Iman kepada Allah merupakan pokok segala keimanan dari rukun iman yang enam, ia merupakan prinsip dasar keimanan yang paling penting, utama dan yang paling Agung. Bahkan iman kepada Allah Azza wa Jalla merupakan pondasi bagi rukun-rukun iman yang lainnya, lima rukun iman yang lainnya berdiri tegak di atas iman kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala.
Daftar Isi
Makna Iman Kepada Allah
Makna iman kepada Allah ’Azza Wa Jalla adalah wajibnya beriman kepada keesaan Allah subhanahu wa ta'ala, Allah Yang Maha Esa dalam rububiyyahNya, uluhiyyahNya, dan Asma’ Wa ShifatNya. Dari definisi tersebut kita mengetahui bahwa tauhid terbagi menjadi tiga macam:
- Tauhid Rububiyyah
Makna rububiyyahnya Allah adalah menetapkan bahwa Allah merupakan Rabb segala sesuatu. Yakni mengesakan Allah pada setiap perbuatannya. Rabb mencakup pada tiga hal yaitu : al-kholq, al-mulk, dan at-tadbir.
- Al-kholq yaitu beriman bahwasannya yang menciptakan menciptakan alam semesta ini adalah Allah subhana wa taala dan tidak ada pencipta selain Allah ta'ala. Semua makhluk Allah yang ada dilangit, dibumi dan yang berada diantara keduanya merupakan ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala.
- Al-mulk yaitu beriman bahwasanya Allah subhanahu wata'ala menguasai segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi berada dibawah kekuasaan Allah subhanahuwata'ala.
- At-tadbir yaitu beriman bahwasanya yang mengatur alam semesta ini adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Allah lah yang mengatur hujan, rezeki, kematian dan segala sesuatu yang terjadi di langit ataupun bumi.
Tidak ada sekutu bagi Allah di dalam ketiga hal tersebut, Allah esa dan tidak butuh sekutu. Tidak boleh melakukan kesyirikan dalam masalah penciptaan, Ketika ada manusia seperti negara jepang yang menciptakan robot misalnya, sejatinya Allah lah yang menciptakan robot dan orang yang menciptakan robot tersebut. Karena yang namanya menciptakan adalah dari ketiadaan menjadi ada, hal ini terdapat pada hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam :
إِنَّ الله صَانِعُ كُلِّ صَانعٍ وصَنْعَتِه
”sesungguhnya Allah adalah pencipta setiap penemu dan barang temuannya”. (HR. Hakim)
Harus kita ketahui dan yakini bahwa tiada penguasa kecuali Allah ta'ala, seluruh kekuasaan para penguasa di dunia ini hanyalah sementara, penguasa yang hakiki hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala, Allah berfirman :
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
”Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 26)
Begitu pula dalam masalah pengaturan seluruh alam semesta, bahwa kita tidak boleh menyekutukan Allah dalam masalah pengaturan. Allah lah yang mengatur segala sesuatu, hingga para malaikat yang memiliki tugasnya masing-masing merupakan pengaturan dari Allah, Allah lah yang berkehendak menurunkan hujan, memberikan rezeki, mencabut nyawa dan lain-lain. Allah memerintahkan para malaikat untuk melaksanakan apa yang Allah kehendaki dan tetapkan.
Inilah yang harus kita yakini dan fahami mengenai keesaan Allah dalam rububiyah-Nya. Allah subahanahu wa ta’ala berfirmahdi dalam surat Al-fatihah :
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah : 1)

- Tauhid Uluhiyyah
Tauhid uluhiyyah adalah melakukan semua perbuatan yang kita diperintahkan untuk mengerjakannya hanya untuk Allah saja. Maka seluruh hal yang Allah perintahkan kepada kita tidak boleh diserahkan atau dipersembahkan kepada selain Allah. Hal-hal yang Allah perintahkan seperti: cinta, khusyu’, ruku’, sujud, menyembelih, bernadzar, dan seluruh amal ibadah yang hanya dikhususkan untuk Allah saja.
Dalam arti lain tauhid uluhiyah adalah beriman bahwasanya tiada sesembahan yang haq kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala, semua sesembahan selain Allah itu bathil. Misalnya ada manusia yang menyembah Malaikat, Nabi, Api, dan lain-lain, maka mereka semua tidak berhak untuk disembah, karena hak prerogatif untuk disembah hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ
”Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 163)
- Tauhid Asma’ Wa Shifat
Tauhid Asma’ Wa Shifat merupakan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah memiliki nama dan sifat yang termulia lagi sempurna, Allah memberikan nama dan sifat pada diri-Nya yang Dia kabarkan melalui Al-Qur’an dan lisan Nabi-Nya shallahu ’alaihi wa sallam, Allah tidak memiliki kekurangan pada nama dan sifat-Nya. Allah subahanahu wa ta’ala berfirman :
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ
”Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut (Asmaulhusna) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)
Termasuk mentauhidkan Allah dalam asma’ wa sifat adalah mensucikan Allah ta'ala dari semua kekurangan, cacat dan aib. Allah Maha Sempurna dari segala kekurangan, tidak ada kekurangan pada Allah Ta'ala. Dan termasuk mentauhidkan Allah dalam asma’ wa sifat adalah mensucikan Allah ta'ala dari menyerupainya dengan segala sesuatu yang hanya khusus dimiliki oleh Allah saja.
Contoh nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yaitu : menetapkan dan meyakini bahwa Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia Yang Maha Melihat, Mendengar, Pengasih, Penyayang dan yang lainnya dari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya.
Inilah tiga pondasi dalam beriman kepada Allah, Namun ada sebagian ulama yang menambahkan mengenai beriman kepada Allah yaitu kewajiban beriman terhadap keberadaan Allah subahanahu wa ta’ala. Allah itu ada dan bukan suatu khayalan, kita dapat mengetahui keberadaan Allah dari ciptaan-Nya yang sedemikian rupa teratur dan rapih, karena tidak mungkin semua hal yang berada di bumi dan di langit ini berbuat dengan sendirinya, pasti ada yang mengaturnya yaitu Allah subahanahu wa ta’ala.
Pada ketiga macam tauhid di atas terdapat dalil-dalil yang sangat banyak baik di Al-Qur’an ataupun hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang sahih. Al-Qur’an semua isinya dalah tauhid, hak-hak yang berkaitan dengannya dan balasan bagi orang-orang yang bertauhid. Begitu pula di dalam Al-Qur’an menjelaskan mengenai kesyirikan, para pelakunya, dan balasan bagi orang-oang yang melakukannya.
Baca Juga : Bukti Keagungan Allah
Pembagian tiga macam tauhid ini merupakan hasil kesimpulan para ulama setelah mencermati dan meneliti nas-nas Al-Qur’an serta As-Sunnah. Dari kesimpulan itu terdapatlah hakikat syar’i yaitu setiap manusia dituntut untuk mengimaninya, mengimani keesaan Allah baik pada Rubibiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ Wa SifatNya. Orang yang tidak beriman pada tiga macam tauhid ini maka dia tidak dinamakan sebagai orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Insya Allah ketiga macam tauhid ini akan kami jelaskan secara perinci pada pertemuan yang akan datang dengan disertai dalil dari Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan dalil akal yang tidak bertentangan. Inilah yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ta’ala a’lam.
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I



