BerandaFiqih dan MuamalahJangan Tertipu Dengan Kebanyakan Manusia

Jangan Tertipu Dengan Kebanyakan Manusia

Kebanyakan manusia berpegang pada umumnya sesuatu. Karena belum tentu umumnya sesuatu atau apa yang dilakukan oleh kebanyakan manusia itu baik, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Al-An’am 6:116]

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَشَرِبُواْ مِنۡهُ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ  ٢٤٩

“Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. [Al-Baqarah 2:249]

Berhujjah Dengan Kebanyakan Manusia Tanpa Melihat Sumbernya

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita tidak mengikuti keumuman orang, akan tetapi kita mengikuti yang benar, dan yang benar adalah apa yang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Orang-orang pada umumnya memiliki landasan untuk mengikuti keumuman masyarakat, padahal jika kita melihat maka biasanya keumuman masyarakat itu kurang baik, seperti jumlah orang yang melaksanakan shalat dan yang tidak melaksanakan shalat. Kaidah orang awam dalam menimbang kebaikan adalah dengan melihat keumuman sesuatu di kalangan masyarakat, bukan dengan tolak ukur islam. Padahal kita bisa melihat banyak pula Nabi-nabi yang beriman akan tetapi jumlah pengikutnya sangatlah sedikit.

Orang-orang yang awam juga memiliki pandangan bahwa sesuatu itu batal atau tidak teranggap karena hal itu aneh menurut mereka dan juga karena sedikitnya kuantitas maka ini bukanklah dalil akan tetapi hawa nafsu. Allah Ta’ala berfirman,

فَقَلِيلٗا مَّا يُؤۡمِنُونَ

“maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

Maka pemahaman terbalik dari ayat ini adalah jika sedikit orang yang beriman berarti banyak orang yang kufur.

Inilah pentingnya bagi kita untuk menuntut ilmu, karena menuntut ilmu bukanlah kebutuhan Allah Ta’ala, akan tetapi kebutuhan kita. Seseorang akan menjadi baik jika dia menuntut ilmu dan kemudian ilmu tersebut diamalkan.

Kebanyakan manusia menganggap jumlah yang sedikit dalam suatu hal maka hal itu bukan berada di atas al-haq. Padahal umumnya sesuatu yang dikerjakan biasanya bersifat buruk. Sebagaimana orang yang beribadah jika dibandingkan orang-orang yang tidak beribadah maka orang yang tidak beribadah lebih banyak. Seperti itulah timbangan orang awam dalam menimbang sesuatu, mereka melihat kebanyakan orang atau keumuman orang.

Baca juga: Bersemangat Mengajari Anak Aqidah yang Benar

Dijelaskan dalam nash-nash bahwa kebanyakan manusia itu biasanya salah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Al-An’am 6:116]

Kebanyakan manusia tidaklah mengikuti sesuatu kecuali hanya dugaan saja, sehingga apa yang mereka ikuti bukanlah dari keyakinan mereka, berbeda dengan orang mukmin yang paham dengan ilmu sehingga mengikuti sesuatu tidaklah dengan menduga-duga akan tetapi dengan ilmunya. Allah Ta’ala berfirman menggambarkan kebanyakan manusia,

وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ  ١٨٧

“tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. [Al-A’raf 7:187]

Bayangkan orang yang bodo atau jahil dalam masalah dunia, maka dia akan mudah untuk ditipu, akan tetapi jika dia memiliki ilmu akan menjadi selamat. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk belajar, karena ilmu itu didapatkan dengan belajar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diperintahkan untuk belajar, untuk membaca Al-Qur’an. Dan keilmuan tidak akan bisa dicuri oleh orang, walaupun seseorang berada di dalam penjara sekalipun maka ilmunya tetap bermanfaat bagi dirinya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ 

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik”. [Al-A’raf 7:102]

Hal ini fakta yang terjadi di masyarakat, jika kita melihat maka kebanyakan masyarakat lebih banyak yang tidak melaksanakan shalat.

Jangan Tertipu Dengan Kebanyakan Manusia

Timbangan Kebenaran Bukan dari Kuantitas

Maka dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa timbangan yang benar bukanlah dari kuantitas, akan tetapi yang menjadi timbangan adalah kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kita dapati orang-orang yang baik adalah orang-orang yang berilmu, karena dengan ilmulah mereka sesuai dengan kebenaran.

Maka dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa timbangan yang benar bukanlah dari kuantitas, akan tetapi yang menjadi timbangan adalah kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kita dapati orang-orang yang baik adalah orang-orang yang berilmu, karena dengan ilmulah mereka sesuai dengan kebenaran.

Siapa saja yang berada di atas kebenaran walaupun dia sendiri itu lebih baik dan dia adalah orang yang benar. Orang-orang yang berada di keramaian orang-orang yang tidak berada di atas kebenaran maka hendaknya dia pindah dan hijrah agar menjaga keistiqomahannya. Karena iman yang lemah terkadang akan merasa malu dalam menjalankan syariat di tengah masyarakat.

Jika umumnya manusia melakukan kebatilan, maka kita wajib menolaknya walaupun dalam daerah tersebut hanya kita sendiri. Karena sudah janji Allah Ta’ala bahwa orang yang beriman akan ditolong,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ 

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Muhammad 47:7]

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sendirian pada saat itu, kemudian mulai diikuti dan ditolong oleh Abu Bakar, dan sahabat-sahabat yang lain radhiyallahu’anhum. Oleh karena itu para ulama mengatakan, “Kebenaran itu tidak diketahui dengan penampilan orang, akan tetapi kita melihat apakah dia di atas kebenaran atau tidak”.

Allah Ta’ala mengisahkan di dalam Al-Qur’an tentang umat-umat terdahulu yang jumlahnya sedikit, mereka berada di atas kebenaran. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٞ

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” [Hud 11:40]

Sehingga tatkala kita mencari jumlah ahlus sunnah maka niscaya akan kita dapati jumlah mereka sedikit jumlahnya. Dalam hadis-hadis yang shahih juga terdapat penjelasan bahwa dahulu para Nabi ada yang hanya memiliki pengikut 10 orang saja dan ada yang hanya 1 orang saja, ada juga Nabi yang memiliki pengikut hanyalah 2 orang saja. Tugas seorang Nabi adalah meyampaikan saja, adapun hidayah adalah kehendak Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan yang haq adalah mahal. Maka prinsip kita itu bukanlah melihat banyaknya jumlah, walaupun kita tidak menafikan ada yang memiliki banyak pengikut dan berjalan di atas haq, akan tetapi yang seperti ini sedikit saja. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ اْلإِسْلاَمَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagilah orang-orang yang terasing tersebut” [HR. Imam Muslim]

Hal ini terjadi karena maraknya kesesatan yang ada di akhir zaman.

Inilah timbangan yang wajib bagi seorang muslim untuk menjadikannya sebagai tolak ukur dalam beragama dan beribadah. Timbangan dalam melihat kebaikan adalah bukan dengan dengan jumlah yang banyak, akan tetapi dengan melihat apakah berada di atas kebenaran atau tidak, apakah sudah sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah atau belum.

Ustadz Aunurrofiq, Lc.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img