spot_img
BerandaKhutbah JumatKewajiban Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Kewajiban Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Tidak ada sebuah nasehat dan wasiat yang ingin kita sampaikan dikesempatan yang mulia ini kecuali nasihat keistiqomahan mendengar dan taat kepada kepemimpinan bapak presiden kita. Dikarenakan Ahlussunnah Wal Jama’ah menjelaskan kepada kita di dalam kitab-kitabnya bahwasanya umat Islam wajib hukumnya mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin.

عليكم بالسمع والطاعة

“Wajib atas kalian mendengar dan taat kepada pemimpin”

Pemimpin kaum muslimin tidak terlepas dari tiga kondisi, yaitu

  • Pemimpin yang muslim, Shaleh dan Adil didalam menjadi pemimpin, maka wajib hukumnya mendengar dan taat serta haram hukumnya untuk kita memberontak.
  • Pemimpin yang, fasik, Dzalim dan tidak memiliki keahlian dalam memimpin pemerintah, maka wajib hukumnya mendengar dan taat serta haram hukumnya untuk kita memberontak
  • Pemimpin yang kufur. Dan Para Ulama membahas panjang lebar Apakah boleh kaum muslim memberontak ataukah tidak? Hukumnya boleh jika terdapat empat syarat yang mereka bisa menegakkannya dari salah satunya, jika tidak ada maka haram hukumnya untuk memberontak.

Ulama kita Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mereka hidup di zaman tabi’in bahkan para sahabat tabiut tabi’in dan sampai zaman kita saat ini. Didalam kitab-kitab mereka menjelaskan kepada kita semuanya bahwasannya pokok ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah mendengar taat kepada pemimpinnya yang sah dan yang dipilih oleh rakyatnya  meskipun seorang tersebut yang rusak agamanya, termasuk orang yang dzalim dalam mengambil harta rakyatnya.

Syaikh Abdul Malik Rabbani di dalam bukunya Al-Wilayatul Kubro menjelaskan bahwasannya ada enam bentuk muamalah seorang rakyat kepada pemimpinnya diantaranya adalah tidak bolehnya kaum muslimin memberontak dan melepaskan baiatnya dari pemimpin mereka. Dan inilah yang dijadikan oleh ulama kita sebagai pembeda antara Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan mereka orang-orang khawarij, dengan mereka orang-orang memiliki pemahaman yang radikal. Nabi kita Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo'akan kalian dan kalian mendo'akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda: “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka” (HR. Muslim).

Kewajiban Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Sabda Nabi yang mulia Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan sebuah jawaban kepada kita khususnya dizaman kita sekarang. Zaman yang dipenuhi dengan fitnah dan kerusakan dimana-mana. Dan tidaklah kita melihat berbagai macam perkara kita ingkari kejelekan dan keburukannya yang sangat banyak sampai tidak bisa kita sebutkan satu-persatu.

Ini adalah ujian bagi kita kaum muslimin khususnya, kita yang menisbatkan diri kepada Islam yang sesuai sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.  Jika kita mengaku umat Nabi Alaihi Shalatu Wassalam dan mengaku hamba Allah Azza Wa Jalla, maka wajib untuk kita mengambil pelajaran dari sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam. tidaklah nabi berbicara berdasarkan hawa nafsunya, akan tetapi yang beliau ucapkan adalah wahyu yang nantinya akan datang kemenangan dari pertolongan dari allah Azza Wa Jalla jika kita bersabar, bersabar dan terus bersabar diatas mereka.

Kemudian di dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh yang Al-Imam Bukhari bahwasannya Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengatakan,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang tidak menyukai kebijakan amir (pemimpinnya) hendaklah bersabar, sebab siapapun yang keluar dari ketaatan kepada amir sejengkal, ia mati dalam jahiliyah” (HR. Bukhari No. 6530).

Akan terus menjadi problematika kehidupan kita dinegara ini apabila kita berbicara masalah politik tentunya lisan ini senantiasa akan basah dengan berbagai macam data-data yang dikemukakan yang itu semuanya tajam kebawah tumpul keatas. Apa sikap kita? Bersabarlah kalian sampai Allah Ta’ala berikan jalan keluar bagi kalian. Al-Imam Al-Barbahari mengatakan didalam kitabnya Syarahussunnah,

من خرج على إمام من أئمة المسلمين فهو خارجي

“Barangsiapa yang keluar dari kepemerintahannya kaum muslimin bahkan sampai dia memberontak kepada pemerintah kaum muslimin, Maka dia itulah orang Khawarij” (Al-Imam Al-Barbahari, Syarah Sunnah).

Atau orang yang radikal dan termasuk orang yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.  Sungguh dia telah mencerai-beraikan persatuan kaum muslimin dan mereka juga menyelisihi sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Dan kematiannya adalah kematian Jahiliiyah serta haram hukumnya untuk memerangi pemerintahan kaum muslimin yang sah dan haram hukumnya untuk memberontak kepada pemerintah kaum muslimin meskipun pemimpin tersebut berbuat dzalim.

Tidak termasuk didalam sunnah seseorang memberontak atau bahkan memerangi seorang pemimpin dan apabila ini terjadi maka rusaklah sebuah negara dan agama yang mana ini semua bisa kita lihat didalam sejarah. Tidak ada satu pemimpin yang digulingkan dengan cara memberontak dan dengan cara kudeta, kecuali akan datang zaman setelahnya lebih buruk dan terpuruk.

Ini termasuk kedalam perkara usul adalah perkara yang harus kita pegang, yang harus kita Tanamkan dengan benar didalam hati kita. Jangan sampai kita goyah dengan berbagai macam slogan-slogan yang menipu, lantas bagaimana ketika kita mendapati berbagai macam keputusan yang jelek, yang buruk atau bahkan melanggar syariat.

Apakah dibolehkan kita mendemo? bolehkah bagi kita untuk menggerakkan massa, provokasi massa untuk menggulingkan mereka yang ada di tampung pemerintahan? Kita kembalikan kepada ulama kita dan dalil,  jadi jangan sampai kita berbicara berdasarkan hawa nafsu, berdasarkan perasaan dan lain sebagainya. Kita umat islam yang mempunyai rujukan Alquran dan hadits-hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam serta para sahabat yang mereka menjadi Qudwah.

Baca Juga: Seberapa Penting Patuh Terhadap Pemimpin?

Imam Ahmad Rahimahullah Ta’ala diuji oleh Allah dengan ujian yang begitu Dahsyat. Apakah terucap melalui lisannya Untuk mengerahkan massa memberontak kepada Pemimpin kaum muslimin ketika itu ataukah Imam Ahmad justru bersabar. Dan berapa lama Imam Ahmad bersabar dalam menghadapi kepemerintahan yang rusak bahkan kewajiban bagi rakyatnya untuk mengikuti akidah Mu’tazilah yang kelompok tersebut meyakini bahwasannya Al-Qur’an adalah makhluk. Apakah Imam Ahmad menyuruh mereka untuk memberontak? Sekali-kali tidak, Ini merupakan qudwah kita.

Hukum demo didalam Islam tidak dibenarkan sama sekali dan bukan Manhaj Ahlussunnah Wal jama’ah, walaupun yang diserukan benar karena sesungguhnya tidaklah demo yang dilakukan oleh mereka kaum muslimin kecuali akan berbuntut panjang dan itu akan menimbulkan banyak kerusakan dimana-mana.

Yang namanya demo, ini merupakan ciri khas dari Manhaj khawarij yang mereka mempunyai pemahaman radikal, yang bermudah-mudah untuk mencela Pemimpin kaum muslimin dan memberontak serta mengangkat senjata bahkan tidak ada malunya mencela habis-habisan dimedia sosial dan publik. Ahlussunnah Wal jama’ah tidak demikian yang mana mereka mengajarkan kepada kita tatkala kita melihat kemungkaran dari pemimpin kita maka hendaknya kita memberikan nasehat.

bagaimana caranya, apakah terang-terangan dan mengerahkan massa? Tidak, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita untuk mengambil tangannya, duduk berdua dan empat mata ketika kita menasehati seorang pemimpin. Ini yang diajarkan Rasulullah dan diterapkan oleh para sahabatnya Radhiyallahu Anhu kepada kita semuanya dalam menasehati pemimpin. Bukan dengan cara mengerahkan masa, mengajak anak-anak muda yang tidak tahu apa-apa yang mana mereka masih belum tahu masalah politik dikerahkan semuanya untuk ambisi hawa nafsunya.

Jika seorang jujur menginginkan kebaikan dan kebenaran tidak mungkin dia melalui cara tersebut dan jika batinnya jujur menginginkan keamanan bagi seluruh negeri ini. Pasti dia akan menasehati pemimpin dengan cara yang baik serta dia akan meminta tolong kepada para ulama yang dekat dengan kepemerintahan untuk memberikan nasehat dan jika dia tidak mampu pasti akan meminta tolong kepada mereka yang ahli pada bidangnya untuk memberikan nasihat dalam segala permasalahan.

Bukan dia yang tidak tahu apa-apa seketika itu mengangkat bendera dengan berbagai macam warnanya atau almamater, kemudian serempak maju di tempat tertentu untuk menyampaikan inspirasi dan aspirasinya.

Ini semua bukan dari agama kita dan tidak termasuk dari sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, Oleh karena itu Cukuplah kita menjadikan takut terhadap apa yang disabdakan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,

“Barangsiapa yang keluar sejengkal dari kepemerintahan kaum muslimin Sungguh nanti jika dia mati, maka dia meninggal di atas jahiliyah” (HR. Bukhari).

Kita melihat berapa banyak nyawa yang melayang dengan kasus yang barusan kita dengar. Yang mana lebih berharga darah seorang mukmin disisi Allah daripada permasalahan dunia yang sepele. Apakah dengan cara seperti ini kita menghalalkan darah seorang yang dia masih beriman? Apa dengan cara seperti ini kita rela mengadu domba atau mencerai-beraikan kesatuan umat islam? Tidak, Oleh karena itu berkata Imam Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah Ta’ala,

لا يجوز الخروج على الأئمة وإن عصوا ، بل يجب السمع والطاعة في المعروف مع المناصحة ولا تنزعن يدا من طاعة

“Tidak boleh hukumnya untuk memberontak kepada Pemimpin kaum muslimin sekalipun pemimpin tersebut melakukan berbagai macam kemaksiatan, bahkan sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk tetap mendengar dan taat pada perkara yang baik yang tidak bertentangan dengan diiringi dengan memberikan nasihat kepada mereka dengan cara yang baik. Jangan sekali-kali kalian melepaskan diri dari ketaatan kepada pemimpin” (https://binbaz.org.sa/discussions/66).

Jangan sampai hidup kita yang sekali ini kita nodai dengan pemahaman khawarij. Sebagaimana kita tahu khawarij adalah Anjingnya neraka, tidaklah mereka menginginkan sesuatu kecuali sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya. Adapun kita Ahlussunnah Wal jama’ah menginginkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bagaimana caranya? Dengan menjalankan kehidupan sesuai tuntunan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img