BerandaFiqih dan MuamalahHaji & Umroh (Bagian 3)

Haji & Umroh (Bagian 3)

Pembahasan ini tentang kriteria orang yang dikatakan mampu dalam melaksanakan ibadah haji. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ

(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji)…” (Ali-Imron : 97)

KRITERIA MAMPU DALAM MELAKSANAKAN IBADAH HAJI

Kriteria seseorang mampu melaksanakan ibadah haji terwujud apabila :

  1. Dalam kondisi sehat.
  2. Memiliki bekal untuk keberangkatan dan untuk pulang, yang mana bekalnya diluar dari nafkah bagi dirinya dan keluarganya.
  3. Aman dalam perjalanan

Adapun dalil akan syarat sehat, sebagaimana datang hadits dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas bahwasannya ada seorang wanita dari Khots’am berkata : wahai Rosululloh, sesungguhnya ayahku sudah diwajibkan melaksanakan ibadah haji tatkala ia sudah berusia lanjut, dan tidak bisa menunggangi kendaraan, bolehkah aku berhaji atas namanya? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

حُجِّي عَنْهُ

“Berhajilah atas nama ayahmu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Di dalam hadits ini ada beberapa faidah yaitu kriteria sehat disini ketika seseorang mampu menunggangi kendaraan atau mampu fisiknya dalam melakukan perjalanan, apabila tidak mampu maka gugurlah kewajibannya untuk melaksanakan haji. Dan di hadits ini menjelaskan bahwa berhaji atas nama orang lain itu dibolehkan.

Baca Juga :  Mengapa Hati Kita Selalu Rindu Ka’bah?

Adapun dalil akan syarat memiliki bekal yang cukup baginya, yang mana bekal tersebut diluar dari biaya nafkah keluarganya selama ia tinggalkan. Sebagaimana sabda Nabi r :

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang berdosa ketika ia menyia-nyiakan orang yang dalam tanggungannya” (H.R. Abu Daud)

Maksudnya bagi seorang kepala keluarga wajib atasnya untuk menafkahi keluarganya, jika ia tidak menafkahi maka ia berdosa. Jadi dia mampu memiliki bekal untuk pulang pergi dan meninggalkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama ia sedang pergi.

Dan adapun syarat dikatakan mampu ia harus aman dalam perjalanan, karena kewajiban melaksanakan ibadah haji tanpa dibarengi hal ini maka akan mendatangkan mudhorot, dan hal ini tentu dilarang dalam syariat islam.

Sesungguhnya Allah tidaklah membebani seorang pun melebihi dari kemampuannya. Jika ada suatu kewajiban diluar dari kemampuan seorang hamba maka gugurlah kewajiban tersebut atasnya.

Haji & Umroh (Bagian 3)

HAJI BAGI WANITA

Apabila terpenuhi 3 syarat kriteria mampu yang telah disebutkan pada seorang wanita maka wajib atasnya untuk melaksanakan ibadah haji sebagaimana kewajibannya untuk laki-laki, akan tetapi terdapat syarat tambahan bagi seorang wanita, yaitu dia harus didampingi oleh suami atau mahromnya. Apabila ia tidak mendapati pendamping yang sah baginya maka dalam islam ia dikatakan tidak mampu. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu beliau berkata aku pernah mendengar Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ المَرْأةُ إِلَّا وَمَعَهَا ذِيْ مَحْرَمٍ

“Tidak boleh bagi seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama wanita itu ada mahromnya, dan tidak boleh seorang wanita melakukan safar kecuali ia didampingi dengan mahromnya.”

Lalu berdirilah seorang laki-laki dan berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya istriku pergi keluar untuk melaksanakan ibadah haji. Sedangkan aku sudah terdaftar untuk mengikuti perang ini dan itu.” Maka Rosululloh r menjawabnya :

انْطَلِقْ، فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Pergi dan berhajilah dampingi istrimu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Ibadah haji wajib bagi seseorang yang dikatakan mampu, ibadah haji ini sifatnya bisa ditunda waktunya, akan tetapi ketika seseorang sudah terdapat padanya kriteria orang yang wajib melaksanakan haji maka waktunya terbatas dan harus disegerakan pelaksanaannya. Ketika seseorang mampu akan tetapi ia tunda dan tidak langsung melaksanakan ibadah haji maka ia berdosa. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَرَادَ الحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ، فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ المَرِيضُ، وَتَضِلُّ الضَّالَّةُ، وَتَعْرِضُ الحَاجَةُ

“Barangsiapa yang hendak melaksanakan ibadah haji maka hendaknya ia bersegera untuk melaksanakannya, karena bisa jadi terkadang seseorang jatuh sakit, kendaraan atau hartanya bisa hilang, dan bisa jadi ada kebutuhan yang lain.” (H.R. Ibnu Majah)

Kesimpulannya adalah adalah bahwasannya kriteria orang yang dikatakan mampu ada tiga yaitu ; dalam keadaan sehat, mampu secara finansial untuk bekal yang mana diluar dari nafkah untuk keluarga yang ia tinggalkan, dan aman dalam perjalanan menuju Makkah.

Sedangkan untuk kaum wanita memiliki tambahan kriteria mampu yaitu harus ditemani oleh mahrom atau suaminya. Dan kita pun telah menjelaskan kewajiban bagi seseorang yang sudah mendapati dirinya sudah memenuhi kriteria wajib melaksanakan ibadah haji maka harus menyegerakannya dan tidak boleh menundanya.

Wallohu ta’ala a’lam

Ustadz Ma'ruf Nursalam, Lc.

Baca Juga : Keutamaan Haji dan Umrah

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img