spot_img
BerandaFiqih dan MuamalahKeutamaan Menuntut Ilmu

Keutamaan Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi seorang muslim, hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah]

Sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (Agama), maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim no. 2699]

Jika kita ingin masuk surga maka langkah awal yang harus kita lakukan adalah mengetahui dan mengerti jalan ke surga, dan kita tidak akan mengetahui hal tersebut kecuali dengan ilmu, maka dari itu Imam Madkhul Rahimahullah mengatakan,

مَنْ ذَهَبَ إِلَى عِلْمٍ يَتَعَلَّمُهُ، فَهُوَ فِيْ طَرِيْقٍ إِلَى الجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya ingin mendatangi ilmu yang dengan ilmu tersebut ia mengilmuinya, maka sesungguhnya dia sedang berjalan menuju surga sampai ia pulang ke rumah.”

Para Penuntut Ilmu Didoakan Oleh Penghuni Langit Dan Penghuni Bumi

Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia.” [HR. At-Tirmidzi no. 2685]

Seseorang tidak mungkin mengajarkan ilmu kecuali harus menuntut ilmu terlebih dahulu. Mengapa hewan-hewan mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan ilmu?, Apakah ada keuntungan yang mereka peroleh sehingga mereka mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan ilmu?, maka jawabannya iya, mereka mendapatkan manfaat dari adanya para pengajar kebaikan, dengan adanya para pengajar kebaikan hewan-hewan tidak terlanggar haknya, karena pengajar kebaikan mengajarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diantara hadits Nabi adalah,

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ. فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika engkau menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaknya seorang menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihannya itu.” [HR. Muslim no. 1955]

Dan juga alasan yang lain adalah Allah Ta’ala tidaklah menahan hujan dari langit kecuali karena dosa-dosanya anak Adam, hewan-hewan akan melaknat para ahli dosa dari anak Adam, karena jika banyak pelaku dosa, Allah menahan hujan turun ke bumi, dan dengan adanya para pengajar kebaikan tadi yang mengajarkan agar tidak melakukan dosa ini dan itu kemudian didengarkan oleh manusia dan dituruti, maka Allah Ta’ala turunkan hujan kepada mereka, itulah sebab mengapa para hewan mendoakan kebaikan bagi para penuntut ilmu dan orang yang mengajarkan ilmu.

Baca Juga: Motivasi Mendalami Ilmu

Perintah Menuntut Ilmu Allah Dahulukan Sebelum Perintah Mentauhidkan-Nya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” [QS. Muhammad: 19]

Pada ayat di atas diperlihatkan bahwa ilmu lebih didahulukan daripada mentauhidkan Allah, padahal tauhid merupakan dakwahnya para nabi dan rasul dari nabi Adam sampai nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Taghut”. [QS. An-Nahl: 36]

Seluruh nabi memiliki misi menyeru manusia untuk menyembah Allah Ta’ala, tapi misi ini terhenti jika tidak didahului dengan ilmu. Maka tidak heran jika imam Bukhari mengatakan di awal kitabnya yaitu Shohih Bukhari “باب العلم قبل القول والعمل” yaitu bab Ilmu harus didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.

Pahala Menuntut Ilmu Tidak Akan Terputus Jika Ilmu Tersebut Adalah Ilmu Yang Bermanfaat

Ketika seseorang menuntut ilmu kemudian mengamalkan ilmu tersebut, maka meskipun kain kafannya ketika meninggal telah rusak dan tulang belulangnya telah hancur, maka pahalanya akan terus mengalir.

Di dalam hadits riwayat imam Muslim Rahimahullah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholeh yang mendoakannya” [HR. Muslim no. 1631]

Kita berusaha agar bisa memberikan ilmu yang bermanfaat walaupun hal yang kecil, seperti contoh kita pergi ke kajian kemudian mendapatkan ilmu tentang adab makan dan minum harus dengan tangan kanan, kemudian ketika pulang ke rumah kita mengajari anak kita untuk makan dan minum dengan tangan kanan, dan ketika kita telah meninggal dunia dan anak kita tetap mengamalkan apa yang kita ajarkan berupa makan dengan tangan kanan tadi, maka kita terus mendapat pahala.

Tidak semua orang Allah Ta’ala berikan karunia berupa tiga hal di atas, maka ambillah yang paling tengah (ilmu) in syaa Allah kita akan mendapatkan semuanya, bagaimana itu bisa terjadi?, ketika kita tidak memiliki anak, maka kita mengasuh anak yatim dan mengajarinya, kemudian ketika kita meninggal, anak yatim tersebut mendoakan kebaikan untuk kita, maka ini akan sampai dan mengalir pahalanya kepada kita, dan juga kita mengajarkan kepada murid-murid kita untuk bersedekah, maka ketika mereka bersedekah kita juga mendapatkan pahala dari sedekah mereka meskipun kita telah meninggal dunia.

Allah Mengangkat Derajat Para Penuntut Ilmu

Orang yang menuntut ilmu tidak akan dihinakan oleh Allah Azza wa Jalla apabila niatnya jujur dan ikhlas dalam menuntut ilmu, Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Mujadalah: 11]

Allah Ta’ala tidak pernah menzholimi para penuntut ilmu bahkan kafir sekalipun, contohnya adalah Thomas Alva Edison seorang penemu lampu yang sampai saat ini kita ketahui namanya dan diajarkan di sekolah-sekolah, ini semua karena Allah mengangkat derajatnya di dunia, dan derajatnya diangkat oleh Allah karena dia berilmu.

Bahkan anjing sekalipun, jika ia berilmu maka akan Allah angkat derajatnya. Anjing itu selalu dijadikan Allah dan Rasullullah sebagai permisalan yang jelek, contohnya ketika anjing menjilat suatu bejana maka bejana tersebut harus dicuci 7 kali salah satunya dengan tanah, dan juga Rasulullah mengatakan bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan rupaka (gambar) bernyawa, dan juga Rasulullah mengatakan tentang orang yang memberi kemudian mengambil kembali pemberiannya seperti anjing yang menjilat muntahnya.

Akan tetapi ada dua poin dimana anjing itu dinaikkan derajatnya oleh Allah Azza wa Jalla, yang pertama Al Kalbu Al Mu’allam (anjing yang terlatih), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَآ أُحِلَّ لَهُمۡۖ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّيِّبَٰتُ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُۖ فَكُلُواْ مِمَّآ أَمۡسَكۡنَ عَلَيۡكُمۡ وَٱذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ٤

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya’.” [QS. Al-Ma’idah: 4]

Anjing yang semulanya najis, ketika dilatih sampai menjadi muallam atau terlatih maka Allah angkat derajatnya dengan menjadikan buruannya halal, dan anjing yang terlatih dalam berburu itu adalah anjing yang ketika dilepas ia mencari mangsanya kemudian menerkamnya, merobek daging magsanya dan mengalirkan darahnya tanpa memakan sedikit dari daging mangsanya, kemudian langsung menyerahkannya kepada tuannya, maka inilah anjing yang terlatih.

Kemudian anjing yang kedua adalah anjing yang disebutkan dalam cerita Ashabul Kahfi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظٗا وَهُمۡ رُقُودٞۚ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ وَكَلۡبُهُم بَٰسِطٞ ذِرَاعَيۡهِ بِٱلۡوَصِيدِۚ لَوِ ٱطَّلَعۡتَ عَلَيۡهِمۡ لَوَلَّيۡتَ مِنۡهُمۡ فِرَارٗا وَلَمُلِئۡتَ مِنۡهُمۡ رُعۡبٗا١٨

“Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur, dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.” [QS. Al-Kahf: 18]

Didalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan kata kalbun (anjing) dalam kontek kebaikan, dan Allah tidak pernah menyebutkan anjing dalam kontek kebaikan kecuali dalam surah Al-Kahf ini, dan sebabnya adalah karena anjing tersebut berteman dengan orang-orang sholeh. Jadi jika kita ingin diangkat derajatnya oleh Allah Ta’ala maka tuntutlah ilmu dan bertemanlah dengan orang sholeh.

menuntut ilmu

Terbebas Dari Laknat

Dunia dan isinya ini terlaknat kecuali orang yang mengajarkan ilmu dan yang menuntut ilmu, di dalam hadits disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Ketahuilah bahwasannya dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah, dan yang mendukung hal tersebut, seorang yang berilmu atau penuntut ilmu.” [HR. Tirmidzi]

Maka kita di dalam keseharian kita jangan sampai menyisakan waktu untuk menuntut ilmu, akan tetapi sediakan waktu untuk menuntut ilmu agar kita tidak terlaknat.

Orang Yang Berilmu Lebih Utama Daripada Ahli Ibadah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewarisi ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar”. (HR. Abu Dawud no. 3641)

Allah Ta’ala Tidak Pernah Menyuruh Rasulullah Untuk Meminta Tambahan Kecuali Ilmu

Tidak ada di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, Allah memerintahkan Rasulullah untuk meminta tambahan kecuali ilmu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا١١٤

“dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku’.” [QS. Taha: 114]

Allah Ta’ala Memberi Syarat Orang Yang Takut Kepada Allah Dengan Syarat Ilmu

Kerena tanpa ilmu tidak akan ada orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” [QS. Fatir: 28]

Allah Ta’ala Menjadikan Tanda Kebaikan Seseorang Adalah Dengan Dilapangkannya Hatinya Dalam Menuntut Ilmu

Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika cinta dengan seorang hamba, Allah memberikan tanda kepada hamba tersebut, dan diantara tandanya adalah hamba tersebut semangat dalam menuntut ilmu, sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Ilmu Adalah Warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Pernah suatu ketika Abu Hurairah melihat orang-orang sibuk di pasar, maka ia datang ke pasar dan mengatakan “Wahai manusia sekalian, bagaimana kalian masih di sini sedangkan warisan Rasulullah sedang dibagikan di masjid?”, kemudian berangkatlah orang-orang pasar tadi ke masjid, dan ketika sampai di masjid mereka tidak menemukan orang-orang yang sedang membagikan dinar ataupun dirham,

kemudian mereka kembali ke pasar dan berkata kepada Abu Hurairah “Wahai Abu Hurairah, engkau berkata warisan Rasulullah sedang dibagikan tapi kami tidak menjumpai orang-orang yang sedang membagikan harta di sana”, kemudian Abu Hurairah bertanya kembali “Lalu apa yang kalian temukan di sana?”, mereka menjawab “Kami hanya menemukan orang-orang yang membacakan hadits Nabi dan sebagian ada yang mendengarkan”, kemudian Abu Hurairah berkata “Itulah warisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi]

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img