BerandaKhutbah JumatMensyukuri Nikmat Hidayah

Mensyukuri Nikmat Hidayah

Pantaslah seorang hamba senantiasa mensyukuri nikmat Allah subhanahu wata’ala yang telah dianugerahkan kepada kita, terutama nikmat hidayah petunjuk Allah Azza wa Jalla. Sehingga kita dilahirkan dari keluarga muslim dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan hal-hal wajib yang kita Imani.

Nikmat Allah yang Tak Terhitung

Hidayah adalah nikmat terbesar yang Allah subhanahu wata’ala berikan kepada hamba-Nya di muka bumi ini. Tiada nikmat yang lebih besar daripada Hidayat tersebut. Pengaruh dan bekasnya dalam kehidupan sehari-hari di dunia adalah mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa. Allah subhanahu wata'ala mengingatkan kita akan nikmat hidayah dalam firman-Nya surat Ali Imron ayat 103.

وَاعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰهِ جَمِيۡعًا وَّلَا تَفَرَّقُوۡا‌ ۖ وَاذۡكُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡ اِذۡ كُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَ لَّفَ بَيۡنَ قُلُوۡبِكُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِهٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَكُنۡتُمۡ عَلٰى شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَكُمۡ مِّنۡهَا ‌ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُوۡنَ

Artinya : “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Maka Allah subhanahu wata’ala mengingatkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka mensyukuri nikmat berupa hidayah Iman dan Islam. Mensyukuri nikmat akan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju ilmu, dari  kesyirikan kepada tauhid. Oleh karena itu, seyogyanya sebagai orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla untuk memeluk agama ini dengan menjalankan perintah-Nya dan berpegang teguh kepada sunnah nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala menjelaskan bahwasanya hidayah dan iman yang diberikan kepada seorang mukmin murni karunia Allah subhanahu wata’ala.  Dan Allah menegur sebagian orang yang menganggap bahwa dengan mereka memeluk agama Islam maka mereka ikut andil dalam membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam surat al-Hujurat ayat ke-17, Allah subhanahu wata'ala berfirman :

يَمُنُّوۡنَ عَلَيۡكَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا‌ ؕ قُلْ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَىَّ اِسۡلَامَكُمۡ‌ ۚ بَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ اَنۡ هَدٰٮكُمۡ لِلۡاِيۡمَانِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ صٰدِقِيۡنَ

Artinya : “Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.”

Baca Juga: Janganlah Engkau Seperti Dia

Hidayah Iman dan Islam

Hidayah yang dimaksud adalah Hidayah Iman dan Islam. Allah subhanahu wata’ala menancapkannya kepada hati-hati kaum muslimin.  Iman dan Islam itu merupakan jalan yang lurus, jalan yang menuju keridhaan dan kecintaan Allah subhanahu wata'ala. Tiada jalan yang menyampaikan seorang hamba kepada Allah subhanahu wata'ala, kecuali dengan jalan Iman dan Islam. Serta dengan jalan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dengan berjalan diatasnya akan mengantarkan seorang muslim menuju surga Allah Azza wa Jalla. Dalam  surat al-Fushilat ayat ke-30, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

اِنَّ الَّذِيۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَلَا تَحۡزَنُوۡا وَاَبۡشِرُوۡا بِالۡجَـنَّةِ الَّتِىۡ كُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Begitu pula dalam surat al-An’am ayat ke 153, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِىۡ مُسۡتَقِيۡمًا فَاتَّبِعُوۡهُ‌ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ

Artinya : “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”

Jalan yang lurus adalah al-Quranul Karim dan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Artinya : “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadits Shahih Lighairihi, HR Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).

Sungguh telah melalui dan menempuh hidayah dan jalan yang telah ditetapkan Allah subhanahu wata’ala dari kalangan Salafus Shalih. Mereka meraih keuntungan dan kemenangan dari Allah subhanahu wata'ala. Sabagaimana dalam surat at-Taubah ayat ke-100, Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya : “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Maka dari itu pembaca yang budiman, orang yang ingin mendapatkan ridho dan cinta Allah subhanahu wata’ala tidak mungkin dia memilih jalan yang lain, kecuali jalan yang telah dilalaui oleh orang-orang terdahulu dari kalangan Salaf Shalih yang mengikuti as-Qur’an dan as-Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mugnkin ada diantara kita, sebagian orang-orang yang lalai atas nikmat ini. Hidup dengan selalu mencari uang dan dunia, tetapi lupa akan Allah subhanahu wata'ala. Sesungguhnya nikmat hidayah ini adalah nikmat yang akan diketahui oleh seorang hamba tatkala ia menghadapi permasalahan-permasalahan yang besar, tatkala ia menghadapi peristiwa-peristiwa yang besar, tatkala ia menghadapi ketakutan yang besar.

Maka orang yang benar-benar mensyukuri, menjalani, dan mengamalkan hidayah ini, berupa Islam yang diikuti oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik. Maka mereka akan mendapatkan jalan keluar dari Allah subhanahu wata'ala atas segela permasalahannya. Allah subhanahuwata'ala menghibur orang-orang yang beriman di saat manusia dalam keadaan sedih.

Dengan mereka senantiasa Ingat kepada Allah maka Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan dunia ini menjadi kecil di matanya. Ketahuilah dengan Hidayah ini pula ketika seseorang berada dalam kondisi sakaratul maut maka didatangkan lah kepadanya seorang malaikat yang mengabarkan kabar gembira berupa surga yang telah dijanjikan.

Demikian pula, apabila seseorang benar-benar melaksanakan dan mengamalkannya maka hidayah tersebut akan menerangi kuburannya dan menetapkan lisannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat. Akan tetapi apabila seseorang lalai dan lupa, bahkan tidak pernah memberikan waktu untuk agamanya, ibadahnya, dan menuntut. Dia akan merasakan penyesalan yang tidak akan pernah terbayar oleh apapun.

Maka dari itu, saat kita masih diberikan kesempatan Allah subhanahu wata'ala untuk menuntut ilmu dan mengikuti hidayat al-Qur’an dan as-Sunnah. Marilah kita datangi, karena suatu saat kita akan ditanyain akan nikmat-nikmat yang pernah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana dalam surat at-Takatsur ayat ke 8, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Artinya : “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”

Mensyukuri Nikmat Hidayah

Jangan Sia-Siakan Umur yang Tersisa

Para pembaca yang budiman, manfaatkanlah sisa umur yang ada, manfaatkanlah akal yang masih sehat, dan manfaatkanlah hati yang masih terdapat Iman didalamnya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata'ala, kembali kepada majelis-majelis ilmu yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan menjelaskan kepada kita ilmu mengenai adab dan akhlak Islam. Ketahuilah bahwasanya nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

إنَّ الإيمانَ ليَخلَقُ في جوفِ أحدِكم كما يَخْلَقُ الثوبُ ، فاسأَلوا اللهَ أن يُجدِّدَ الإيمانَ في قلوبِكم

Artinya : “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang didalam hati-hati kalian sebagaimana usangnya pakaian-pakaian maka Mintalah kepada Allah untuk memperbarui iman-iman dalam hati-hati kalian.” (Lihat Silsilah Shohihah no. 1585)

Sebagaimana dalam urusan dunia ketika seseorang memiliki kebun jeruk maka setiap hari dia akan mengunjunginya, merawatnya, menyiramnya sehingga ia memperoleh manfaat dari apa yang ditanamnya. Namun kenapa dengan pohon iman yang ada di dalam hati kita. Kita membiarkannya tidak terawat, gersang dan akhirnya mati. Bukan pohon keimanan inilah yang akan mengantarkan seseorang menuju keridhoan dan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu sudah saatnya untuk kita memperhatikan iman kita. Sesungguhnya dengan kita menghadiri majelis ilmu dan pencerahan. Maka dengan itu pula kita mulai merawat dan menyirami pohon keimanan kita agar senantiasa hidup dan nantinya memberikan manfaat kepada kita.

Wallahu a’lam.

Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I

Baca Juga: Berdoalah Dengan Kegigihan Karena..

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img