dan betapa besar hak beliau akan hal tersebut.

Ketika Allah mengetuk memanggil orang-orang yang harta, keluarga, dan anaknya lebih ia cintai melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah ancam mereka dengan, “tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya”, kemudian Allah menyifati mereka dengan kefasikan pada akhir ayat, dan memberitahu mereka, jika hal ada dari mereka yang melakukannya maka sesungguhnya ia adalah orang yang tersesat yang Allah tidak memberi petunjuk kepada-Nya.

Cinta kepada Nabi

Ibnul Qoyyim berkata bahwa setiap cinta adalah tanda pengagungan bagi manusia, dan kecintaan ini diperbolehkan selama mengikuti cinta kepada Allah dan pengagungan kepada-Nya, seperti cinta kepada Rasul-Nya dan pengagungan kepada beliau. Cinta kepada Rasul adalah tanda sempurnanya cinta kepada yang mengutus beliau dan pengagungan kepada-Nya yaitu Allah.

Umat beliau shallallahu’alaihi wa sallam mencintai beliau karena kecintaan Allah kepada beliau, dan umatnya mengagungkan beliau dan menghormatinya karena pengagungan Allah kepadanya. Sehingga cinta kepada Rasul adalah cinta karena sebab Allah Ta’ala, dan ini adalah konsekuensi cinta kepada Allah.

Dari Anas radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Tiga hal yang jika ketiganya ada pada diri seseorang maka niscaya ia akan merasakan manisnya iman, diantaranya adalah jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai ketimbang hal selain dari keduanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

📌 Bersambung…

(Dinukil dari website dorar.net, diterjemahkan oleh Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img