spot_img
BerandaFiqih dan MuamalahSeputar Shalat Malam di Bulan Ramadhan

Seputar Shalat Malam di Bulan Ramadhan

Allah Subhanahu wa ta’ala telah mensyariatkan ibadah yang banyak dan bermacam-macam jenisnya kepada para hamba-Nya, agar manusia dapat melaksanakan ibadah dari setiap jenis yang ada sehingga mereka tidak bosan dari satu jenis ibadah yang menyebabkan mereka meninggalkan amalan ketaatan.

Allah Ta’ala telah mensyariatkan amalan-amalan fardhu yang harus dikerjakan sesuai tuntunan dan tidak boleh ada kekurangan padanya. Allah Ta’ala juga mensyariatkan amalan-amalan sunnah yang dapat menambah kedekatan seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dan di antara amalan-amalan tersebut adalah shalat, salah satunya adalah shalat lima waktu di pagi dan malam hari, yang pahalanya setara 50 walaupun waktu pelaksanaannya hanya 5 kali. Allah juga menyunnahkan shalat-shalat lainnya sebagai penyempurna shalat-shalat yang sifatnya wajib tadi dan juga untuk menambah kedekatan kepada Allah Ta’ala.

Dan di antara shalat yang sifatnya sunnah adalah shalat rawatib, yaitu dua rak’at sebelum shalat subuh, empat raka’at sebelum shalat dzuhur, dua raka’at setelah shalat dzuhur, dua raka’at setelah maghrib, dan dua raka’at setelah isya.

Termasuk di antaranya adalah shalat malam, di mana Allah memuji-muji orang yang mengerjakannya, Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا

Dan, orang-orang yang mengisi waktu malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” [Al-Furqon 25:64]

Dan juga firman Allah Ta’ala,

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْن۝۱٦ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ۝۱٧

Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (macam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka kerjakan.” [As-Sajdah 32:16-17]

Dan juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ

Shalat yang paling afhdal setelah shalat fardhu adalah shalat malam” [HR.Muslim]

Dan juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَ صِلُوا اْلأَرْحَامَ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan laksanakanlah shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” [HR. Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan shahih”. Dan Imam Hakim menshahihkannya]

Shalat Witir Termasuk Shalat Malam

Shalat witir paling sedikit satu raka’at dan yang paling banyak adalah sebelas raka’at. Adapun witir dengan satu raka’at sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من أحبَّ أن يوتِرَ بواحدةٍ فليفعَلْ

Barangsiapa yang ingin shalat witir dengan satu raka’at maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud dan An-Nasai]

Dan hadis shalat witir tiga raka’at adalah sebagai berikut,

من أحبَّ أن يوتِرَ بثلاثٍ فليفعل

Barangsiapa yang ingin shalat witir dengan tiga raka’at maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud dan An-Nasai]

Shalat Witir 3 Raka’at 1 Salam dan 3 Raka’at 2 Salam

Pada shalat witir 3 raka’at maka orang yang shalat bisa memilih menggabungkan ketiga raka’at dan mengakhirkannya dengan satu salam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thohawi [Syarhu ma’anil atsar], bahwasannya Umar bin Khottob radhiyallahu’anhu shalat witir dengan 3 raka’at, dan beliau tidak salam kecuali di akhir raka’at saja.

Pilihan berikutnya adalah dengan shalat dua raka’at kemudian salam, dan kemudian shalat lagi satu raka’at kemudian salam, sehingga menjadia 3 raka’at 2 salam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori,

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَالرَّكْعَةِ فِيْ الوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

Sesungguhnya Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma pernah salam (mengakhirkan shalat) antara dua rakaat dengan satu rakaat dalam witir hingga memerintahkan untuk memenuhi sebagian kebutuhannya.” [HR. Al-Bukhori]

Shalat Witir 5 Raka’at

Shalat witir juga dapat dilaksanakan dengan 5 raka’at sekali shalat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من أحبّ أن يوترَ بخمسٍ فليفعلْ

Barangsiapa yang ingin shalat witir dengan lima raka’at maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud dan An-Nasai]

Dan dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat di malam hari, tiga belas rakaat, beliau shalat witir dengan lima rakaat, tidak duduk (tasyahud) kecuali di rakaat terakhir.” [HR. Muslim]

Shalat Witir 7 Raka’at

Shalat witir juga dapat dilaksanakan dengan 7 raka’at sekali shalat, sebagaimana perkataan Ummu Salamah radhiyallahu’anha,

أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبْعٍ وَبِخَمْسٍ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِسَلَامٍ وَلَا بِكَلَامٍ

Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan sholat witir dengan tujuh dan lima raka’at. Beliau tidak memisahnya diantaranya dengan salam atau pun ucapan” [HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Majah]

Shalat Witir 9 Raka’at

Shalat witir juga dapat dilaksanakan dengan 9 raka’at sekali shalat, kemudian duduk tasyahud di raka’at kedelapan kemudian berdoa dan berdiri kembali untuk melanjutkan raka’at kesembilan kemudian tasyahud, berdoa kemudian salam, sebagaimana hadis ‘Aisyah radhiyallahu’anha,

كانَ يصلِّي من اللَّيلِ تسعَ ركَعاتٍ لا يجلسُ فيها إلَّا في الثَّامنةِ فيذكرُ اللَّهَ ويحمَدُهُ ويدعوهُ ثمَّ ينهضُ ولا يسلِّمُ ثمَّ يقومُ فيصلِّي التَّاسعةَ ثمَّ يقعدُ فيذكرُ اللَّهَ ويحمدُهُ ويدعوهُ ثمَّ يسلِّمُ تسليمًا يسمِعُناهُ……. الحديث

Dahulu Rasulullah shalat malam sembilan raka’at, beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat ke sembilannya. Kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya……” [HR. Ahmad dan Muslim]

Baca Juga : Hukum Puasa Ramadhan

Sifat Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ketika seseorang melakukan shalat malam sebanyak 11 raka’at, maka jika dia mau maka dia bisa salam setiap 2 raka’at dan kemudian shalat witir 1 raka’at. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu’anha,

كان النبي ﷺ يصلي فيما بين أن يفرغ من صلاة العشاء إلى الفجر إحدى عشرة ركعة يسلم بين كل ركعتين، ويوتر بواحدة،

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat antara bakda salat Isya dan shalat subuh, sebanyak 11 rakaat, beliau melakukan salam setiap 2 rakaat, dan melakukan salat witir dengan 1 rakaat.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Shalat malam juga bisa dilakukan dengan shalat 4 raka’at, kemudian 4 raka’at dan ditutup dengan 3 raka’at. Sebagaimana hadis ‘Aisyah radhiyallahu’anha,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا ، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang baik dan panjangnya. Kemudian shalat 4 raka’at, jangan ditanya baik dan panjangnya. Kemudian shalat 3 raka’at” [Muttafaqun ‘alaih]

Menggabungkan 5, 7, atau 9 raka’at tanpa jeda salam dapat dilakukan dengan jika shalat sendiri, atau dengan jama’ah yang terbatas. Adapun jika melaksanakan shalat di masjid umum, maka yang lebih utama bagi imam untuk melakukan salam di setiap 2 raka’at. Hal ini dimaksudkan agar tidak menyulitkan masyarakat dan lebih memudahkan mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أيكم أَمَّ الناسَ فلْيتجوَّزْ؛ فإن مِن ورائه الكبيرَ والصغير وذا الحاجة

Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia, hendaklah kalian meringankannya, karena di antara mereka ada orang tua, lemah, dan yang memiliki hajat.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Dan di lafadz yang lain beliau bersabda,

فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ

Apabila dia shalat sendirian, silahkan dia shalat sekehendaknya.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Dan belum pernah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau melakukan witir dengan cara menggabungkan 5, 7 atau 9 raka’at sekaligus kecuali tatkala beliau shalat sendirian.

Keutamaan Shalat Malam di Bulan Ramadhan

Shalat malam di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang besar yang tidak didapat di bulan selainnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. [Muttafqun ‘alaihi]

Dan makna perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam Imanan adalah beriman kepada Allah dan juga beriman dengan apa yang sudah Allah Ta’ala siapkan berupa ganjaran bagi yang melaksanakannya. Dan makna kata ihtisaban adalah mengharapkan ganjaran dari Allah Ta’ala, tidak melaksanakannya dalam keadaan riya’, sum’ah, mencari kedudukan dan lain-lain.

Dan qiyam ramadhan sudah mencakup shalat di awal dan akhir malam, sehingga shalat tarawih termasuk qiyam ramadhan, maka harus semangat dalam mengerjakan dan menjaga rutinitasnya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Dan harus kita ingat bahwa malam-malam ramadhan sangatlah singkat, sehingga seharusnya seorang mukmin yang berakal memanfaatkan waktunya sebelum waktu itu berlalu.

shalat malam di bulan Ramadhan

Sejarah Shalat Tarawih

Penamaan shalat tarawih karena dahulu orang-orang melaksanakannya dengan sangat lama, dan ketika mereka telah selesai mengerjakan 4 raka’at, mereka beristirahat sebentar sebelum melanjutkan ke raka’at berikutnya. Dan istirahat dalam bahasa arab adalah rahatun atau tarwiihun.

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang pertama kali menyunnahkan shalat tarawih secara berjamaah di masjid. Kemudian beliau meninggalkannya karena takut akan menjadi wajib bagi ummat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam shahihain dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid pada suatu malam, maka orang-orang ikut shalat di belakang beliau dan semakin banyak, kemudian orang-orang berkumpul di malam ketiga lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Ketika tiba pagi hari, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قد رأيتُ الذي صنعتُم، فلمْ يمنعْني من الخروجِ إليكم إلَّا أنِّي خَشيتُ أنْ تُفرَضَ عليكم قال: وذلِك في رمضانَ

Aku melihat apa yang kalian lakukan semalam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian”. Perawi mengatakan: “itu di bulan Ramadhan” [HR. Bukhori dan Muslim]

Dan diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar rahdiyallahu’anhu beliau berkata, “Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini”, maka beliau mengatakan,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam suntuk” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih]

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih

Terjadi silang pendapat di kalangan ulama salaf terkait jumlah raka’at shalat tarawih bersama witirnya. Ada yang mengatakan bahwa jumlah raka’atnya adalah 41 raka’at, ada juga yang mengatakan 39 raka’at, ada juga yang mengatakan 29 raka’at, ada juga yang mengatakan 23 raka’at, ada juga yang mengatakan 19 raka’at, ada juga yang mengatakan 13 raka’at dan ada juga yang berpendapat 11 raka’at.

Pendapat yang paling kuat beberapa pendapat di atas adalah 11 dan 13 raka’at. Sebagaimana di dalam shahihain dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, bahwasannya dahulu beliau ditanya tentang tata cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan ramadhan, maka beliau berkata,

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dahulu Rasulullah tidak menambah dari 11 raka’at, baik di bulan ramadhan maupun selain bulan ramadhan” [HR. Bukhori dan Muslim]

Dan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu berkata,

كَانَتْ صَلَاةُ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَعْنِي باللَّيْلِ.

Dahulu shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 13 raka’at” yaitu pada malam hari [HR. Bukhori]

Dan di dalam kitab Al-muwaththo’ dari Sa’ib bin Yazid radhiyallahu’anhu berkata,

أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ رضي الله عنهم أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Umar bin Khottob memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-dari untuk mengimami masyarakat dengan 11 raka’at” [HR. Malik]

Dahulu para salaf memanjangkan shalat mereka, dalam hadis Sa’ib bin Yazid radhiyallahu’anhu berkata,

كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ، حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ

Pada saat itu yang menjadi imam membaca beratus-ratus ayat, sampai kami bersandar pada tongkat kami dikarenakan saking panjangnya baca’an” [HR. Malik]

Berbeda dengan kebanyakan masyarakat sekarang, mereka melaksanakan shalat tarawih dengan sangat cepat sampai tidak thuma’ninah padahal thuma’ninah merupakan salah satu rukun shalat yang jika tidak dikerjakan maka shalat menjadi tidak sah. Mereka yang menjadi imam menyulitkan orang-orang yang tua renta dan yang sedang sakit, mereka merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Para ulama telah menyebutkan bahwasannya makruh bagi imam untuk mempercepat shalatnya sehingga menghalangi makmum untuk melakukan hal-hal yang sunnah, lantas bagaimana dengan imam yang mempercepat shalatnya sampai menghalangi hal-hal yang wajib? Nas’alullahas salamata wal ‘afiyah

Shalat Tarawih di Masjid bagi Wanita

Diperbolehkan bagi kaum wanita untuk menghadiri shalat tarawih di masjid jika mereka aman dari fitnah, yang mana fitnah itu datang dari mereka ataupun menimpa mereka. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ

Janganlah kalian menghalangi kaum wanita untuk pergi ke masjid Allah” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dan hal ini merupakan amalan para salafus shalih radhiyallahu’anhum. Akan tetapi, wajib bagi para wanita agar mereka mengenakan pakaian yang tertutup, berhijab, tidak tabarruj, tidak memakai wewangian, tidak mengangkat suara, dan tidak menampakkan perhiasan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” [An Nur 24:31]

Yaitu apa yang nampak dari wanita dan tidak mungkin untuk menutupinya, seperti jilbab, gamis dan lain-lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala memerintahkan wanita untuk keluar untuk melaksanakan shalat id, Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu’anha berkata, “Wahai Rasulullah, salah satu dari kami ada yang tidak memiliki jilbab”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Hendaknya saudaranya yang memiliki jilbab memakaikannya.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dan sunnah bagi wanita agar mereka mengakhirkan langkah-langkah mereka menuju tempat shalat dan menjauh dari lelaki, serta mengambil shaff yang paling belakang terlebih dahulu, kebalikan dari lelaki. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaff shalat laki-laki adalah yang paling depan dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaff shalat wanita adalah yang paling belakang dan yang paling buruk adalah yang paling depan.” [HR. Muslim]

Tatkala imam telah salam, maka para wanita hendaknya segera pulang, dan tidak tinggal kecuali ada udzur, sebagaimana hadis Ummu Salamah radhiyallahu’anha berkata,

إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ. ابْنُ شِهَابٍ فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْمِ

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam, maka seketika selesainya salam beliau itu pula mereka langsung bangkit, sementara beliau berdiam diri sebentar sebelum berdiri.”Ibnu Syihab berkata, “Menurutku -dan hanya Allah yang tahu- beliau melakukan itu agar kaum wanita punya kesempatan untuk pergi sehingga seseorang yang berlalu pulang dari kalangan laki-laki tidak bertemu dengan mereka.” [HR. Bukhori]

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyinia Muhammad Wa ‘Ala Alihi wa Shohbihi Ajma’in.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sumber: Kitab Majalis Syahri Ramadhan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Ustaimin rahimhullah

Penerjemah: Muhammad Sofyan

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img