Hakikat kehidupan dunia hanyalah sebuah permainan dan senda gurau belaka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَا لَعِبٌ وَّلَهۡوٌ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan” (Al-Hadid: 20)
Akan tetapi sebagian kita pontang-panting untuk mendapatkannya, mempertahankan bisnisnya, agar tidak sampai dilanda kebangkrutan. Sampai-sampai siang menjadi malam dan malam menjadi siang, kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Kita sangat serius menannggapi dunia. Padahal bagi Allah, dunia hanya permainan dan senda gurau belaka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim)
Tetesan dari jari itulah dunia, sedangkan samudra yang begitu luasnya itulah akhirat. Betapa banyak dari kita melupakan sesuatu yang banyak dan hanya fokus untuk sesuatu yang kecil.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
قُلۡ مَتَاعُ الدُّنۡيَا قَلِيۡلٌ ۚ وَالۡاٰخِرَةُ خَيۡرٌ لِّمَنِ اتَّقٰى
“Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa” (Qs. An-Nisa:77)
Betapa banyak orang mendzalimi saudaranya hanya karena yang sedikit ini. Betapa banyak masalah terjadi hanya karena yang sedikit ini. Betapa banyak orang memperebutkan yang sedikit ini, sampai lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal yang sedikit ini sangat berisiko. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Wahai Amirul mu’minin, apa itu dunia?” Maka Ali bin abi thalib radhiyallahu ‘anhu menjawab,
حلالها حساب وحرامها عقاب
“Dunia itu yang halal akan menjadi hisab, dan yang haram akan menjadi adzab”.
Maka hendaklah kita berorientasi kepada akhirat kita. Hendaklah kita menyiapkan bekal sebaik-baiknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada 3, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau kita mati, istri kita akan bersedih, tapi kesedihan ini tidak akan lama. Apabila masa iddah telah berlalu, perlahan mulai berkurang rasa sedihnya, berkurang kedukaannnya, bahkan ketika zaman berlalu, istri kita akan berusaha mencari pengganti dengan harta yang kita wariskan kepadanya.
Begitu pula anak-anak kita, dia akan sedih ketika kita mati. Tapi ingatlah, kesedihan yang dirasakannya tidak akan berlangsung lama. Seshalih apapun seorang anak, dia tidak akan betah menunggu 3 jam di pemakaman kita, dia akan pulang. Dia sedih, tapi dia akan bertemu dengan anaknya untuk bermain-main, sehingga dia akan terhibur. Zaman pun berlalu satu bulan, dua bulan, maka kedukaan itu akan semakin sirna. Dengan berlalunya waktu kau akan dilupakan dan namamu akan dihilangkan. Sedikit demi sedikit dia akan melupakanmu dalam doa-doanya. Wallahi, semua akan melupakan kita, kecuali anak yang shalih dan istri yang shalihah.
Jika kita mati, nama kita akan dihapus dari kartu keluarga kita, tidak ada yang sudi menempelkan nama kita. Bahkan ketika seseorang mati, orang lain tidak akan sudi menyebutkan namanya, “Ahmad” mati, maka tidak akan ada orang yang mengatakan “Apakah Ahmad sudah dikubur?”, orang akan mengatakan “Apakah jenazahnya sudah dikuburkan?”. Jika kita mati, manusia pun tidak sudi untuk menyebutkan nama kita.
Wallahi, kalau kita tahu seberapa cepat manusia melupakan kita setelah kematian kita, niscaya kita hidup untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata.
Mari kita perhatikan masing-masing dari kita, ada yang usianya 40 tahun, 50 tahun, 60 tahun, apa yang kita cari??
Cepat atau lambat kita akan mati! Maka hendaklah kita mempersiapkan bekal untuk menuju kematian kita. Semoga Allah memanjangkan umur kita semuanya dalam ketaatan kepadanya.
Marilah kita berorientasi kepada akhirat kita bahwa,
الدنيا دار ممر واللآخرة دار مقر
“Dunia ini hanya tempat lewat adapun akhirat adalah tempat tinggal”
Bagi seseorang yang sudah berumur 40 atau 50 tahun ke atas, maka apa yang kita cari di dunia ini. Maka konsentrasilah untuk anak-anak kita, kita sibukkan diri kita dengan akhirat kita. Kita didik anak kita untuk menjadi ahli sholat, terus berdoa untuk anak-anak kita,
رَبِّ اجۡعَلۡنِىۡ مُقِيۡمَ الصَّلٰوةِ وَمِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
Kematian adalah sesuatu yang pasti dan dunia bukan tempat untuk kita istirahat.
سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة
Al-Imam Ahmad bin Hambal radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Wahai imam Ahmad, kapan istirahat itu?”
Beliau menjawab, “Ketika dia meletakkan kakinya di surga, barulah dia istirahat”. Sekarang belum waktunya untuk istirahat, sekarang adalah tempat kita untuk beramal.
وَتَزَوَّدُوۡا فَاِنَّ خَيۡرَ الزَّادِ التَّقۡوٰى وَاتَّقُوۡنِ يٰٓاُولِى الۡاَلۡبَابِ
“Maka perbanyaklah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Qs. Al-Baarah:192)
Diantara makna dari takwa adalah mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Dan perintah Allah yang tertinggi adalah tauhid, maka hendaklah kita menjaga aqidah kita dan tauhid kita, sehingga hanya bergantung kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk neraka.” (HR. Bukhari)
Maka jadilah kita orang yang bertauhid sampai akhir hayat kita, karna tidak ada sebaik-baik bekal melebihi tauhid. Diantara sebaik-baik bekal adalah sholat kita, dan hendaklah seorang muslim perhatian dengan sholatnya, betapa banyak orang sekarang lupa dengan sholat dan keutanmaan sholat, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)
Maka hendaklah kita berhati-hati dengan perkara sholat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
مَا سَلَـكَكُمۡ فِىۡ سَقَرَ قَالُوۡا لَمۡ نَكُ مِنَ الۡمُصَلِّيۡنَۙ
“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat,” (Qs. Al-Mudatsir: 42-43)
Orang yang tidak sholat akan dimasukkan ke dalam neraka saqor. Jangankan orang yang tidak sholat, orang yang solat saja masih terancam, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
فَوَيۡلٌ لِّلۡمُصَلِّيۡنَۙ
“Maka celakalah orang yang salat,” (Qs. Al-ma’un: 4)
Wail itu maknanya ada 2, yang pertama adalah al-halak: kebinasaan. Yang kedua, maknanya adalah waadin fijahannam (lembah di neraka). Ini adalah ancaman bagi orang yang sholat, sholat yang seperti apa yang mendapatkan ancaman neraka?
الَّذِيۡنَ هُمۡ عَنۡ صَلَاتِهِمۡ سَاهُوۡنَۙ
“(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,”
Sholat yang lalai itu yang bagaimana? Sholat yang lalai adalah sholat yang di dalamnya ada 6 hal, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Jauzi rahimahullah,
فهذه ست صفات في الصلاة من علامات النفاق
Berikut ini adalah enam hal dalam shalat, yang termasuk tanda kemunafikan. Maka berhati-hatilah dengan yang 6 hal ini, jika ada pada diri kita segera hapus dan hilangkan, jika tidak maka kita akan termasuk ke dalam orang-orang yang celaka, apa saja itu,
1. Malas ketika mengerjakannya. Terasa malas ketika terdengar adzan, tetap tidur atau bermain hp. Jika ada sifat seperti ini, maka ini ciri sholat yang lalai.
2. Ingin dilihat orang ketika mengerjakannya.
3, Mengakhirkan waktunya. Menunda sholat hingga di akhir batas waktu sholat itu sendiri, ini sholat, akan tetapi celaka!! Padahal sholat, lalu bagaimana yang tidak sholat??
4. Cepat gerakannya. Ini sholat, akan tetapi gerakannya cepat, maka ini juga termasuk ciri sholat yang lalai.
5. Sedikit mengingat Allah ketika mengerjakannya. Ini sholat, tapi memikirkan hal di luar sholat. Ini sholat, tapi tetap celaka.
6. Tidak sholat jamaah.
Maka hendaklah kita lihat 6 hal ini. Jika 6 hal ini ada dalam sholat kita, segera kita perbaiki. Sholatmu adalah ketenanganmu. Engkau sholat, maka engkau akan mendapatkan ketenangan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal bin Rabah ketika waktu sholat tiba,
يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة
“Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan sholat.”
Bagaimana kita tidak tenang dengan sholat, sedangkan panggilannya saja “Hayya ‘alal falaah” marilah kita menuju kesuksesan.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita untuk terus berjalan di atas jalan-Nya, hingga wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan dikumpulkan di surga bersama orang-orang yang shalih.
Baca juga: 7 Kewajiban Dalam Menjalankan Syariat Allah



