BerandaAdab dan AkhlakFakirnya Hati dan Ketakwaan Hati

Fakirnya Hati dan Ketakwaan Hati

Daftar Isi

Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata,

خرجَ علَينا رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ، ونَحنُ نَذكرُ الفَقرَ ونتخوَّفُهُ ، فَقالَ : الفقرَ تَخافونَ والَّذي نَفسي بيدِهِ ، لتُصبَّنَّ عليكُمُ الدُّنيا صبًّا ، حتَّى لا يُزيغ قلبَ أحدِكُم إزاغةً إلَّا هِيَهْ ، وايمُ اللَّهِ ، لقد ترَكْتُكُم على مثلِ البيضاءِ ، ليلُها ونَهارُها سواءٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam keluar kepada kami ketika kami sedang mengobrol tentang kefakiran dan takut akannya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apakah kalian khawatir tentang kefakiran? Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan dibentangkan kepada kalian dunia dengan seluas-luasnya, sampai tidak ada yang membuat hati kalian condong dari jalan yang lurus kecuali sebabnya dunia. Demi Allah! Sungguh aku tinggalkan kalian seperti kertas yang putih, malamnya seperti siangnya”.” [HR. Ibnu Majah dan yang selainnya]

Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan kepada kita semua permasalahan yang dibutuhkan oleh seorang hamba, termasuk solusi dalam menghadapi kemiskinan dan kefakiran. Semua orang pasti dihantui oleh kemiskinan dan juga kefakiran, ini merupakan hal yang wajar sehingga para sahabat pada saat itu juga membahas tentang kefakiran dan kemiskinan serta khawatir dengannya.

Akan tetapi ada sesuatu yang perlu untuk lebih dikhawatirkan dibandingkan kefakiran dunia. Diriwaytkan dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,

يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghani)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghani) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Karena jika hati telah kaya dan merasa cukup akan selalu bersyukur dan rihdo dengan pemberian Allah. Jika sebaliknya, maka berapapun harta yang diberikan kepadanya dia akan merasa selalu kurang. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Berapapun uang dan gajinya, maka ia akan selalu merasa kurang dan tidak puas. Oleh karenanya kaum muslimin, pentingnya kita menata hati-hati kita, jika hati kita adalah hati yang berysukur dan qona’ah maka berapapun rezeki yang kita terima maka akan cukup, begitupun sebaliknya jika hati kita tamak maka berapapun rezekinya kita akan selalu merasa kurang. Sehingga kita harus yakin bahwa rezeki adalah jaminan dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ  ٢٢

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” [Adz Dzariyat 51:22]

Allah Ta’ala juga menjamin semua makhluk akan diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

۞وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” [Hud 11:6]

Sehingga seseorang tidak perlu ragu akan rezekinya, akan tetapi dia cukup dengan melakukan tawakkal kepada Allah dan disertai dengan usaha-usaha untuk mendapatkan rezeki tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [At Talaq 65:3]

Fakirnya Hati dan Ketakwaan Hati

Baca Juga : Penggerak-Penggerak Hati

Ketakwaan Hati

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

اَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi dan sebagian dari kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Yang menjadi pembahasan dalam hadis ini adalah bahwa ketakwaan sumbernya berada di dalam hati. Jika hati telah makmur dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala maka anggota badan yang lain akan mengikutinya.

Yang menarik dari hadis di atas adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyandarkan ketakwaan kepada hati, dan Allah Ta’ala juga berfirman dengan menyandarkan ketakwaan letaknya di hati,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ  ٣٢

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al Hajj 22:32]

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyandarkan ketakwaan kepada hati, hal ini dikarenakan hakikat ketakwaan adalah ketakwaan hati bukan hanya sekadar ketakwaan dengan anggota badan, bahkan ketakwaan yang hanya sekadar anggota badan adalah ketakwaan yang dusta.

Takwa adalah ketika kita melaksanakan perintah Allah Ta’ala atas dasar ikhlas dan sesuai dengan tuntunan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kita keikhlasan dan ketakwaan sehingga kita menjadi hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala.

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi

Baca Juga : Kumpulan Hadits tentang Hati

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img