Daftar Isi
Keutamaan Orang yang Merealisasikan Tauhid
Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh bentuk ibadah, tanpa mencampuradukkannya dengan kesyirikan. Inilah tujuan utama penciptaan manusia: untuk beribadah hanya kepada-Nya. Orang-orang yang bertauhid dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari akan mendapatkan keutamaan dan keistimewaan besar, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Ayat ini menegaskan bahwa keimanan yang murni, tanpa dicampuri kesyirikan, akan menjadi sebab seseorang mendapatkan rasa aman di hari kiamat, aman dari azab neraka, dan mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Yang dimaksud dengan kezaliman pada ayat ini adalah syirik, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa kezaliman yang dilakukan manusia di muka bumi terbagi menjadi tiga:
Kezaliman terbesar, yaitu menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah yang dimaksud dalam QS. Al-An’am ayat 82.
Kezaliman terhadap diri sendiri, yaitu meninggalkan ketaatan kepada Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah.
Kezaliman kepada orang lain, yaitu berbuat aniaya terhadap sesama.
Hadits-hadits tentang Keutamaan Kalimat Tauhid
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق، والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العملمن شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق، والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل
“Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, serta kalimat yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga dan neraka itu benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai amal yang telah ia kerjakan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini merupakan persaksian terhadap tauhid dan pengakuan akan kebenaran seluruh ciptaan Allah Azza Wa Jalla. Seseorang yang mentauhidkan Allah dan mengimani apa yang disebutkan dalam hadits ini akan dimasukkan ke dalam surga, meskipun tingkatan surganya bergantung pada amal perbuatan di dunia.
Adapun isi persaksian tersebut mencakup keyakinan bahwa:
- Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala.
- Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Nabi dan Rasul-Nya.
- Nabi Isa ‘Alaihissalam adalah hamba dan Rasul-Nya.
- Surga dan neraka adalah benar adanya.
Seseorang yang meyakini semua perkara yang telah disebutkan di atas, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga-Nya, sesuai dengan amal yang telah ia perbuat ketika di dunia.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang kemuliaan orang yang bertauhid di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), dengan tujuan mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengesakan-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memberikan perhatian yang besar terhadap masalah tauhid.

Inilah dakwah pertama yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaumnya ketika diutus menjadi Rasul:
أيُّها النَّاسُ قولوا لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ تُفلِحوا
“Wahai manusia, ucapkanlah Laa ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Ibnu Ishaq)
Seorang muslim yang beriman kepada Allah Azza Wa Jalla hendaknya menguatkan tauhid dalam setiap ibadahnya. Dikisahkan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menderita sakit yang sangat berat menjelang wafat, beliau tetap mendakwahkan tauhid dan memperingatkan para sahabat dari kesyirikan, bahkan di saat-saat sulit.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Ketika kematian datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau meletakkan kain wol bergaris pada wajahnya. Saat merasa sesak, beliau membukanya dan bersabda: Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” Beliau memperingatkan agar umatnya tidak meniru perbuatan mereka. (HR. Bukhari dan Muslim).
Penting bagi setiap muslim untuk bertauhid dan menjauhi segala bentuk kesyirikan kepada Allah Jalla Wa ‘Ala. Banyak hadits yang menjelaskan keutamaan orang yang mentauhidkan Allah.
Di antaranya adalah hadits tentang seseorang yang diampuni dosanya di hari kiamat:
“Seorang laki-laki dari umatku akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Dibentangkan 99 catatan amalnya, setiap catatan sejauh mata memandang. Allah bertanya: Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatan ini? Dia menjawab: Tidak, wahai Rabbku. Allah bertanya lagi: Apakah para malaikat pencatat amal berlaku zalim kepadamu? Dia menjawab: Tidak. Allah berfirman: Sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan yang masih tercatat, dan tidak ada kezaliman atasmu hari ini. Lalu dikeluarkanlah sebuah kartu yang bertuliskan Asyhadu an laa ilaha illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Catatan-catatan dosa diletakkan di satu sisi timbangan, dan kartu tersebut di sisi lain. Ternyata, kartu syahadat itu lebih berat hingga mengalahkan seluruh catatan dosanya.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Ahmad).
Hadits ini menunjukkan betapa agungnya tauhid dan keutamaan kalimat Laa ilaha illallah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Baca Juga: Jaminan Pasti bagi yang Bertauhid
Kalimat Tauhid sebagai Penggugur Dosa
Selain menjadi penyelamat bagi orang yang berpegang teguh kepadanya, kalimat tauhid juga mampu menggugurkan dosa-dosa, asalkan diucapkan dengan penuh keyakinan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, Nabi Musa ‘Alaihissalam berdoa kepada Allah Ta’ala agar diajarkan sebuah kalimat yang agung untuk berzikir dan berdoa:
يَا رَبِّ، عَلِمْنِيْ شَيْئاً أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوْكَ بِهِ
Musa berkata, “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah Laa ilaha illallah.”
Musa berkata, “Wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkannya.”
Maksudnya, Nabi Musa ‘Alaihissalam menginginkan zikir khusus baginya karena beliau adalah salah satu Rasul Ulul ‘Azmi dan penerima Kitab Taurat. Namun, Allah menjelaskan keutamaan kalimat tauhid:
“Wahai Musa, seandainya tujuh langit dan seluruh penghuninya selain Aku, serta tujuh bumi diletakkan pada satu sisi timbangan, dan Laa ilaha illallah diletakkan di sisi lainnya, maka Laa ilaha illallah akan lebih berat.” (HR. Ibnu Hibban).
Tidak hanya itu, rahmat Allah begitu luas hingga seorang hamba yang datang kepada-Nya dengan dosa sepenuh bumi tetap akan diampuni, selama ia tidak menyekutukan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu engkau bertemu dengan-Ku tanpa menyekutukan-Ku sedikit pun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi)
Inilah keistimewaan kalimat tauhid—sebuah kalimat agung yang mampu menghapus dosa sebesar gunung dan menjadi sebab luasnya rahmat Allah Ta’ala bagi hamba-Nya. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak sepatutnya berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman:
“Katakanlah (wahai Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Az-Zumar: 53).
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam merealisasikan tauhid, hingga kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai di surga-Nya.
Wallahu A’lam.



