spot_img
BerandaKhutbah JumatSempurnanya Agama Islam

Sempurnanya Agama Islam

Betapa sempurnanya agama yang kita anut ini. Nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada kita semuanya, yaitu bisa mengenal agama Islam dan juga bisa mengamalkan segala apa yang diperintahkan di dalam agama kita. Agama Islam adalah agama yang paling sempurna. Maka dari itu Allah Subhanahu wa taala mengatakan,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”. (Qs. Al-Maidah: 3)

Islam memiliki pedoman yang lengkap bagi seluruh umatnya. Di antara pilar yang penting di dalam agama Islam adalah akhlak yang mulia. Bahkan di antara tujuan Allah Subhanahu wa taala mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan pentingnya akhlak, menunjukkan pentingnya bermuamalah antara satu dengan yang lainnya sampai dijadikan sebagai tujuan Allah Subhanahu wa taala mengutus nabi kita shallallahu alaihi wa sallam.

Islam juga memperhatikan kepentingan umum. Islam menganjurkan agar umatnya mendahulukan kepentingan umum dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Sehingga Islam dengan tegas melarang segala bentuk apapun yang mengganggu atau merugikan orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR. Bukhari)

Karena muslim sendiri berasal dari kata salima yang artinya adalah selamat. Apabila kita masuk ke dalam agama Islam, maka artinya kita harus siap memberikan keselamatan, kita harus siap untuk memberikan keamanan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan sampai karena kita menganggap diri kita sebagai seorang muslim, justru orang-orang yang ada di sekitar kita selalu merasa terganggu, merasa tidak aman, dan tidak nyaman ketika kita berada di sampingnya.

Allah Subhanahu wa taala menjadikan di antara barometer keimanan seseorang itu ada pada akhlaknya dan perbuatannya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmizdi)

Akhlak juga termasuk di antara cabang-cabang keimanan yang harus kita jaga semuanya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Bukhari)

sempurnanya agama islam

Ketika kita berbicara keimanan itu biasanya kita berbicara apa yang menjadi keyakinan seseorang, apa yang ada di dalam hati seseorang. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan di antara cabang keimanan adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini menunjukkan bahwasanya apabila seseorang itu keimanannya sempurna, keimanannya baik, dia adalah orang yang beriman, memiliki akidah yang baik, akidah yang lurus, maka juga tercerminkan dalam perbuatannya. Dia akan membuat nyaman orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan dia berusaha menyingkirkan segala gangguan yang bisa mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya.

Di antara kesempurnaan agama Islam, Islam ini juga mengatur apabila kita ingin duduk-duduk di jalanan atau di tempat yang biasa digunakan untuk lalu-lalang oleh manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Hindarilah olehmu duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?' Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, berikanlah hak jalanan.' Mereka bertanya; ‘Apa haknya ya Rasulullah? ‘ beliau menjawab: ‘Tundukkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, jalan itu ada hak yang harus harus ditunaikan bagi orang-orang yang berada di jalanan tersebut. Apa saja hak di jalan tersebut? Diantara yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut adalah:

  1. Menundukkan (membatasi) pandangan (dari melihat para wanita yang bukan mahramnya yang melewatinya atau hal-hal yang diharamkan)
  2. Tidak mengganggu (menyakiti) orang dengan ucapan maupun perbuatan.
  3. Mmenjawab salam
  4. Memerintahkan (manusia) kepada kebaikan dan mencegah (mereka) dari perbuatan mungkar.

Itulah di antara hak jalan yang harus kita penuhi. Karena jalan hakikatnya adalah milik bersama, siapa saja berhak untuk melewati jalan tersebut. Sehingga apabila suatu jalan hanya dikuasai oleh satu orang dan orang lain tidak boleh lewat, maka telah menyelisihi sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia tidak memberikan hak. Bahkan dia bisa jadi kekurangan keimanannya, karena keimanan seorang di antaranya adalah dengan menghindarkan atau menjauhkan gangguan di jalan.

Di antara keutamaan orang yang menyingkirkan gangguan di jalan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ

“Ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan ia menemukan dahan pohon berduri di tengah jalan, lantas ia menyingkirkannya, maka Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita lihat bagaimana orang tersebut mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa taala. Apakah karena banyaknya salat sunah? Apakah karena banyaknya puasa sunah? atau membaca Al-Qur'an? Ternyata tidak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menyebutkan amalan-amalan tersebut. Rasulullah mengatakan bahwasanya orang tadi masuk ke dalam surga atau diampuni dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wa taala disebabkan karena menyingkirkan gangguan yang ada di jalan sehingga memudahkan kaum muslimin untuk melewati jalan tersebut.

Suatu amalan yang mungkin kita tidak mengira ternyata mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Suatu amalan yang kelihatannya ringan, maka semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kita semuanya untuk mengamalkannya.

Suatu ganggunan yang ada di jalan. Kalaupun kita tidak mampu untuk menyingkirkannya, maka setidaknya jangan sampai kita justru menjadi orang yang suka mengganggu orang lewat di jalan tersebut. Jangan sampai kita malah menjadikan orang tidak nyaman dengan kehadiran kita atau dengan aktivitas kita yang ternyata malah menghambat aktivitas orang lain.

Itu juga menunjukkan bahwasanya kita tidak boleh meremehkan suatu amalan yang mungkin menurut kita adalah amalan yang remeh, seperti menyingkirkan duri atau kaca dari jalan. Menurut orang mungkin amalan itu remeh dan kecil, ternyata apabila seseorang mengerjakannya dengan ikhlas, maka dia akan diberikan ampunan oleh Allah subhanahu wa taala.

Kita juga dilarang meremehkan perbuatan dosa meskipun kita menganggap itu sebuah dosa yang kecil. Karena bisa jadi dosa itu kalau kita remehkan dan kita terus melaksanakannya, itu akan mengantarkan seorang masuk ke dalam nerakanya, na’udzubillah mindzalik.

Kita mengira itu adalah amalan yang remeh dan kecil. Namun ternyata itu adalah amalan yang besar di sisi Allah subhanahu wa taala. Semoga Allah memudahkan kita semuanya untuk mengamalkan seluruh ajaran yang ada di dalam agama Islam. Karena Islam adalah agama yang sempurna. Tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah subhanahu wa taala, namun juga Islam mengatur hubungan seseorang dengan orang yang lain dalam bermasyarakat, dalam bersosial.

Wallahu ta'ala a'lam

Sempurnanya agama Islam

Baca juga: Landasan Aqidah Islamiyyah

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img