Daftar Isi
Di antara hal penting yang wajib dimiliki setiap hamba Allah dalam beribadah adalah keikhlasan hati. Ini merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya amal ibadah:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, menjaga niat adalah hal yang wajib senantiasa dihadirkan, diperbaiki, dan dijaga dalam setiap ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk langkah-langkah agar kita bisa mendapatkan keikhlasan di dalam kita mengerjakan ibadah kepada Allah subhanahu wa Ta'ala, di antaranya sebagai berikut:
1. Memperbanyak Doa Memohon Keikhlasan
Keikhlasan adalah perkara yang berat. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي لانها تتقلب علي
“Aku tidak pernah mengobati sesuatu pada diriku yang lebih berat daripada mengobati niatku, karena niatku senantiasa berubah-ubah.” (Hilyatul Auliya, 10/121)
Maka menjaga niat adalah perkara yang sulit, perkara yang berat. Sedangkan kita adalah makhluk manusia yang lemah. Maka senantiasa kita hadirkan rasa butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah subhanahu wa ta’ala berikan kita niat-niat yang ikhlas tatkala kita beribadah kepadanya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun sering berdoa:
اللهم اجعل عملي كله صالحًا، واجعله لوجهك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا
“Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, jadikan ia ikhlas hanya untuk-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun untuk selain-Mu.” (HR. Ahmad)
Menjaga niat merupakan perkara yang berat, maka hendaknya kita senantiasa mohonkan dalam setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala memohon agar Allah memberikan keikhlasan dalam kita beribadah kepada-Nya.
2. Menyembunyikan Amal Ibadah
Beramal secara tersembunyi membantu menjaga hati dari riya’. Hendaknya kita berusaha untuk membiasakan beramal dan menyembunyikan amal ibadah kita. Dengan kita menyembunyikan amal ibadah kita dari pendengaran dan penglihatan manusia, maka hal ini jauh akan memberikan kita kemudahan untuk kita menjaga hati-hati kita agar kita senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Tatkala kita beribadah kepada Allah, cukuplah kita dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu. Kita yakini bahwasanya Allah adalah Dzat yang maha mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan. Maka ini cukup untuk kita jadikan pegangan dalam hidup kita. Allah berfirman:
قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 29)
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan beribadah secara tersembunyi.” (HR. Muslim)
Dan Nabi ﷺ menyebutkan dalam sebuah hadis, di antara golongan yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah golongan orang-orang yang senantiasa memiliki ibadah yang berusaha untuk dia sembunyikan. Nabi menyebutkan dalam sebuah hadis,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara yang disebutkan oleh Nabi ﷺ adalah seorang yang bersedekah dengan sebuah sedekah kemudian dia sembunyikan sedekah tersebut sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya. Maka penting untuk kita punya ibadah yang senantiasa kita cukupkan Hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahuinya. Ini akan menjadikan kita ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Merasa Amal Ibadah Masih Kecil
Memandang ibadah sendiri sebagai sesuatu yang kecil dibanding amal orang-orang saleh terdahulu dapat menutup pintu ujub (bangga diri). Nabi ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: (1) kekikiran yang ditaati, (2) hawa nafsu yang diikuti, (3) kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Al-Bayhaqi)
Maka tatkala kita menanamkan dalam diri kita pandangan bahwasanya apa yang kita kerjakan tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan oleh orang-orang terdahulu, orang-orang yang hebat dalam ibadahnya, maka ini bisa menutup pintu ujub dalam diri kita dan kita terjauh dari hal tersebut sehingga kita mudah untuk menjaga keikhlasan kita dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

4. Menanamkan Rasa Takut Amal Tidak Diterima
Agar kita senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan kita menanamkan rasa khawatir dalam diri-diri kita setelah kita beramal. Rasa khawatir Allah tidak menerima amal ibadah yang kita kerjakan kepadanya. Tidak ada yang menjamin amal ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka tatkala kita menanamkan dalam diri kita perasaan khawatir, takut kalau amal kita tidak diterima oleh Allah, maka ini juga bisa menjadikan kita lebih mudah untuk menjaga keikhlasan dalam kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Alqur'an, Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut karena mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai ayat ini (Walladzina yu`tuna mā ataw waqulubuhum wajilah), apakah yang dimaksud dengan ayat ini ialah orang berzina dan meminum khamar atau mencuri, dan karena itu ia takut kepada Tuhan dan siksa-Nya? Pertanyaan ini dijawab oleh Rasulullah, “Bukan demikian maksudnya, wahai putri Abu Bakar ash-Shiddiq. Yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengerjakan salat, berpuasa dan menafkahkan hartanya, namun dia merasa takut kalau-kalau amalnya itu termasuk amal yang tidak diterima.
Justru mereka itu adalah orang-orang yang berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan, bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Jadi orang-orang yang berlomba-lomba semangat dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kemudian mereka kemudian takut khawatir amal ibadah mereka tidak diterima oleh Allah. Itulah yang dimaksud dalam ayat tadi.
5. Tidak Mengharap Pujian Manusia
Ibadah bukan untuk validasi manusia. Pujian tidak menambah pahala, celaan tidak mengurangi nilai ibadah. Manusia bukanlah tujuan dalam kita mengerjakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Manusia bukan penentu kebenaran. Manusia bukan pemegang kunci surga dan neraka. Maka jangan jadikan manusia sebagai tujuan dalam kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seandainya kita tahu betapa cepatnya manusia melupakan kita setelah kita meninggal dunia, maka tidak akan pernah terbesit dalam hati kita rasa ingin mendapatkan pujian dari manusia tatkala kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Nabi ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Mayit diikuti tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, satu akan tinggal: keluarganya dan hartanya kembali, amalnya yang tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kita berusaha tatkala kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata-mata hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Keikhlasan adalah hal yang harus senantiasa kita jaga dalam kita beribadah kepada Allah subhanahu wa taala. Keikhlasan adalah perkara yang berat. Maka penting bagi kita untuk senantiasa berusaha untuk mewujudkan dan menjaganya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita semua amal-amal ibadah yang senantiasa kita kerjakan ikhlas karenanya dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima setiap amal ibadah yang kita kerjakan kepadanya.
Baca juga: Amalan Yang Dicintai Allah



