BerandaKhutbah JumatMenyelami Ayat-Ayat Puasa

Menyelami Ayat-Ayat Puasa

Pecinta Al-Iman rahimaniy wa rahimakumullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita nikmat Agung, yaitu kita dapat berjumpa dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Semoga Allah menambah dan mudahkan kita menjalankan amal saleh, serta memudahkan kita menjalankan ibadah puasa dan amal-amal yang lainnya. Semoga Allah menambahkan nikmat-Nya untuk kita semua. Dan tak lupa, semoga bisa lebih maksimal dalam menjalankan dan semua amal kita diterima di sisi-Nya. Allahumma Amin.

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada keluarganya kepada semua para sahabatnya, dan umatnya yang setia sampai hari kiamat. Pecinta Al-Iman rahimaniy wa rahimakumullah, sebaik-baik tema yang kita bahas pada bulan Ramadan berkaitan dengan Al-Quranul Karim.

Kita membaca ayatnya, kita memahami maknanya, dan hal lainnya yang berkaitan dengan bulan Ramadan. Oleh karena itu, kita akan membahas salah satu ayat yang yang sudah kita hafal. Namun perlu kita baca, perlu kita pahami, dan kita ambil pelajarannya untuk menambah dan menguatkan perjalanan ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada bulan yang mulia ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ  ١٨٣

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan kepada kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian Agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183)

Panggilan Kasih Sayang


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ …

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! …”


Di dalam ayat ini mengandung banyak pelajaran, isyarat, dan hikmah penting. Isyarat Pertama, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memanggil setiap orang. Namun Allah hanya memanggil orang-orang khusus, orang-orang pilihan, yaitu hanya orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, panggilan ini adalah panggilan kasih sayang. Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu’anhu mengatakan,

إذا سمعت الله يقول ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا﴾ فأرعها سمعك ، فإما خير تؤمر به أو شر تنهى عنه ،

“Apabila engkau mendengar firman Allah, Wahai orang-orang yang beriman! Maka perhatikan kalian karena setelah itu akan ada kebaikan yang Allah perintahkan atau ada keburukan yang Allah larang.”

Bahwasanya kita adalah para hamba Allah yang dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu panggilan iman. Maka hendaknya kita bahagia dengan panggilan ini. Dan kita berusaha untuk menjadi orang-orang dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesugguhnya nikmat paling agung di dunia adalah Nikmatul imannya.

إن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لا يحب ، ولا يعطي الإيمان إلا من أحب

“Sesungguhnya Allah memberikan nikmat dunia kepada siapa saja, baik yang Dia cintai ataupun tidak. Akan tetapi Allah tidak memberikan nikmat Iman kecuali hanya kepada orang-orang yang Allah cintai.” HR. Imam Hakim, Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihahnya.

Kemudian isyarat yang kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil orang-orang yang beriman hanya karena mereka orang-orang yang mau tunduk dan taat ketika diperintahkan, menjauhi sesuatu ketika dilarang, dan beriman ketika diberikan berita oleh Allah dan Rasul-Nya baik bersifat ghaib ataupun nyata. Semua itu tidaklah dilakukan, kecuali hanya orang-orang yang beriman saja.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! penuhilah seruan Allah dan rasul-Nya apabila menyeru kalian, memanggil kalian, kepada apa yang memberikan kehidupan bagi kalian.” (QS. Al-Anfaal ayat 24)

Sesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan badan fisik itu dinikmati oleh makhluk-makhluk yang lainnya. Bukan hanya manusia. Namun kehidupan yang berpusat pada keadaan hati seseorang sehingga menghadirkan keimanan. Maka itu tidak dimiliki dan tidak diperoleh, kecuali hanya orang-orang yang beriman bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pecinta Al-Iman yang semoga dirahmati Allah, mari kita tanamkan dalam diri kita. Panggilan ini untuk kita dan kewajiban bagi kita. Kemudian kita berusaha untuk memenuhi panggilan Allah apabila memanggil dengan firman dan ketetapan-Nya, panggilan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam apabila memanggil dengan sabda dan perbuatannya.

Kemudian isyarat ketiga, tatkala Allah memanggil,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ …

Ini menunjukan bahwa amal para hamba akan diterima oleh Allah dan bermanfaat apabila didasari dengan iman. Maka amal yang akan bermanfaat bagi seorang pada kiamat kelak adalah amalan orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, iman kepada hari akhir, dan iman terhadap semua yang diwajibkan untuk diimani oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menyelami ayat-ayat puasa

Puasa adalah Ibadah Istimewa


… كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ …

Artinya: “… Telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa …”


Maka di sini minimal ada dua isyarat dan hikmah penting. Yang pertama, bahwasanya ibadah puasa itu bukan ibadah biasa tapi ibadah yang sangat Agung dan merupakan salah satu dari ibadah-ibadah yang wajib. Tatkala ibadah itu hukumnya wajib, maka seorang hamba tidak boleh sembarangan dalam mengamalkannya. Dia harus berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankannya karena amal yang wajib itu merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits Qudsi

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ،

“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” HR. Imam Bukhari 6502 dalam Fathul Bari (11/348).

Dalam penggalan firman-Nya yang pertama, sesungguhnya ada amalan yang bersifat kewajiban dan ada pula yang bersifat mustahabbat. Namun pada dasarnya, setelah iman dan tauhid adalah dia menjaga amalan-amalan yang wajib, seperti shalat wajib, zakat, kemudian puasa. Selain itu, akan jauh lebih mulia lagi ketika ditambah dengan amalan-amalan sunnah. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits Qudsi

… وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ،

“… dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amal-amal sunnah sehingga Aku mencintainya.”

Pecinta Al-Iman rahimaniy wa rahimakumullah, kemudian isyarat yang kedua. Bahwasanya ibadah puasa ibadah wajib maka dia dimuliakan secara luar biasa dan dijalankan dengan maksimal. Di dalamnya ada keikhlasan yang murni, yang tidak terdapat pada ibadah-ibadah yang lainnya. Potensi untuk melakukan riya' pada ibadah yang lainnya sering muncul akan tetapi ibadah puasa ini lebih mungkin untuk mengikhlaskan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga pahalanya dilipatgandakan oleh-Nya tanpa batas. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam hadits Qudsi tentang balasan yang dijanjikan-Nya

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ تعالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ،

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Imam Bukhari 1761 dan Muslim 1946).

Berdasarkan dalil diatas, maka seluruh amalan anak Adam akan dibalas 10 atau 700x lipat, namun puasa akan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan balas tanpa batas sesuai kualitas ibadah puasa yang dikerjakannya. Sesungguhnya puasa merupakan ruh daripada kesabaran. Dimana seorang muslim harus bersabar menjalankan ketaatan, bersabar untuk menjauhi larangan, dan bersabar dalam menghadapi hal-hal yang berat. Sebagaimana dalam firman-Nya

… إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ  ١٠

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar ayat 10).

Semua amalan tersebut terkumpul menjadi satu dalam ibadah puasa. Dan diantara kesabaran yang paling mulia adalah seseorang bersabar dalam menjalankan ibadah puasa beserta konsekuensi yang ada didalamnya. 

Menyelami ayat-ayat puasa

Mencapai Ketakwaan Tertinggi bersama Umat Terdahulu


… كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ …

Artinya: “… sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu …”


Allah mewajibkan kepada kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka ketika seorang hamba meyakini bahwa ibadah puasa telah menjadi wajib. Hal ini akan memunculkan semangat, keikhlasan, dan membuahkan kesungguhan dalam diri seorang hamba untuk menjalankan syariat ini sesuai tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan begitu kita akan memiliki perasaan kuat bagaimana puasa ini agar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Perasaan ini pula yang akan muncul jika berkaitan dengan ibadah-ibadah yang lain. Maka jangan lupa, ketika kita berpuasa hadirkanlah niatnya baik dan bagaimana caranya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam begitu pula ibadah-ibadah semuanya. Sesungguhnya seluruh ibadah akan ditanya dua hal, apa niat kita menjalankan? dan bagaimana kita menjalankan? 

Imam Syafi'i rahimahullahu berkata,

آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ ، وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وبِما جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، عَلَى مُرَادِ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،

“Aku beriman kepada Allah dan semua yang datang dari Allah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan semua yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Kembali kepada lanjutan firman Allah, bahwasanya ibadah puasa juga diwajibkan atas orang-orang sebelum kita. Ayat ini mengandung pelajaran penting. Pertama, agar ada munafas, yaitu itu berlomba-lomba bahwasanya ibadah ini bukan hanya kita saja menjalankan. Tetapi Allah juga mensyariatkan kepada umat terdahulu. Maka diharapkan kita berlomba-lomba untuk mencapai tingkat ketakwaan yang maksimal.

Di samping itu, Pecinta Al-Iman rahimany wa rahimakumullah bahwasanya berita dari Allah tentang puasa ini juga disyari'atkan pada umat terdahulu agar ada dalam diri kita Al-Khiffah, yaitu rasa ringan. Ternyata ibadah ini tidak hanya dibebankan kepada kita, namun juga umat terdahulu. Mereka kuat dalam menjalankannya, umat yang lainnya pun juga kuat. Maka kita akan kuat dengan ringan. Dan dikatakan,

فإن التكاليف إذا عامات خفت كما أن المصائب إذا عامات خفت

“Bahwasanya suatu beban apabila umum dilakukan orang banyak, itu akan terasa ringan. Begitu pula suatu musibah apabila banyak orang yang merasakannya, tidak seorang diri maka akan terasa ringan.”

Para pecinta Al-Iman, apabila ada rasa berat dalam suatu amal. Maka kita mengamati bagaimana umat terdahulu yang Allah perintahkan ibadah seperti kita. Lihatlah bagaimana para Nabi? Bagaimana para Rasul? Bagaimana para Sahabat? Ibadah apa saja ketika kita merasa lemah. Maka lihatnya orang-orang yang mulia dalam mengamalkannya. Hal ini akan mendorong kita untuk beramal dan akan lebih meringankan dalam menjalankannya.

Baca Juga : Bacalah Al-Quran di Waktu Terbaik

Meraih Kemenangan Sejati


… لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ  ١٨٣

Artinya: “… agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah ayat 183


Kemudian ujung dan tujuannya dari syari'at Islam adalah agar kita menjadi orang-orang bertakwa kepada Tujuan ibadah puasa adalah menggapai ketakwaan. Sedangkan ketakwaan yang dimaksudkan agar dengan puasa ini, kita bisa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Seluruh hal tersebut kita jalankan dengan dorongan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan iman dan berharap semata-mata hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian kita jalankan berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka tujuan puasa ini lebih maksimal terwujud dalam bulan Ramadan.

Segala macam amal kebaikan menjadi hidup dan segala larangan berkurang tertutup. Seorang muslim lebih bisa mengikhlaskan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita bisa berusaha mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Bukanlah seorang muslim, ketika diperintahkan untuk berpuasa namun dia menambahkan waktu puasanya hingga akhir sholat tarawih karena merasa masih kuat dalam menahan lapar.

Sesungguhnya aturan konsep dasarnya adalah bagaimana niat kita benar dan tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bagaimana caranya sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Wallahu A’lam

Ustadz Abdul Rohman Hadi, Lc.

Baca Juga: Puasa Ramadhan dan Tauhid

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img