spot_img
BerandaKhutbah Jumat3 Sumber Segala Macam Dosa yang Dilakukan Manusia

3 Sumber Segala Macam Dosa yang Dilakukan Manusia

Imam Ibnul Qoyyim berkata,

أصول الخطايا كلها ثلاثة

الكِبْرُ وهو الذي صار إبليس إلى ما أصاره

والحرص وهو الذي أخرج آدم من الجنة

والحسد وهو الذي جر ابن آدم على أخيه

Pokok dan sumber dari segala macam dosa yang dilakukan manusia ada 3, yaitu:

  1. Sombong, inilah yang menjadikan Iblis seperti apa yang terjadi (Karena kesombongannya).
  2. Rakus, inilah yang menjadikan Nabi Adam dikeluarkan (Allah) dari dalam Surga.
  3. Iri, inilah yang menyebabkan anak Adam membunnuh saudaranya.

Apabila kita mencermatri 3 sifat ini dengan seksama, maka kita akan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Imam ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’ala adalah benar.

3 Sumber Segala Macam Dosa yang Dilakukan Manusia

1. Sombong (al-kibr)

Dosa yang pertama kali dilakukan oleh makhluk ciptaan Allah dan dia dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah dosa kesombongan dan keangkuhan. Maka sombong dan angkuh ini merupakan penyakit jiwa dan hati yang sangat berbahaya apabila menimpa hati seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala melaknat iblis keluar dari rahmat Allah karena keangkuhannya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡٓا اِلَّاۤ اِبۡلِيۡسَؕ اَبٰى وَاسۡتَكۡبَرَوَكَانَ مِنَ الۡكٰفِرِيۡنَ‏

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Qs. Al-Baqarah: 34)

Iblis termasuk makhluk yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk sujud kepada Adam ‘alaihi wa sallam, maka iblis enggan dan sombong sehingga dia termasuk ke dalam orang-orang yang kafir.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

قَالَ يٰۤـاِبۡلِيۡسُ مَا مَنَعَكَ اَنۡ تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَىَّ​ ؕ اَسۡتَكۡبَرۡتَ اَمۡ كُنۡتَ مِنَ الۡعَالِيۡنَ‏ قَالَ اَنَا خَيۡرٌ مِّنۡهُ​ ؕ خَلَقۡتَنِىۡ مِنۡ نَّارٍ وَّخَلَقۡتَهٗ مِنۡ طِيۡنٍ

 (Allah) berfirman, “Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”. (Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Qs. Sad: 75-76)

Dari hal tersebut dapat diketahui bahwasannya kesombongan dapat  menghalangi seseorang untuk taat terhadap perintah Allah.

 الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim).

Kesombongan dan keangkuhan adalah menolak kebenaran setelah datang kebenaran kepadanya, tapi dia menolak kebenaran tersebut. Lalu yang kedua adalah meremehkan dan merendahkan orang lain.

Maka dari itu kesombongan dan keangkuhan bisa menghalangi seorang hamba dari mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman,

اِنَّهُمۡ كَانُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُۙ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَۙ

“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), mereka menyombongkan diri,” (Qs. As-Saffat: 35)

Demikian pula kesombongan telah mencegah seseorang dari menerima kebenaran yang datang kepadanya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi. Apabila seseorang melihat ke dalam dirinya terdapat penyakit ini, hendaknya dia berupaya untuk menyembuhkannya dan memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah memberikan kesembuhan dari penyakit hati ini yang ada di dalam dirinya.

2. Rakus (al-hirsh)

Al-Hirsu merupakan sifat tamak atau rakus, ingin memiliki sesuatu. Sehingga jalan-jalan yang haram akan diterjang oleh orang yang memiliki sifat ini. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan tentang masalah ini dalam kisah Nabi Adam ‘alaihissalam yang dia dirayu oleh iblis dengan menjadi seorang penasihat,

وَقَاسَمَهُمَاۤ اِنِّىۡ لَـكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيۡنَۙ‏

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,” (Qs. Al-A’raf: 21)

Iblis bersumpah, sehingga Nabi Adam pun terpedaya dengan sumpah iblis, iblis bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa “Sesungguhnya aku ini (iblis) tiada lain kecuali sebagai penasihat bagi kalian”, sehingga terpedayalah adam dan dia ingin mendapatkan buah itu, padahal buah tersebut telah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka ketamakan ini pada dasarnya menjadikan seorang hamba itu tersiksa. Orang yang menginginkan sesuatu, entah itu harta, dunia, kekuasaan, dan yang lain sebagainya, maka sifat ini akan menyiksa dan mengadzab orang yang menginginkan sesuatu tersebut. Sehingga dia akan mengikuti hawa nafsunya dan menerjang jalan-jalan yang telah diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Abdullah bin mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

من طلب الدُّنيا أضرَّ بالآخرةِ، ومن طلَبَ الآخرةَ أضرَّ بالدُّنيا! فأضِرُّوا بالفاني للباقي

“Barangsiapa yang menghendaki dunia (tamak), maka pasti dia akan mengorbankan akhiratnya, dan barang siapa dia menginginkan akhirat maka pasti dia akan mengorbankan dunianya. Maka, korbankanlah yang fana untuk mendapatkan yang kekal”

Yakni dunia hanya digunakan sebagai tempat penyeberangan dan tidak lebih dari itu, karena dia mengetahui bahwa tujuan utamanya adalah negeri akhirat dan mendapat ridho Allah subhanahu wa ta’ala.

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata,

اعلموا أن قليلًا يغنيكم خيرٌ من كثيرٍ يلهيكم

“Ketahuilah bahwa sedikit yang mencukupi kalian lebih baik daripada banyak yang melalaikan kalian.”

Maka ketamakan dan kerakusan ini apabila ada dalam diri seorang hamba, maka hendaknya dia segera unntuk menyembuhkannya dan hendaknya dia menanamkan rasa syukur dalam dirinya terhadap nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Dia memohon kepadaa Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah menghilangkan al-hirs (sifat rakus dan tamak) ini dari dirinya. Dan Allah menganugerahkan kepadanya rasa syukur dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman,

وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ​ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ‏ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Qs. Ibrahim: 7)

3 Sumber Segala Macam Dosa yang Dilakukan Manusia

3. Dengki (al-hasad)

Ini adalah penyakit iri dan dengki yang membunuh seseorang, penyakit yang sangat tercela, yang akan membinasakan seseorang. Penyakit hasad ini adalah dosa pertama yang dilakukan di langit, yaitu ketika iblis hasad kepada Adam ‘alaihissalam, sehingga dia berusaha untuk mengeluarkan Adam dari surga Allah subhanahu wa ta’ala. Dan hasad ini adalah dosa pertama yang dilakukan di muka bumi ini tatkala salah satu anak Adam merasa iri dan dengki kepada saudaranya yang amal dan pengorbanannya diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sementara Allah tidak menerima pengorbanannya. Maka ia pun hasad dan dengki kemudian membunuh saudaranya.

Demikian pula hasad ini yang menjadikan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendzaliminya, padahal mereka ini adalah putra-putra dari Nabi Ya’kub ‘alaihissalam. Sehingga karena rasa iri dan dengki terhadap perlakuan Nabi Ya’kub kepada putranya yaitu nabi Yusuf, maka mereka berupaya untuk mengeluarkan Nabi Yusuf dari rumah mereka. Pertama kali yang mereka usulkan adalah agar Nabi Yusuf dibunuh, tapi salah satu saudaranya mengatakan “Jangan kalian membunuh Yusuf”, karena dia tahu bahwa diantara dosa-dosa besar seseorang adalah dosa membunuh. Kemudian dia mengusulkan untuk membuang Nabi Yusuf ke dalam sumur, sehingga nanti ada orang-orang musafir yang akan mengambilnya sebagai anak.

Hasad merupakan penyakit, maka Allah turunkan satu surat dalam Al-Qur’an agar kita memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari sifat hasad ini. Allah berfirman dalam surah Al-Alaq ayat 5,

قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِۙ‏ ١

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),

مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَۙ‏ ٢

dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

وَمِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ‏ ٣

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الۡعُقَدِۙ‏ ٤

dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ‏ ٥

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (Qs. Al-Alaq 1-5)

Ini adalah diantara doa yang diajarkan oleh Al-Qur’an, ini juga dianjurkan untuk dibaca di pagi hari dan sore hari, demikian juga setelah solat lima waktu untuk membaca 3 surat (al-ikhlas, al-falaq, dan an-nas) agar seseorang terhindar dari keburukan, salah satunya adalah penyakit hasad ini.

Hasad telah menjadikan perseteruan antara manusia, bahkan antara saudara. Hasad telah menjadikan seseorang lupa terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, hasad menjadikan seseorang lalai terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dibacanya, dari hadis-hadis nabi yang dipelajarinya. Maka dari itu hasad ini tidak hanya kepada manusia biasa. Ada seorang alim yang menulis tentang haasudul ‘ulama, yaitu tentang hasad diantara ulama satu dengan yang lainnya. Maka dari itu wahai para penuntut ilmu, hati-hatilah apabila kalian memiliki sifat hasad ini, segera sembuhkan penyakit ini! Mintalah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar hasad tidak ada pada dirimu. Mitalah agar Allah menyembuhkan apabila telah menjangkitimu.

Allah berfirman,

وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ​ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا​ وَاَحۡسِنۡ كَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰهُ اِلَيۡكَ​ وَلَا تَبۡغِ الۡـفَسَادَ فِى الۡاَرۡضِ​ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُفۡسِدِيۡنَ‏

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.(Qs. Al-Qasas: 77)

Allah memerintahkan kepadaa hamba-hambanya yang beriman, agar setiap nikmat dan anugrah yang Allah berikan kepadanya hendaknya dijadikan sebagai modal baginya untuk negeri akhirat, meskipun tidak harus dia melalaikan keperluan-keperluan duniawi yang memang menjadi tuntutan baginya.

Allah telah memberikan kepada kita berbagai macam nikmat, nikmat hidayah, nikmat taufiq, dan berbagai macam nikmat yang lain Maka marilah kita merenungkan ayat ini agar setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita hendaknya kita jadikan sebagai modal dan amal untuk negeri akhirat, yaitu dengan melakukan amal-amal kebaikan. Apabila seorang hamba benar-benar beriniat baik, hatinya bersih karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan menolong hambanya tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berirman,

وَالَّذِيۡنَ جَاهَدُوۡا فِيۡنَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَا ​ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-‘Ankabut: 69)

Maka apabila seseorang ingin mendapatkan kebaikan dan Allah bersamanya, hendaknya senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.

Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I.

Baca juga :

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img