BerandaAqidah dan ManhajMeraih Kembali Kemuliaan yang Hilang

Meraih Kembali Kemuliaan yang Hilang

Relita Kemuliaan yang Hilang

Segala puji hanya milik Allah yang telah mengutus seorang Rasul kepada seluruh umat manusia untuk mengajak mereka kepada Allah. Dia membawa petunjuk dan agama yang hak guna memenangkannya atas seluruh agama yang ada di muka bumi ini. Allah ta'ala berfirman:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ 

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. (QS. ash-Shaff: 9)

Dia mengutus Rasul-Nya dengan membawa huda (petunjuk) yaitu ilmu yang bermanfaat dan dînul haq (agama yang benar) yaitu amal shalih. Orang yang paling banyak memperoleh bagian dari ilmu yang bermanfaat dan amal shalih tersebut adalah para sahabat beliau radiyallahu'anhum. Mereka memperolehnya langsung dari sumbernya yang murni, yaitu mata air kenabian dan mengamalkannya di tengah kehadiran beliau sebagai guru yang sangat bijak dan amat cinta kepada mereka. Tiada tersisa suatu kebaikan melainkan beliau mengajarkannya kepada mereka dan tiada tersisa suatu keburukan melainkan beliau mengingatkan mereka agar mewaspadai dan menjauhinya.

Abu Dzar al-Ghifari radiyallahu'anhu berkata:

تَرَكَنَا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وما طائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ في الهَوَاءِ إلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنا منه عِلْمًا

“Rasulullah telah meninggalkan kami, dan tidaklah seekor burungpun yang membolak-balikkan dua sayapnya di udara, melainkan beliau mengingatkan kami darinya suatu ilmu”

Kemudian Abu Dzar berkata: Lalu beliau shalallahu'alaihi wasallam bersabda:

‎ مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tiada tersisa sedikitpun sesuatu yang mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan dari api neraka, melainkan telah dijelaskan kepada kamu.” 1

Maha benar Allah yang telah mengabarkan salah satu sifat Rasul-Nya yang terakhir ini:

دۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٌ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubat : 128)

Dalam ayat yang lain Allah ta'ala berfirman :

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…2 (QS. Al A’raf : 157)

Allah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi amal semesta ini, Allah berfirman :

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya : 107)

Dalam menafsirkan ayat ini, Abul Fida' Isma'il bin Umar Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Allah ta'ala memberitahukan bahwasanya Dia menjadikan Muhammad rahmat bagi alam semesta, artinya Dia mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka semuanya. Barangsiapa menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini, dia akan bahagia di dunia dan di akhirat, namun barangsiapa menolak dan mengingkarinya, niscaya akan rugi di dunia dan di akhirat.

Sebagaimana firman Allah ta’ala :

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ كُفۡرٗا وَأَحَلُّواْ قَوۡمَهُمۡ دَارَ ٱلۡبَوَارِ ۞ جَهَنَّمَ يَصۡلَوۡنَهَاۖ وَبِئۡسَ ٱلۡقَرَارُ 

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat3 Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman”. (QS Ibrahim : 28-29)

Demikian pula firmannya tentang al-Quran :

قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ 

“…Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka4. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS. Fushilat : 44)

Dengan demikian, Nabi shalallahu'alaihi wasallam adalah rahmat bagi alam semesta ini. Beliau bukan seperti yang dituduhkan oleh orang-orang kafir dan musyrik sebagai tukang sihir, penyair, dukun, orang gila dan seterusnya. Bahkan di abad ini, karena perbuatan segelintir orang yang menyimpang dari al-Qur`an dan sunnah serta jalannya para salaf, beliau digambarkan sebagai seorang teroris. Semoga Allah melaknat orang yang menuduh beliau dengan tuduhan batil itu.

Baca Juga : Kiat Menggapai Istiqomah

Cukuplah Allah sebagai saksi bahwa beliau adalah rahmat bagi alam semesta dan beliau adalah Nabiyyur Rahmah. Beliaulah orang yang mengumandangkan kepada manusia:

‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

“Wahai manusia sesungguhnya aku hanyalah rahmat yang dihadiahkan”.5

Dihadiahkan Allah untuk para hamba-hamba-Nya agar dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya Islam yang terang-benderang, Allah berfirman:

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ قَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ كَثِيرٗا مِّمَّا كُنتُمۡ تُخۡفُونَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖۚ قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٞ وَكِتَٰبٞ مُّبِينٞ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ وَيُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِهِۦ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (QS. Al Maidah : 15-16)

Kedatangan Rasulullah diimani oleh manusia-manusia pilihan, yaitu para sahabat beliau, yang mana Allah jadikan mereka sebagai generasi terbaik melalui lisan Rasul-Nya yang bersabda:

‎خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia generasiku kemudian yang sesudah mereka, kemudian yang sesudah mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Mereka melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, tunduk dan patuh kepada syari'at- Nya. Kemudian mereka menyebarkan agama Allah dan Rasul-Nya dengan sebaik-baiknya.

meraih kemuliaan yang hilang

Maka manusia berbondong-bondong memeluk agama Allah. Sesungguhnya dengan diutusnya beliau merupakan nikmat terbesar bagi kaum mukminin. Allah berfirman:

‎لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali ‘Imrân: 164).

Nikmat yang besar ini benar- benar disyukuri oleh generasi- generasi pertama umat ini, sehingga Allah memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi ini. Hal tersebut karena menegakkan tauhid, menyebarkan sunnah Nabi dan memakmurkan bumi ini sesuai dengan misi Islam yang mulia dan luhur. Allah ta'ala berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. an-Nur : 55)

Kemudian, waktu terus berjalan, generasi ganti generasi, ulama muslimin yang berpegang teguh kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman salaful ummah (para pendahulu yang shalih) terus berkurang, sehingga kwalitas umat semakin menurun dan merosot, syubuhat (kerancuan) dalam berbagai masalah agama bermunculan ibarat cendawan di musim hujan, syahawat (ambisi keduniaan) menguasai kehidupan umat, meraih keuntungan duniawi telah menguasai pola fikir kaum muslimin.

Serta kebobrokan moral dan kemerosotan akhlak melanda mayoritas masyarakat muslimin dari kalangan bawah sampai atas, agama dan simbol-simbol Islam dijadikan sebagai “kuda tunggang” untuk mengejar dan mencapai tujuan hawa nafsu, umat dikelabui dengan janji- janji palsu dan seterusnya, hanya kepada Allah kita mengadu musibah yang menimpa umat ini dan semoga kita diselamatkan dari berbagai ujian syubuhat dan syahawat tersebut. Maha Benar Allah yang berfirman:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا 

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (QS. Maryam: 59).

Kelemahan yang timbul pada tubuh kaum muslimin sebagai akibat dari penyakit syubhat dan syahwat itu berdampak besar. Di antaranya: terbuka peluang besar bagi lawan untuk memerangi kaum muslimin dari luar dan dalam. Lalu terjadilah pada mereka apa yang telah diberitakan oleh ash-Shadiq al Mashud (Nabi Muhammad) dalam haditsnya:

‎يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَ مِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاء كَغُثَاء السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِعَدُوِّكُم الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Sudah di ambang pintu para umat saling memanggil satu dengan yang lainnya (untuk memerangi kamu) seperti orang- orang yang akan makan saling memanggil menuju ke tempat hidangan makanan.

Seorang sahabat bertanya: Apakah karena (jumlah) kita sedikit pada saat itu?

Beliau shalallahu'alaihi wasallam menjawab: Justru kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian ibarat benda-benda yang terbawa arus banjir, dan sesungguhnya Allah akan mencabut dari hati-hati musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan akan melemparkan dalam hati-hati kalian al- wahn.

Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa itu al-wahn? Beliau menjawab: Cintai dunia dan benci kematian.6

Solusi Meraih Kemuliaan yang Hilang

Setelah mengetahui realita tersebut, apa yang bisa dilakukan? Apakah umat hanya berpangku tangan, bertopang dagu sambil menggigit jari-jemarinya sebagai tanda penyesalan? Ataukah harus berlari mengejar ketertinggalan dengan mengekor kepada kaum kafir dan melepaskan akidahnya serta nilai-nilai luhur Islam?

Jawabannya tidak yang pertama dan tidak pula yang kedua. Akan tetapi mengupayakan berbagai sebab yang dapat membangkitkan kembali semangat kaum muslimin untuk keluar dari kondisi keterpurukan ini. Di antara sebab-sebab tersebut adalah:

Pertama : Membangkitkan kesadaran dalam diri umat bahwa perubahan kondisi tidak mungkin terjadi kecuali jika umat mau merubah kondisi mereka sendiri. Allah berfirman:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ 

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. ar-Ra'd : 11)

Kedua : Menanamkan keyakinan bahwa Islam yang benar yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya itulah yang akan menjadi solusi bagi semua permasalahan umat bahkan permasalahan kemanusiaan di akhir zaman ini. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki kondisi para pendahulunya”.

Ketiga : Mempelajari dan menelusuri manhaj para salaf kita yang shalih dalam beragama, baik akidah, ibadah, mu'amalah dan akhlak lalu mensosialisasikan dan menerapkannya dalam kehidupan umat.

Allah berfirman :

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ 

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubat : 30)

Keempat : Kembali pada tuntunan agama yang benar yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang shahih sesuai dengan pemahaman salaf berupa menebar ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh, yang telah diisyaratkan Nabi dalam hadisnya. kata-katanya, sebagai solusi untuk bisa keluar dari keterpurukan ini:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاً لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِينِكُمْ.

“‏Apabila kalian telah berjual-beli dalam bentuk riba, memegang ekor-ekor sapi7, ridha kepada pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan ditanggalkannya hingga kalian kembali kepada agama kamu”. (HR. Abu Dawud)

‏Kelima : Berpegang teguh kepada sunnah Rasululah shalallahu'alaihi wasallam sesuai dengan yang dipahami oleh para salaf (pendahulu) yang shalih dan menjauhi berbagai bid'ah dalam agama yang mana bid'ah-bid'ah tersebut mempunyai andil yang amat besar dalam menggerogoti keutuhan dan kekuatan Islam, Nabi shalallahu'alaihi wasallam bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشُ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بالنواجذ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

‏”Aku wasiatkan kamu agar bertakwa kepada Allah dan mendengar serta menaati, meskipun kepada seorang hamba sahaya dari Habashah, karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaknya kamu berpegangteguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk lagi berjalan di atas petunjuk! teguhlah kamu memegangnya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham dan waspadalah kamu dari hal-hal baru (dalam agama) karena sesungguhnya setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan”. (HR. Abu Dawud).

‏Keenam : Menanamkan kesadaran dalam diri umat untuk menolong agama Allah dengan cara yang baik dan bijak dengan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya, dengan demikian umat akan mendapat pertolongan Allah, sebagaimana janji-Nya dalam al-Qur'an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ 

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7)

Ketujuh : Menanamkan keyakinan umat kepada Allah dan menanamkan perlunya kesabaran dalam meraih kembali kemuliaan yang hilang. Allah berfirman:

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS.as-Sajdah : 24)

Itulah di antara solusi utama yang telah diberikan oleh Nabi ﷺ dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan ini. Wallâhu a'lam.

Dilansir dari Majalah Islamiyah Manhajiyyah Adz-Dzakirah Edisi 44 Vol.8 No. 2 tahun 1429 H, Meraih Kembali Kemuliaan yang Hilang oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.HI. Penerbit STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Footnote :

  1. Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, No. 1647 dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dalam kitabnya ‘Ilmu Ushûl al-Bida', hlm 19. ↩︎
  2. Maksudnya, dalarm Syari'at yang dibawa oleh Muhammad itu tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Seperti disyariatkannya membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan qishosh pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diyat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang terkena najis. ↩︎
  3. Yang dimaksud dengan “nikmat” Allah di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah. ↩︎
  4. Yang dimaksud “suatu kegelapan bagi mereka” ialah tidak memberi petunjuk bagi mereka. ↩︎
  5. Dikeluarkan oleh al-Hakim dan lainnya dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash- Shahîhah, No. 490. ↩︎
  6. ‏HR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash- Shahîhah, No. 958. ↩︎
  7. Menunjukkan keridhaan kepada pertanian dan pekerjaan-pekerjaan duniawi lainnya yang menjadikan mereka lalai dan lupa terhadap kepentingan agama. Wallâhu a'lam. ↩︎
ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img