spot_img
BerandaKhutbah JumatNabi Muhammad ﷺ yang Menjadi Rahmat bagi Alam Semesta

Nabi Muhammad ﷺ yang Menjadi Rahmat bagi Alam Semesta

Salah satu sifat mulia dalam Islam adalah sifatur rahmah (sifat kasih sayang). Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan untuk diri-Nya sifat rahmah. Setiap hari kita mengikrarkan dalam Al-Fatihah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Fatihah: 1-2)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah juga menetapkan sifat rahmat untuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفًا رَحِيمًا

“Dan Muhammad itu adalah sangat pengasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Umat Islam pun diperintahkan untuk memiliki sifat rahmat, agar saling mengasihi. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَـٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi)

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Rahmat bagi Alam Semesta

Manusia yang paling penuh rahmat adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ayat ini memberi kabar bahwa diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmat bagi seluruh alam. Barang siapa menerimanya dengan syukur, ia akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, yang mengingkarinya akan celaka di dunia dan akhirat.

Makna Rahmat dalam Islam

Rahmat dalam Islam berarti ishālul khairi lil makhlūq — menyampaikan kebaikan kepada makhluk. Rahmat dapat berupa harta, ucapan, ilmu, bimbingan, maupun amal kebaikan lainnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-‘Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad menjelaskan bahwa kedermawanan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mencakup empat hal mulia:

  1. Dermawan dengan jiwanya, berjuang di jalan Allah.
  2. Dermawan dengan hartanya, hingga beliau tidak takut kefakiran.
  3. Dermawan dengan kedudukan dan posisinya.
  4. Dermawan dengan petunjuk serta bimbingannya.

Semua itu adalah bagian daripada rahmatul Islam yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan beliau tunaikan untuk umatnya.

Rahmat Islam: Kasih Sayang Nabi Muhammad ﷺ yang Menjadi Rahmat bagi Alam Semesta

Rahmat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam

Bentuk rahmat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat luas, di antaranya:

1. Rahmat kepada Orang Tua

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya berbakti dan melarang durhaka kepada orang tua. Beliau bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

“Celaka seseorang yang mendapati orang tuanya lanjut usia, salah satu atau keduanya, namun tidak menjadi jalan baginya masuk surga…” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim)

Ini bagian daripada rahmat Islam yang diajarkan Nabi agar kita memiliki rahmat kasih sayang kepada kedua orang tuanya. Terutama ketika mereka sudah sampai pada usia lanjut yang sangat membutuhkan butuh pantuan anak-anaknya.

2. Rahmat kepada Anak Yatim dan Orang Lemah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    اَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
    وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

    “Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini.”

    Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah, lalu merenggangkan keduanya sedikit. (HR. Bukhari)

    Karena anak yatim mereka adalah orang-orang yang lemah. Mereka kehilangan orang-orang yang memberikan nafkah dan kebaikan kepadanya. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agar mereka punya andil untuk memberikan kebaikan, rahmat, tanggungan kepada anak-anak yatim. Ini bagian daripada rahmatul Islam yang Allah syariatkan kepada orang yang mampu kepada orang-orang yang lemah.

    3. Rahmat melalui Syariat Islam

    Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

    “Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa.” (HR. Ibn Majah, Ahmad)

    Tatkala Nabi menyampaikan syariat secara sempurna, harapannya adalah agar umat ini menjalankan agamanya baik dalam akidah, ibadah, muamalah, dan dalam apapun agar merasa cukup dengan syariat yang diajarkan Nabi. Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala memperingatkan umatnya dari perkara-perkara baru dalam agama, dari perkara bidah itu bukan karena kekerasan Nabi, tapi itu bagian daripada kasih sayang Nabi agar mereka tidak capek dalam beramal lalu amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah.

    4. Rahmat dengan Peringatan dari Syirik

    Di antara bentuk kasih sayang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kepada umatnya dari segala perkara yang bisa merusak akidahnya, yang bisa menjerumuskan mereka dalam perbuatan-perbuatan kesyirikan. Semua itu adalah bentuk kasih sayang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kalau ada orang tua melihat suatu yang bahaya, lalu kemudian orang tuanya membiarkan anaknya jatuh dalam bahaya, maka itu bukan orang tua yang sayang kepada anaknya. Akan tetapi orang tua yang sayang kepada anaknya ketika melihat bahaya, baik bahaya pada akidahnya, bahaya pada fisiknya, pasti akan mengingatkan dengan segala jalan bagaimana supaya anaknya tidak jatuh dalam bahaya. Begitu pula Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam Karena kasih sayang beliau mengingatkan umatnya jangan sampai berbuat kesyirikan sehingga semua pintu yang mengarahkan kepada kesyirikan diperingatkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Tatkala harus mengingatkan umatnya dari perbuatan kesyirikan bukan karena beliau kasar, bukan karena beliau itu keras, tapi itu justru karena kasih sayangnya. Bagaimana umatnya ini agar imannya benar, imannya lurus, agar ibadahnya murni kepada Allah, tidak menyembah kepada selain Allah, agar menjadi hamba-hamba Allah tidak menjadi hamba para makhluk Allah. Karena lihat realitanya manusia, sejak dahulu kala ada orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang itu sebenarnya memudaratkan agamanya. Ada orang-orang yang bergantung dengan akik. Diperingatkan Nabi sallallahu alaihi wasallam

    مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

    “Barang siapa menggantungkan jimat, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)

    Ini Nabi mengingatkan supaya apa? Supaya umatnya selamat. Begitu pula Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya dari segala pintu yang bisa menjerumuskan kepada kesyirikan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا

    “Jangan jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan.” (HR. Abu Dawud)

    5. Rahmat dalam Perang

    Bahkan saat perang, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh anak-anak, wanita, orang tua, dan rahib di biara. Beliau juga melarang menebang pohon yang berbuah. Ini menunjukkan bahwa rahmat Islam berlaku bahkan dalam kondisi perang.

    Rahmat Islam: Kasih Sayang Nabi Muhammad ﷺ yang Menjadi Rahmat bagi Alam Semesta

      Rahmat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmat yang sempurna, meliputi akidah, ibadah, muamalah, hingga adab dalam kondisi damai maupun perang. Namun, kalau kita lihat diri kita, lihat perilaku orang-orang yang menisbatkan kepada Islam kadang masih jauh dari gambaran dan keindahan Islam. Sehingga berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:

      لَا تَقِيسُوا الإِسْلَامَ بِمَا عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ الْيَوْمَ

      “Janganlah kalian mengukur Islam dengan keadaan kaum Muslimin hari ini.”

      Kenapa? Karena banyak hal-hal dari syariat ini yang kadang-kadang ditinggalkan dan banyak dari larangan-larangan yang kadang diterjang.  Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita taufik untuk kembali kepada agama-Nya, meneladani rahmat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta menutup hidup kita di atas Islam dan sunnah.

      Baca juga: Allah Al-Ghani: Allah Maha Kaya

      ARTIKEL TERKAIT

      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      spot_img