BerandaFiqih dan MuamalahBab Haji & Umroh (Bag 6)

Bab Haji & Umroh (Bag 6)

Pembahasan ini mengenai hajinya Nabi shalallahu alaihi wassalam. Berkaitan dengan manasik haji Nabi shalallahu alaihi wassalam, berikut ini dalil dalil yang menjelaskannya.

Hajinya Nabi (Sifat Haji Nabi Shalallahu alaihi Wassalam)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah beliau berkata : “sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menetap di kota Madinah selama 9 tahun tidak melaksanakan ibadah haji, kemudian dikumandangkan  kepada seluruh manusia pada tahun ke 10 hijriyyah bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam akan melaksanakan ibadah haji.

Maka banyaklah orang yang berdatangan ke kota Madinah, semuanya datang ingin meneladani dan mengamalkan seperti tata cara hajinya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Lalu kami keluar bersama Beliau shalallahu alaihi wassalam hingga kami sampai di Dzul Hulaifah, ketika kami sampai di Dzul Hulaifah Asma’ binti ‘Umais melahirkan anaknya yang Bernama Muhammad bin Abi Bakr, lalu Asma’ binti ‘Umais mengirim seorang utusan untuk bertanya “apa yang harus aku lakukan?” Beliau shalallahu alaihi wassalam bersabda :

اِغْتَسِلِيْ، وَاسْتَثْفِرِيْ بِثَوْبٍ، وَأَحْرِمِيْ

“Mandilah, ikatlah dengan kain tempat keluarnya darah, dan berihromlah”. Pada saat ini dimulailah seseorang untuk berihrom, dan ada faidah yang bisa kita ambil bahwa Wanita yang sedang nifas/haid boleh berihrom.

Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sholat (shalat wajib atau shalat sunnah seperti tahiyatul masjid/mutlak) di masjid kemudian Beliau menunggangi untanya yang bernama Qoswa’ hingga kita sampai disuatu tempat yang bernama bayda’ , disaat itu aku melihat sejauh mata memandang dihadapanku orang-orang yang berkendara dan berjalan ikut serta melaksanakan haji bersama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Dan dari sisi kanan, kiri dan belakangku seperti itu juga. Sedangkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berada ditengah-tengah kami dan disaat itu turunlah Al-Qur’an sedang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sangat faham terhadap ayat yang diturunkan, dan apa pun yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kami pun melakukannya. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengeraskan suara seraya bertalbiyah dengan tauhid :

لًبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ، لَا شَرِيْكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”.

Sifat Haji Nabi Shalallahu alaihi Wassalam

Tidak ada tuntunan yang khusus ketika beribadah haji/umroh sepanjang perjalanan dari miqot sampai Masjidil Haram melainkan hanya mengumandangkan talbiyah saja. Kita pun dapat melaksanakan amalan yang umum seperti berdo’a atau membaca Al-Qur’an di sepanjang perjalanan hal ini diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Terdapat faidah yang dapat kita ambil, bahwa pada lafadz talbiyah ini memiliki makna yang sangat dalam. Karena di dalamnya terdapat respon akan panggilan Allah dan mentauhidkannya. Sebagaimana permisalan dalam kehidupan manusia, ketika ada seseorang dipanggil oleh raja dalam rangka kebaikan maka ia akan berbahagia sekali, lalu bagaimana jika yang memanggil adalah raja segala raja yang menciptakan manusia dan alam semesta? Tentu ia akan lebih berbahagia lagi.

Orang yang melaksanakan ibadah haji/umroh mereka adalah utusan Allah, ketika mereka berdo’a maka do’anya akan di kabulkan oleh Allah. Maka dari itu ketika perjalanan menuju masjidil haram sepatutnya kita menggunakan waktu dengan sebaik mungkin untuk berdoa dan meresapi makna dari talbiyah yang kita kumandangkan.

Terdapat dalil umum bagi setiap orang yang memasuki kota Makkah baik dalam rangka untuk melaksanakan umroh/haji, berdagang, atau selainnya bahwa disunnahkan mandi sebelum memasuki tanah suci Makkah. Jika hendak memasuki Masjidil Haram maka memasukinya dengan kaki kanan dan membaca do’a masuk masjid.

Baca Juga : Bab Haji & Umroh (Bagian 5)

Kesimpulan dari pembahasan manasik yang telah kami sampaikan bahwa haji Rasulullah shalallahu alaihi wassalam itu pada tahun ke 10 Hijriyah. Pada saat itulah dikabarkan ke seluruh manusia bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam akan melaksanakan haji, maka datanglah kaum muslimin dari seluruh kabilah ke kota Madinah hendak meneladani dan mengamalkan tata cara haji yang Rasulullah contohkan. Karena Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda :

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ

“Ambillah dariku manasik-manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, mungkin saja aku tidak berhaji setelah hajiku ini”. (HR. Muslim).

Setelah itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sampai di Dzulhulaifah dan berihrom, Ketika perjalanan menuju Masjidil Haram tidak ada amalan khusus yang beliau lakukan kecuali bertalbiyah hingga sampai Masjidil Haram.

Dan diperbolehkan bagi Wanita yang sedang haid atau nifas melaksanakan ibadah haji/umroh yang mana faidah ini diambil dari perintah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kepada Asma’ binti ‘Umais untuk berihrom ketika di Dzulhulaifah meskipun baru melahirkan dan nifas. Wallohu ta’ala a’lam

Ustadz Ma'ruf Nusalam, Lc

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img