Di tengah derasnya arus zaman dan beragamnya pemikiran yang berkembang, tidak sedikit manusia yang tersesat dalam mencari kebenaran. Jalan yang samar, syubhat yang bertebaran, serta pemikiran yang menyimpang menjadikan sebagian hati kehilangan arah.
Namun, bagi mereka yang tulus mencari kebenaran, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah lentera yang tidak pernah padam, dan pemahaman para sahabat radhiyallahu’anhum adalah kompas yang paling lurus dalam meniti jalan tersebut.
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami bagaimana manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan perkara akidah, agar iman tetap kokoh dan tidak terombang-ambing oleh gelombang bid’ah dan pemikiran menyimpang.
Daftar Isi
Pondasi Ahlussunnah dalam Akidah
Ahlus Sunnah memiliki beberapa landasan utama dalam menetapkan akidah, di antaranya:
1. Beriman, Tunduk, dan Mengagungkan Nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
Seorang muslim wajib menerima seluruh nash dengan penuh keimanan, ketundukan, dan pengagungan tanpa menolaknya atau meremehkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36).
2. Mengumpulkan Seluruh Nash dalam Satu Pembahasan
Dalam memahami suatu masalah akidah, seluruh dalil yang berkaitan harus dikumpulkan, kemudian dipahami secara utuh dengan metode yang benar, bukan parsial.
3. Berpegang Teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
Keduanya adalah sumber petunjuk dan cahaya yang menerangi jalan kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka berpegang teguhlah kamu kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43)
4. Memahami Nash Berdasarkan Pemahaman Sahabat
Pemahaman para sahabat adalah standar dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah, karena mereka adalah generasi terbaik yang menyaksikan langsung turunnya wahyu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Mengembalikan Makna kepada Bahasa Arab
Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka pemahamannya harus dikembalikan kepada kaidah bahasa Arab yang benar.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).
Baca Juga: Metode Ahlussunnah dalam Menetapkan Permasalahan Akidah
Kaidah Turunan dalam Manhaj Ahlus Sunnah
Dari pondasi tersebut, lahir beberapa kaidah penting:
1. Menetapkan dan Menafikan Sesuai Dalil
Ahlus Sunnah menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, menafikan apa yang dinafikan, serta diam dalam perkara yang tidak dijelaskan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)
2. Tidak Ada Pertentangan antara Nash dan Akal Sehat
Ahlus Sunnah meyakini bahwa tidak mungkin ada kontradiksi antara dalil yang shahih dengan akal yang sehat.
Jika tampak bertentangan, maka:
- Bisa jadi dalilnya tidak shahih
- Atau akalnya yang rusak/terpengaruh hawa nafsu
Karena Allah adalah Pencipta akal dan Penurun wahyu.
3. Akal Memiliki Batas
Akal memiliki kedudukan, namun tidak boleh melampaui batas, terutama dalam perkara ghaib.
Perkara ghaib tidak bisa dijangkau oleh akal karena tidak dapat diindera.
Bahaya Mendahulukan Akal atas Wahyu
Berbeda dengan Ahlus Sunnah, sebagian kelompok menyimpang justru:
- Mengagungkan akal secara berlebihan
- Mendahulukannya di atas nash
- Menakwilkan dalil sesuai hawa nafsu
Ini adalah bentuk ghuluw (berlebihan) yang tercela.

Penyimpangan Kontemporer: Reinterpretasi Nash
Di zaman ini muncul pemikiran berbahaya yang dikenal dengan istilah “reinterpretasi teks” (إعادة فهم النص).
Hakikat Pemikiran Ini
- Menolak pemahaman sahabat
- Menganggap tafsir sahabat tidak relevan
- Mengajak menafsirkan ulang sesuai zaman modern
Tokoh-tokohnya dikenal sebagai:
- Kaum modernis
- Kaum liberal
- Kaum pembaharu
Bantahan Terhadap Reinterpretasi Nash
Pemikiran ini menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah karena:
1. Termasuk Bid’ah yang Tidak Pernah Ada
Tidak dikenal pada tiga generasi terbaik.
Dalil: “Sebaik-baik kalian adalah generasiku…” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Menyelisihi Perintah Mengikuti Sahabat
Wajib memahami agama sesuai pemahaman mereka.
3. Termasuk Tahrif (Penyelewengan Makna)
Setiap orang bebas menafsirkan tanpa kaidah melahirkan banyak makna yang menyimpang.
Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Ma’idah: 13)
4. Membuka Pintu Kerusakan
Menjadikan nash sebagai permainan hawa nafsu.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dengan kitab itu Allah memberi petunjuk… dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.” (QS. Al-Ma’idah: 16).
Sudah sepatutnya kita meneguhkan langkah di atas manhaj yang lurus:
- Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
- Memahami keduanya sesuai pemahaman sahabat
- Menjauhi bid’ah dan penyimpangan pemikiran
Semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran dan menjadikan ilmu sebagai cahaya dalam kehidupan kita.
Dinukil, diringkas, dan dialihbahasakan dari:
Kitab Akidah Jilid 1 – Zad Academy
Oleh: Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.



