spot_img
BerandaAdab dan AkhlakMenyambut Bulan Al-Muharram

Menyambut Bulan Al-Muharram

Perlu kita ketahui bahwasannya sebentar lagi kita berjumpa dengan salah satu bulan yang Allah muliakan, yaitu bulan Al-Muharram. Salah satu keutamaan bulan-bulan hijriyah yang mana dikhususkan padanya suatu kemuliaan, karena terdapat peluang menggapai ganjaran yang besar dengan melaksanakan amal-amal shalih.

Seorang pengusaha dalam menjalankan bisnisnya memiliki strategi dalam mensukseskan bisnisnya dan begitu pula seorang petani misalnya, mereka mencari peluang diwaktu waktu yang sangat menguntungkan jika mereka menjual hasil tanian mereka. Mereka bersungguh sungguh dan memiliki persiapan agar tidak merugi, namun itu semua adalah perkara dunia. Dan sesungguhnya kita harus mempersiapkan diri kita jika ada suatu peluang yang sangat menguntungkan dihadapan kita.

Salah satu hikmah dibalik bulan-bulan yang Allah muliakan adalah didalamnya terdapat amalan-amalan mulia yang tidak ada di bulan-bulan yang lainnya. Contohnya bulan Ramadan yang mana bulan tersebut Allah muliakan, maka seorang muslim harus menyambutnya. Karena kemulian bulan tersebut datangnya dari Allah maka dari itu kita harus menyambut bulan yang Allah muliakan tersebut dengan cara-cara menyambut yang Allah ridhoi yaitu dengan contoh Rasul-Nya. Seperti berpuasa, salat tarawih, bersedekah, dan amal salih lainnya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam.

Menyambut Bulan Ramadhan

Kita sambut bulan yang mulia ini dengan memperbanyak amal salih. Bukankah Allah berfirman di surat Al-Hujurat ayat 16 :

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat : 13)

Yang paling bertakwa yaitu yang paling banyak amal salihnya dan tentu sesuai sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman dalam ayat lain :

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk : 2)

Pada ayat ini Allah mengatakan akan menguji hamba hamba-Nya agar mengetahui amalan siapakah diantara mereka yang paling baik disisi Allah. Jadi amalan ini akan menghasilkan kemuliaan disisi Allah yang akan kita dapatkan jika kita mengamalkannya.

Terdapat hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim)

Keikhlasan dalam beramal meskipun sedikit Allah akan menerimanya dan secara dzohir amalannya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bukti kita menyambut bulan bulan yang dimuliakan oleh Allah yaitu dengan amal amal salih yang kita kerjakan didalamnya. Terdapat dalil yang menunjukkan kemuliaan bulan Al-Muharram yaitu di surat At-Taubah ayat 36 :

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah : 36)

Diantara 4 bulan yang dimuliakan oleh Allah adalah bulan Al-Muharram. Pada ke empat bulan yang dimuliakan itu Allah melarang hambanya berlaku dzalim pada dirinya sendiri. Dzalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, Allah melarang kedzaliman pada setiap waktu, namun kedzaliman yang dilakukan pada empat bulan yang dimuliakan oleh Allah sungguh lebih besar dosanya

Baca Juga : Muharram Adakah Yang Spesial

Beberapa Cara Menyambut Bulan al-Muharram

Terdapat beberapa cara dalam menyambut bulan Al-Muharram ini :

  1. Menyambut dengan meningkatkan amal salih dan menahan diri dari bersikap dzalim

Para ‘Ulama menjelaskan makna dzalim yang dilarang pada 4 bulan haram diantaranya adalah tidak memulai peperangan dengan orang kafir harbiy, namun jika orang kafir harbiy tersebut menyerang memulai peperangan maka harus dibalas. Makna kedzaliman yang lain adalah seseorang mendzalimi dirinya sendiri dengan tidak melaksanakan perintah perintah Allah dan tidak meninggalkan segala hal yang Allah larang. Makna lain dari kedzaliman adalah tidak mendzalimi orang lain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“jauhkan dirimu dari perbuatan dzalim, karena sesungguhnya kedzaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.” (H.R Muslim)

Kedzaliman yang kita lakukan kepada orang lain akan mengakibatkan pahala amal salih kita akan terkuras dan kelak kita akan merugi. Jika kita tidak mau keluarga kita didzalimi lalu kenapa kita mendzalimi orang lain, jika kita tidak mau harta kita dirampas dicuri oleh orang lain lalu kenapa kita mendzalimi orang lain dengan merampas harta orang lain yang bukan hak kita. Dan untuk orang yang terdzalimi maka hendaknya ia berbahagia karena di akhirat kelak seluruh dosanya akan terhapuskan, serta di dunia do’anya akan dikabulkan oleh Allah ta'ala sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :  

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah.” (H.R. Muslim)

Maka hendaknya kita berhati hati berbuat dzalim karena bisa jadi orang yang kita dzalimi tidak memiliki kemampuan untuk membalas, namun bisa jadi dia mengangkat kedua tangannya berdoa dan tidak ada yang dapat menghalangi terkabulnya do’a orang yang terdzalimi meskipun orang yang terdzalimi itu adalah orang kafir.

Bapak ibu yang dirahmati oleh Allah ta'ala kedzaliman yang dilakukan pada hari hari diluar bulan haram memiliki dampak yang sangat mengerikan, lalu bagaimana dengan kedzaliman yang dilakukan pada bulan bulan yang dimuliakan oleh Allah ta'ala.

al-muharram
  1. Menyambut bulan Al-Muharram dengan berpuasa

Jika kita ingin menyambut bulan Al-Muharram hendaknya kita berpuasa pada bulan tersebut, terdapat hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).

Para ‘Ulama menyebutkan berdasarkan keumuman konteks hadits ini bermakna kita dapat berpuasa berapa saja pada bulan Al-Muharram tanpa ada batasan tertentu. Namun tidak boleh kita melaksanakan puasa dengan niat menyambut tahun baru islam diawal bulan Al-Muharram jika berpuasanya diluar niat tersebut maka tidak mengapa. Berpuasa kapan saja di bulan Al-Muharram secara umum diperbolehkan dan secara khusus terdapat puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura`dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.” (H.R. Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita akan larangan menyerupai orang kafir dalam ibadah mereka. Disaat Rasulullah mengetahui bahwa orang Yahuid dan Nasrani menganggungkan hari ke 10 bulan Al-Muharram maka Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya akan melaksanakan puasa ‘Asyuro dan ditambah puasa satu hari sebelumnya yaitu puasa Tasu’a di tahun yang akan datang. Namun belum sampai waktunya Beliau r lebih dahulu wafat. Meskipun Rasulullah tidak melaksanakan puasa Tasu’a akan tetapi Beliau sudah menyampaikannya kepada para sahabatnya maka jadilah puasa Tasu’a merupakan rangkaian puasa khusus yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah Rasulullah mengatakan bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam akan melaksanakan puasa ‘Asyuro dan Tasu’a di tahun yang akan datang para sahabat pun menanyakan mengenai keutamaan dari puasa tersebut. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan keutamaan kedua puasa tersebut :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

Dalam hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai keutamaan hari ‘Asyuro ini :

إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَ مَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Sesungguhnya hari ‘Asyuro merupakan salah satu hari dari hari hari yang Allah muliakan, barangsiapa yang hendak (puasa) maka dia berpuasalah dan barangsiapa yang hendak (tidak berpuasa) maka ia tinggalkan puasa itu”. (H.R. Muslim)

Pada hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa hari ‘Asyuro merupakan salah satu hari yang dimuliakan oleh Allah ta'ala dan hukum berpuasa pada hari itu adalah sunnah muakkadah sangat dianjurkan seklai karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersungguh sungguh dalam beramal salih terutama berpuasa di hari ‘Asyuro itu.

Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah inilah cara cara kita sebagai muslim dalam menyambut bulan Al-Muharram. Dan bukan hanya dengan puasa saja dalam menyambut bulan Al-Muharram ini tentunya dengan amal salih yang lainnya pula. Wallohu ta’ala a’lam.

Ustadz Aunurofiq Ghufron, Lc.

Baca Juga: Perjalanan Bulan-Bulan Haram Telah Dimulai

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img