BerandaAdab dan AkhlakTips Sedekah Membawa Berkah

Tips Sedekah Membawa Berkah

Tidak diragukan lagi bahwa sedekah memiliki keutamaan dan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bersedekah kepada fakir miskin merupakan bukti keimanan seorang hamba kepada Rabbnya, karena ia yakin bahwa rezeki ada di tangan Allah subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagai qudwah umat muslimin dikenal sebagai manusia yang paling dermawan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radiyallahu’anhuma :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

“Nabi shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sungguh merupakan sebuah tauladan yang wajib untuk diikuti. Rasulullah tidak hanya memberikan dorongan kepada umatnya untuk bersedekah, namun beliau lah orang yang pertama kali melakukannya. Bahkan beliau pun menjadi orang yang paling dermawan di antara para sahabatnya dan kaum muslimin.

Mengingat hal ini merupakan salah satu jenis dari ibadah, maka harus diperhatikan agar diterima oleh Allah sebagai amal shalih yang mendapatkan pahala. Jangan sampai harta yang dikerluarkan untuk sedekah menjadi bumerang kepada diri kita sendiri.

Maka dari itu, pada pembahasan singkat ini, insya Allah akan dibahas tentang salah satu perkara agar sedekah seorang muslim dapat membawa berkah atau diterima oleh Allah subhanahu wata’ala hingga memasukkan pelakunya ke dalam surga.

Baca juga : Kiat Menggapai Istiqomah

Sedekah Harus Ikhlas

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, sedekah disyaratkan harus ikhlas atau hanya mengharapkan pahala serta keridhaan dari Allah semata.

Dalam surat al-Baqarah ayat 261 Allah berfirman:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa balasan berlipat ganda bagi orang yang bersedekah hanya diperoleh oleh orang yang mengerjakannya karena mengharapkan pahala dari Allah.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan:

“Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah dengan melipatgandakan balasan kepada orang yang berinfak di jalan-Nya dan mengharap keridhaan-Nya. Sengguhnya kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/691)

Di dalam ayat lain Allah berfirman:

ۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَلِأَنفُسِكُمۡۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ٱللَّهِۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ…

Dan kebaikan apa pun yang kamu belanjakan, janganlah kamu menyia-nyiakannya. Dan kebaikan apa pun yang kamu belanjakan, tidak akan ada balasannya kecuali untuk mencari Wajah Allah, dan kebaikan apa pun yang kamu belanjakan. Bagimu dan kamu tidak akan dianiaya “Dan harta kebaikan apa pun yang kamu belanjakan (di jalan Allah), maka pahalanya adalah untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu menafkahkan apa pun kecuali untuk mencari keridhaan Allah. sedangkan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS. al-Baqarah : 272)

Anjuran Untuk Menyembunyikan Sedekah

Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih utama dibandingkan sedekah yang dilakukan secara terang-terangan. Sebab, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih dekat dengan keikhlasan dan jauh dari riya’.

Allah Ta’ala berfirman:

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ 

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 271).

Meskipun ayat tersebut menunjukkan tentang keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi, namun bukan berarti sedekah secara terang-terangan haram secara mutlak. Sehingga apabila seseorang bersedekah dengan terang-terangan dengan tujuan agar ditiru orang lain atau mashlahat lainnya maka diperbolehkan selama tidak ada unsur riya’ di dalamnya atau menyakiti hati penerima sedekah tersebut.

Dalam sebuah hadits tentang Tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menyebutkan di antaranya adalah :

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ،
“Orang yang bersedekah dengan sedekah yang ia tutupi sehingga tangannya yang kiri tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq Alaihi)

Yang dimaksud “sedekah dengan tangan kanan sampai tangan kirinya tidak mengetahui” adalah kiasan orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam menyembunyikan sedekahnya meskipun dari orang terdekatnya. Mereka tidak ingin diketahui oleh manusia karena takut akan mempengaruhi niatnya.

Berkata Imam Nawawi rahimahullah :

“Di dalam hadits ini terdapat keutamaan sedekah dengan sembunyi-sembunyi. Para ulama berkata: maksud hadits ini adalah pada sedekah sunnah, maka sedekah sunnah yang utama dengan sembunyi-sembunyi, karena lebih dekat pada keikhlasan dan jauh dari riya’. Sedangkan sedekah wajib (zakat) maka mengumumkannya lebih utama daripada menyembunyikannya.” (Syarah Muslim 7/122).

Sedekah Tidak Boleh Mengharapkan Kenikmatan Dunia

Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوفِ إِلَيْهِمْ أَعْمَلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ 15 أُولَبِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang balasan orang yang mengerjakan ibadah atau amal shalih, namun ia mengerjakannya untuk mendapatkan kesenangan di dunia. Baik itu berupa pujian manusia, mendapatkan harta ataupun kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya.

Kemudian Allah mengabarkan bahwa orang yang beribadah untuk mendapatkan kesenangan di dunia ini, maka Allah akan mewujudkan keinginan tersebut di dunia ini, tanpa berkurang sedikit pun.

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Tabari rahimahullah berkata:

“Allah Yang Maha Tinggi berkata: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dengan amalannya, dan dia hanya mencari dunia dan perhiasannya dengan amalannya itu, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan-balasan dan pahala amalan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan merugi, yaitu tidak akan dikurangi balasannya, bahkan akan diberikan secara sempurna kepada mereka di dunia.” (Taf- sir ath-Thabary 15/262)

Namun, di akhirat kelak segala kenikmatan ini tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka. Wal ‘iyadzu billah.

Mujahid rahimahullah berkata:

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang diperintahkan Allah, berupa shalat dan sedekah, namun ia tidak menghendaki wajah Allah, maka Allah akan membalasnya di dunia sesuai dengan apa yang telah ia infakkan. Itulah makna “Sesungguhnya Kami akan memberikan kepada mereka pahala atas pekerjaan mereka di dunia”. (Tafsir Ibnu Katsir 4/311)

Maka dari itu, tatkala kita mendapatkan dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan sedekah yang mana di antaranya adalah akan dilipatgandakan harta, bukan berarti hal itu (memperoleh harta yang berlipat) menjadi tujuan utama untuk bersedekah. Karena dalil-dalil tersebut hanyalah sebagai motivasi bukan sebagai tujuan utama.

Baca Juga : Agar Ibadahmu Diterima

‏Ancaman Bagi Yang Tidak Ikhlas Dalam Sedekah

Ibadah ini yang mengharuskan pelakunya untuk mengerjakan dengan ikhlas. Yaitu hanya mengharapkan balasan dan pahala dari Allah تَعَالٰی . Maka dari itu Rasulullah menjelaskan bahwa di antara orang yang pertama kali masuk ke dalam neraka adalah orang yang bersedekah namun tidak ikhlas.

‏Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺃَﻭَّﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳُﻘْﻀَﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ…..ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻭَﺳَّﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﻨَﺎﻑِ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻛُﻠِّﻪِ، ﻓَﺄُﺗِﻲَ ﺑِﻪِ ﻓَﻌَﺮَّﻓَﻪُ ﻧِﻌَﻤَﻪُ ﻓَﻌَﺮَﻓَﻬَﺎ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻤَﺎ ﻋَﻤِﻠْﺖَ ﻓِﻴﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺖُ ﻣِﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﺗُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﻨْﻔَﻖَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘْﺖُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻟَﻚَ، ﻗَﺎﻝَ : ﻛَﺬَﺑْﺖَ، ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻚَ ﻓَﻌَﻠْﺖَ ﻟِﻴُﻘَﺎﻝَ : ﻫُﻮَ ﺟَﻮَﺍﺩٌ، ﻓَﻘَﺪْ ﻗِﻴﻞَ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﻪِ ﻓَﺴُﺤِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻟْﻘِﻲَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭ

“Sesungguhnya orang yang mula-mula diputuskan perkaranya adalah; (kemudian beliau menyebutkan) orang yang telah diberi kecukupan dan harta oleh Allah, dia dihadapkan kepada Allah, dan diperlihatkan nikmatnya, maka dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan padanya?” “Tidak saya membiarkan satu jalan yang Engkau cintai saya berinfak padanya, melainkan saya melakukannya karena Engkau,” katanya. Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu berbuat begitu banyak agar dikatakan dermawan, dan itu sudah dikatakan (manusia),” lalu dia diseret wajahnya hingga dijebloskan ke neraka”.(HR.Muslim 1905)

Sungguh sangat disayangkan, bila harta benda dihibahkan dan seharusnya mendapatkan pahala, malah memasukkan pelakunya ke neraka hanya karena tidak ikhlas. Mereka menyedekahkan hartanya hanya karena dipuji orang, ingin dianggap orang yang dermawan, atau ingin dianggap tidak pelit. Maka sungguh sia-sia apa yang mereka kerjakan.

Semoga Allah تَعَالَى memberikan taufik kepada kita semua untuk ikhlas beribadah kepada-Nya, dan menerima segala amal ibadah kita. Amin.

Dilansir dari Majalah Donatur Al-Iman Vol. 1 no 2. September 2015 / Dzulqa’dah 1436 H. Agar sedekah membawa berkah tulisan Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc., M.H.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img