BerandaFiqih dan MuamalahBab Haji & Umroh (Bagian 5)

Bab Haji & Umroh (Bagian 5)

Pembahasan kali ini mengenai bagaimana jika seseorang yang melaksanakan ibadah haji berihrom melewati miqot.

Ketika Berihram Melewati Miqot

Ketika seseorang melaksanakan ibadah haji maka salah satu kewajiban yang harus dilakukannya adalah berihrom dengan melafadzkan labbaik Allohuma ‘umrotan/labbaik Allahumma hajjan disaat ia berada di miqot yang sudah ditentukan dan telah kami jelaskan pada pembahasan Bab Haji & Umroh (Bag 4)

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang hendak melaksanakan ibadah haji atau umroh namun ia berihrom ketika sudah melewati miqot?. Maka jawabannya adalah orang tersebut berdosa namun ibadah haji/umrohnya tetaplah sah dan dia tidak dikenakan dam (denda) karena hal demikian. Jika dia tetap menjalankan ibadah haji/umroh maka dosa tersebut tetap menyertainya, kecuali dia kembali ke miqot dan mengulang ihromnya maka dosa tersebut hilang darinya.

Sebagaimana hadits Safwan bin Ya’la bahwasannya beliau berkata kepada ‘Umar Radhiyallahu anhu : “beritahukan kepadaku keadaan Nabi shalallahu alaihi wassalam ketika mendapatkan wahyu”. ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata : “ketika Nabi shalallahu alaihi wassalam berada di ji’ronah dan bersama beliau beberapa orang dari sahabat Nabi, lalu datang seorang laki laki berkata : wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang sudah berihrom untuk melaksanakan umroh dan ia mengenakan wewangian/parfume? Lalu Nabi shalallahu alaihi wassalam terdiam sejenak, setelah itu datanglah wahyu, lalu ‘Umar menunjukinya kepada Ya’la. Lalu Ya’la datang dan diatas Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kain menutupi kepala beliau dan ternyata wajah beliau memerah. Dan beliau menutupi wajahnya dengan kain tersebut lalu membukanya dan berkata :

أين الذي سأل عن العمرة؟

“Dimana orang yang tadi bertanya mengenai ‘umroh?”

Maka orang tersebut didatangkan kepada Rasulullah dan beliau shalallahu alaihi wassalam bersabda :

اغسل الطيب الذي بك ثلاث مرات، وانزع عنك الجبة، واصنع في عمرتك كما تصنع في حجتك

“Bersihkan minyak wangi yang ada pada pakaianmu, lepaslah jubahmu dan laksanakanlah ‘umrohmu sebagaimana kamu melaksanakan haji mu”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Pada hadits ini menunjukkan dengan jelas kepada kita mengenai seseorang yang menyelisihi aturan atau melanggar larangan-larangan bagi orang yang berihrom, maka dia tidak dikenakan apapun melainkan ia hanya perlu meninggalkan pelanggaran tersebut. Karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak memerintahkan laki-laki tersebut melainkan hanya melepas pakaian yang ada minyak wanginya dan membersihkannya.

Dan Beliau shalallahu alaihi wassalam tidak memerintahkannya untuk menyembelih hewan ternak kambing sebagai denda. Seandainya hal tersebut (membayar dam atau denda) itu wajib niscaya Beliau shalallahu alaihi wassalam akan memerintahkannya, karena tidak boleh menunda penjelasan apabila dibutuhkan. (Irsyadus Syari : Karya Syaikh Muhammad Ibrohim Syaqroh)

Hal ini serupa dengan orang yang menyelisihi aturan dengan berihrom melewati miqot, maka ia tidak diwajibkan untuk membayar dam/denda dan dia hanya perlu menghilangkan/memperbaiki kesalahannya saja. Serta dituntut untuk beristighfar dan bertaubat kepada Allah, sedangkan status ibadahnya sah namun tidak sempurna.

Tata Cara Berihrom Di Miqot

Ibadah haji memiliki 3 macam, yaitu : haji qiron, haji tamattu’, dan haji ifrod. Haji qiron adalah ibadah haji yang pelaksanaannya bersamaan dengan ibadah umrah dan didasari niat yang menggabungkan keduanya. Adapun haji tamattu’ adalah ketika seseorang menggabungkan ibadah umroh dan haji dengan jeda tahallul diantara keduanya. Sedangkan haji ifrod adalah ketika seseorang hanya melaksanakan ibadah haji saja tanpa umroh.

Ketika seseorang ingin berihrom haji qiron dan ia telah membawa hadyu (hewan ternak untuk disembelih) maka dia bertalbiyah melafadzkan ketika dimiqot : “Labbaik Allahumma bihajjatin wa ‘umrotin”. Dan jika ia tidak membawa hadyu -ini yang lebih utama- maka ia bertalbiyah untuk melaksanakan umroh saja dan itu harus, dengan ia mengatakan : “Labbaik Allahumma bi’umrotin”. Apabila ia bertalbiyah untuk melaksanakan haji saja maka niat tersebut rusak dan statusnya berubah menjadi umroh. (Manasik Haji dan Umroh Karya Syaikh Al-Albani)

Karena Nabi shalallahu alaihi wassalam memerintahkan seluruh sahabat-sahabatnya yang tidak membawa hadyu untuk bertahallul dari ihromnya dan menjadikan thowaf serta sa’i mereka sebagai umroh saja, kecuali orang yang membawa hadyu diantara mereka seperti Rasul shalallahu alaihi wassalam. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam marah kepada orang yang tidak bersegera dalam merespon perintah beliau shalallahu alaihi wassalam. Nabi shalallahu alaihi wassalam menekankan hal ini dalam sabdanya :

العمرة في الحج إلى يوم القيامة

“umroh itu sudah masuk pada rangkaian ibadah haji sampai hari kiamat”

Ini merupakan dalil jelas bahwa ibadah umroh merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji dan tidak dapat dipisahkan dari haji. Dalam pelaksanaan ibadah haji diutamakan melaksanakan ibadah umroh pula di dalamnya, Rasululloh r memerintahkan sahabatnya untuk melaksanakan umroh dan haji baik tamattu’ ataupun qiron.

Maka tidaklah dianjurkan melaksanakan ibadah haji dengan cara haji ifrod, haji ifrod diperbolehkan dalam kondisi kondisi tertentu saja seperti tidak memungkinkannya melaksanakan umroh dikarenakan waktu yang terbatas. Contohnya jika ada orang yang baru datang ke Makkah pada tanggal 9 Dzul hijjah, dan jika ia melaksanakan umroh terlebih dahulu maka pelaksanaan wukuf di Arafah akan luput darinya, lalu status hajinya pun bisa menjadi tidak sah. Maka tidak mengapa ia melaksanakan ibadah haji dengan cara haji ifrod.

Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda yang mana di dalamnya terdapat makna dari keutamaan haji tamattu’ :

لو استقبلت من أمري ما استدبرت لم أسق الهدي

“Seandainya aku bisa mengulang apa yang telah berlalu dariku, niscaya aku tidak akan membawa hadyu”.

Ucapan beliau ini bukanlah hanya sekedar mengabarkan keinginannya saja karena telah luput darinya untuk melaksanakan haji tamattu’ sedangkan beliau melaksanakannya dengan qiron, bahkan ucapan beliau tersebut mengabarkan kepada kita akan keutamaan haji tamattu’ melebihi haji qiron.

Bagi setiap orang yang melaksanakan ibadah haji haruslah diniatkan melaksanakan ibadah haji dengan disertai umroh. Bisa dengan melaksanakan umroh terlebih dahulu sebelum haji karena dia tidak membawa hadyu, ini disebut dengan haji tamattu’ atau ia telah membawa hadyu maka ia menggabungkan umroh langsung dengan haji dan ini disebut dengan haji qiron. Meskipun yang sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah qiron karena beliau membawa hadyu akan tetapi haji tamattu’ tetaplah lebih utama sebagaimana yang telah dijelaskan.

Bab Haji & Umroh (Bagian 5)

Bolehnya Berihrom Dengan Menentukan Syarat Akan Bertahallul Jika Sakit Atau Semisalnya

Ketika seseorang berihrom lalu pada ihromnya disertai dengan syarat ia akan bertahallul apabila ia sakit atau semisalnya, maka hal ini diperbolehkan sebagaimana hadits yang datang dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha beliau menceritakan bahwa Rasulullah menemui Dhuba’ah binti Zubair dan Beliau shalallahu alaihi wassalam bertanya kepadanya :

أردت الحجَّ؟

“Apakah kamu ingin melaksanakan haji?”

Ia pun menjawab “demi Allah tidaklah ada yang menghalangiku melainkan sakit”. Beliau shalallahu alaihi wassalam bersabda kepadanya :

حجي واشترطي، وقولي : اللهم محلي حيث حبستني

“Berhajilah dan berikan syarat ketika kamu berihrom, dan ucapkan Allahumma mahilli haistu habastani (Ya Allah, aku akan tahallul (berhenti) jika Engkau menahanku -bila tambah sakit dan tak sanggup meneruskannya-)”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Jika ada orang yang berihrom dengan mengucapkan hal demikian, dan kapan pun ia terhalangi dalam pelaksanaan ibadah haji/umroh karena sakit atau semisalnya maka ia dibolehkan untuk bertahallul disaat itu juga dan ia tidak dituntut untuk membayar dam. Sebaliknya jika ketika berihrom ia tidak memberikan syarat demikian lalu ia mendapati hal yang menghalangi ibadah haji/umrohnya seperti sakit atau semisalnya, maka ia dituntut untuk membayar dam, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

…فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ…

“…Akan tetapi, jika kamu terkepung (oleh musuh), (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat…” (Al-Baqoroh : 196)

Hewan hadyu hanya boleh dari hewan ternak saja seperti : unta, sapi, dan kambing. Apabila yang mudah baginya adalah seekor domba/kambing maka itu sudah mencukupi, akan tetapi unta dan sapi lebih utama. Dan apabila ia tidak mendapati hewan hadyu maka boleh baginya diganti dengan puasa selama 10 hari qiyasan terhadap orang yang berhaji tamattu’ ketika tidak mendapati/memiliki hewan hadyu.

Ketika seorang Wanita datang bulan disaat ia berhaji/umroh maka ia tetap melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji kecuali thowaf, karena tidak diperbolehkan seseorang dalam keadaan berhadats melakukan thowaf.

Wallahu ‘alam

Ustadz Ma'ruf Nursalam, Lc

Baca Juga : Mari Kokohkan Dan Kuatkan Keimanan Kita

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img