Ketakwaan adalah landasan utama bagi kebahagiaan sejati dan kemuliaan dunia serta akhirat. Hakikat takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, didasari oleh ilmu, keikhlasan, dan rasa takut akan azab-Nya.
Dalam Al-Qur'an, perintah untuk bertakwa diulang berkali-kali. Takwa adalah wasiat Allah kepada umat-umat terdahulu, dan lebih khusus lagi kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wasiat ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bekal utama dalam kehidupan seorang mukmin.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Namun, takwa bukan sekadar angan-angan. Ia adalah buah dari proses panjang, usaha sungguh-sungguh, dan perjuangan. Untuk sampai pada derajat takwa, seorang hamba perlu menapaki beberapa tangga. Salah satu tangga yang sangat penting adalah sifat wara’.
Dalam perjalanan hidup para ulama salaf, kita sering mendapatkan dalam biografi hidup mereka seorang ulama yang alim at-taqi al-warî seorang yang alim, bertakwa, dan memiliki sifat wara’. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan antara wara’ dan takwa.
Apa itu wara'? Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan dan agama, termasuk perkara mubah yang bisa menyeret pada hal yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa hadis ini mencakup secara sempurna makna wara’.
Sifat wara’ mencakup seluruh aspek aktivitas manusia. Ucapan dengan meninggalkan perkataan yang sia-sia. Penglihatan dan pendengaran dengan menjauhi tontonan dan suara yang tidak berguna. Tangan dan kaki dengan menghindari perbuatan atau langkah yang membawa kepada maksiat. Pikiran dengan menjauhi memikirkan yang tidak ada manfaatnya bahkan yang haram dalam agama.
Meninggalkan semua hal yang tidak bermanfaat dari perkataan, pendengaran, penglihatan, perbuatan tangan, langkah kaki, semua gerak-garik kita, zahir dan batin, itulah sifat wara. Dengan demikian seorang akan bisa naik derajatnya sampai kepada derajat takwa. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Tidak akan sampai seorang hamba kepada derajat takwa yang sesungguhnya sampai dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada masalah (mubah). Tapi yang demikian itu bila dapat menjerumuskan seseorang ke dalam hal yang berbahaya. Apalagi perkara-perkara yang jelas haramnya.
Seorang mukmin seharusnya memiliki positive thinking — berpikir tentang bekal akhirat, keselamatan di alam barzakh, dan kemungkinan meraih surga. Inilah bentuk kesadaran hakiki dari seorang yang wara’.

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik dalam mempraktikkan wara’. Mereka bahkan meninggalkan 70 hal yang halal karena khawatir terjatuh ke dalam yang haram. Betapa besar kehati-hatian mereka demi menjaga kemuliaan iman dan amal. Sebagian mereka mengatakan,
كُنَّا نَتْرُكُ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ الْحَلَالِ خَوْفًا أَنْ نَقَعَ فِي بَابٍ مِنَ الْحَرَامِ
“Kami meninggalkan 70 bab pembahasan tentang halal karena khawatir terjerumus ke dalam satu pintu perkara haram.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Qayyim dalam Madarijus Salikin)
Bandingkan dengan zaman kita hari ini, ketika banyak orang justru meremehkan yang haram dan menyia-nyiakan yang halal. Maka, sifat wara’ adalah pelindung yang sangat dibutuhkan agar kita tidak tergelincir. Oleh karena itu, sifat wara ini harus kita pupuk, kita sirami terus dalam hati kita agar derajat takwa yang merupakan derajat tertinggi dalam kehidupan seorang mukmin, kemuliaan yang tertinggi itu bisa kita raih. Tentu demikian itu bukan berleha-leha, bukan berdiam diri, tapi berusaha dan terus menanamkan sifat takut kepada Allah dan ingat kepada negeri akhirat. Dan sebelumnya ingat tentang perjalanan kita di alam barzakh, bila selamat di alam barzakh, tentu akan selamat melanjutkan perjalanan dan lebih ringan tentunya untuk melewati jembatan yang dibentangkan di atas neraka untuk sampai ke surga.
Manfaat Sifat Wara'
Menurut Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, wara’ memiliki banyak manfaat besar, di antaranya:
1. Menjaga Kehormatan Diri
Sifat wara’ akan menjaga kemuliaan dan harga diri seorang hamba. Diri ini adalah suatu yang mulia, yang berharga yang kita miliki. Maka seorang yang mengenal kemuliaan, kebesaran, dan keagungan diri yang dia miliki, dia akan menjaganya. Apabila seorang tidak mengenal keagungan dirinya, kemuliaan dirinya yang harus dijaga dan dipelihara dari berbagai hal yang akan menodai kesuciannya, maka dia tidak peduli, bahkan dia akan menjerumuskan dirinya ke dalam hal-hal yang akan membahayakan, dia akan terjatuh ke dalam perkara-perkara dosa yang akan menodai hati dan jiwanya.
2. Menambah dan Memperkuat Amal Kebaikan
Dengan kita meninggalkan hal yang tidak bermanfaat akan mendapatkan peluang yang lebih besar untuk menambah hal yang positif, yaitu kebaikan. Tapi bila disia-siakan dan dibuang untuk hal-hal yang tidak berguna, maka akan berkurang kesempatan untuk melakukan kebaikan. Begitu juga untuk mempertahankan hal-hal yang positif yang telah kita lakukan, maka dengan meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, kita mendapatkan kesempatan untuk mempertahankan hal yang positif ini. Bahkan untuk melengkapkan hal-hal yang kurang dari kebaikan kita.
3. Menjaga dan Memelihara Iman
Iman bisa bertambah dan berkurang. Seseorang yang melakukan hal-hal yang tidak berguna atau tidak ada masalah yang menjerumuskan dia ke dalam perbuatan haram sehingga dia terjerumus berantan dosa, maka tentu akan menodai hati dan jiwanya. Dosa tersebut bila dilakukan akan menudai hati. Bila dia bertobat, beristigfar pening kembali. Dia kembali lagi buat dosa, maka akan bertambah lagi bintikan hitam, noda hitam sehingga menyelimuti hati tadi sampai berkarat.
Sifat wara’ adalah bekal penting untuk meraih derajat takwa yang sesungguhnya. Derajat yang menjadikan seorang hamba mulia di sisi Allah. Namun, ini bukan hasil dari leha-leha, melainkan dari mujahadah dan kesungguhan dalam menanamkan rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan akhirat.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik dan inayah kepada kita semua untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan memiliki sifat wara’. Amin.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Baca juga: Fakirnya Hati dan Ketakwaan Hati



