BerandaKhutbah JumatBelajar dari Hujan

Belajar dari Hujan

Diantara nama-nama Allah yang agung adalah Al Hakim Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha bijaksana artinya bahwasanya segala yang datang dari Allah pasti ada hikmah, kebaikan, dan pelajaran-pelajaran dibalik semua. Sehingga seorang muslim pada setiap keadaan yang telah Allah kehendaki bisa menjadikannya sebagai penambah iman, bagian dari ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, seperti halnya Peristiwa turunnya hujan.

Hujan adalah Rahmat Allah

Berkaitan dengan peristiwa turunnya hujan. Sesungguhnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut. Yang pertama, bahwasanya Hujan merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta'ala yang agung. Maka hendaknya kita bersyukur atas turunnya hujan. Dengan turunnya hujan tumbuh-tumbuhan bisa tumbuh berkembang, seluruh makhluk Allah mendapatkan air yang bersih. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan bahwasanya air hujan merupakan salah satu air yang mengandung keberkahan didalamnya. Dengan adanya hujan udara menjadi sejuk yang bermanfaat bagi seluruh makhluk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semua itu tidak terlepas dari kebaikan yang Allah kehendaki atas setiap makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat ke 28

وهو الذي ينـزل الغيث من بعد ما قنطوا وينشر رحمته وهو الولي الحميد

Artinya: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.”

Dalam realitanya pada musim sebelumnya kita merasakan hawa yang panas, tumbuhan-tumbuhan tidak dapat tumbuh subur, hingga pada suatu daerah tidak bisa mendapatkan air karena kekeringan. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang maha Rahman dan Rahim menurunkan hujan yang sebelumnya manusia putus asa dan sangat mengharapkan akan turunnya hujan.

Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa turunnya hujan bukanlah hanya permasalahan alami, datang musim panas, dan datang musim dingin, ataupun datangnya musim hujan. Akan tetapi peristiwa tersebut terjadi karena kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Nasehat dari para ulama mengatakan apabila seseorang mendapatkan nikmat hendaknya mereka bersyukur sehingga nikmat tersebut Istiqomah. Namun apabila nikmat tersebut dikufuri dan diingkari Maka nikmat tersebut akan pergi dan menjadi murka Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Baca Juga: Meraih Kembali Kemuliaan yang Hilang

Hujan menjadi Adzab Bagi Sebagian Kaum

Yang kedua, bahwasanya Hujan merupakan nikmat Allah yang Allah berikan kepada suatu kaum akan tetapi terdapat sebagian kaum, bahkan tidak sedikit yang Allah turunkan hujan kepada mereka sebagai adzab, sebagaimana kaum Luth. Maka dari itu, sesungguhnya Islam mengajarkan kepada kita segala perkara yang mendatangkan manfaat dan mengajarkan kepada kita segala hal yang dapat menghindarkan kita dari keburukan, diantaranya adalah doa yang diajarkan oleh Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika terjadi turun hujan yang disertai angin.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya dan kebaikan tujuan dihembuskannya angin ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan tujuan diehmbuskannya angin ini.” HR. Imam Bukhari, 4:76 dan Muslim 2:616

Pecinta Al-Iman, maka janganlah kita menjadikan peristiwa turunnya hujan yang diawali oleh pertanda-pertanda sebagai peristiwa yang biasa. Sesungguhnya di situ terdapat sebuah ibadah yang agung bagi seseorang yang mengaku dirinya beriman, diantaranya sebuah doa yang apabila doa tersebut dibaca oleh kaum muslimin maka insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang banyak bagi kita dan para hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apabila terdengar suara petir menggelegar,  sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

Artinya: “Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepada-Nya.” Al-Muwaththa’ 2/992.

Sesungguhnya para malaikat Bertasbih memuji Allah karena takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan perlu diingat para pecinta Al Iman,  sesungguhnya seluruh makhluk ciptaan-Nya tidak terkecuali manusia juga Bertasbih  memuji kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala seperti hewan, an tumbuhan, dan makhluk-makhluk lainnya. Maka kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk mensucikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari tandingan ataupun sekutu. Sehingga tidak beribadah kecuali kepada Allah  Subhanahu Wa Ta'ala. Dan membersihkan diri kita dari perbuatan kesyirikan menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sesungguhnya ketika terdapat Peristiwa turunnya hujan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kita tentang doa, yaitu

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعا

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, Allahumma shoyyiban nafi’an.” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. HR. Imam Bukhari no. 1032

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan doa tersebut agar hujan yang turun kepada kita menjadikan keberkahan bagi kita, tumbuhan, hewan, dan makhluk lainnya. Sesungguhnya Allah menjadikan hujan sebagai rahmat bagi makhluk ciptaan-Nya dan begitu pula menjadikan hujan sebagai azab bagi kaum yang lainnya.

Dan apabila terjadi hujan lebat sehingga menghawatirkan, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengajarkan sebuah doa. Hal ini menunjukkan kesempurnaan dan keindahan agama Islam.

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” HR. Imam Bukhari no. 1014

Kemudian setelah hujan reda, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengajarkan sebuah doa yang hendaknya baca oleh setiap kaum muslimin.

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” HR. Imam Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71

Hujan merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta'ala yang agung

Turunnya Hujan Bukan karena Bintang

Yang ketiga, setelah kita mengetahui bahwasanya Hujan merupakan nikmat Allah. Maka janganlah sekali-kali kita menisbatkan turunnya hujan karena bintang-bintang. Sesungguhnya keyakinan tersebut sama halnya dengan keyakinan orang-orang pada zaman jahiliyyah. 

أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن : الفخر في الأحساب و الطعن في الأنساب و الاستسقاء بالنجوم و النياحة

“Ada empat perkara dalam umatku ini yang termasuk perkara jahiliyah dan meraka tidak meninggalkannya (artinya: perkara jahiliyah ini akan terus ada pada umat Islam): 1.) bangga karena punya kekayaan, 2.) mencela nasab, 3.) minta hujan melalui bintang-bintang, 4.) meratap.” HR. Imam Bukhari dan Muslim

Jangan Mencela Hujan

Yang keempat, bahwasanya ketika terjadinya peristiwa turun hujan ataupun ketika disertai angin jangan sampai kita mencela hujan ataupun angin.  Sesungguhnya hujan dan angin tidak memiliki kehendak. Tapi semua itu berjalan sesuai kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga kita dilarang untuk mencela hujan ataupun angin.

لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ

”Janganlah kamu mencaci maki angin.” HR. Imam Tirmidzi

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan Taufiq kepada kita dan menjadikan hujan yang turun menjadi hujan yang berkah bagi kita dan para hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc., M.H

Baca Juga: Alangkah Bahagia Didoakan Malaikat Pemikul ‘Arys

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img