spot_img
BerandaAqidah dan ManhajMengenal Tauhid Uluhiyyah: Definisi, Dalil, dan Urgensinya (Bagian 1)

Mengenal Tauhid Uluhiyyah: Definisi, Dalil, dan Urgensinya (Bagian 1)

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas mengenai tauhid rububiyah. Pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan pembahasan selanjutnya yaitu mengenai tauhid uluhiyyah.

Definisi Tauhid Uluhiyyah

Menurut bahasa atau etimologi kata Uluhiyyah berasal dari nama Al-Ilaah, yang memiliki makna disembah dan ditaati. Al-Ilaah merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang indah, sedangkan Uluhiyyah merupakan salah satu sifat diantara sifat-sifat Allah yang agung. Sedangkan menurut istilah atau terminologi tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah saja dalam melaksanakan seluruh ibadah kepada-Nya.

Penjelasan Dalil Mengenai Tauhid Uluhiyyah

Begitu banyak dalil yang menjelaskan akan kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah. Berikut ini beberapa bentuk dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut :

  • Terkadang dalam bentuk perintah, yaitu pada firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

”Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 21)

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا

”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (Qs. An-Nisa’ : 36)

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ

”Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’ : 23)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat semisal yang berisikan perintah untuk menyembah hanya kepada Allah saja.

  • Terkadang dalam bentuk penjelasan bahwasannya tauhid Uluhiyyah merupakan alasan diciptakannya alam semesta ini, serta alasan diciptakan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”(QS. Az-Zariyat : 56)

  • Terkadang dalam bentuk penjelasan bahwasannya tauhid Uluhiyyah merupakan tujuan diutusnya para Rasul, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ

”Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”. (QS. An-Nahl : 36)

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

”Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

  • Terkadang dalam bentuk penjelasan mengenai tujuan diturunkannya kitab-kitab Nya yaitu menjelaskan tauhid uluhiyyah kepada hamba-hambaNya :

يُنَزِّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ بِالرُّوْحِ مِنْ اَمْرِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اَنْ اَنْذِرُوْٓا اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاتَّقُوْنِ

”Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu atas perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu (dengan berfirman), “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku) bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, bertakwalah kepada-Ku.” (QS. An-Nahl : 2)

  • Terkadang dalam bentuk penjelasan besarnya pahala orang yang bertauhid dan segala hal yang dipersiapkan untuknya, berupa ganjaran serta kenikmatan yang mulia di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ

”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am : 82)

  • Terkadang dalam bentuk peringatan terhadap lawan dari tauhid yaitu syirik, beserta penjelasan akan bahayanya syirik dan penyebutan adzab pedih bagi orang yang menyekutukan Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

”Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Maidah : 72)

وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتُلْقٰى فِيْ جَهَنَّمَ مَلُوْمًا مَّدْحُوْرًا

”Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah).”(QS. Al-Isra’ : 39)

Mengenal Tauhid Uluhiyah

Dan dalil-dalil yang lain yang isinya mengandung penetapan akan tauhid Uluhiyyah, kewajiban mendakwahinya, keutamaannya, dan ganjaran yang besar bagi ahli tauhid serta besarnya hukuman atas orang yang menyimpang dari tauhid Uluhiyyah.

Begitu pula sunnah-sunnah Nabi penuh akan penjelasan terhadap tauhid Uluhiyyah dan urgensinya, diantaranya adalah :

  • Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari didalam kitab sahihnya, dari Mu’adz bin Jabal radiyallahu ’anhu beliau berkata bahwasannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?” Aku jawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya adalah hendaknya mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan disiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (HR. Bukhari : 2644)

  • Dari Ibnu ’Abbas rodiyallahu ’anhu, beliau berkata : ”ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ

“Wahai Mu'adz, engkau mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah pertama-tama yang engkau sampaikan adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta'ala. Jika mereka telah sadar terhadap hal ini, beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan lima shalat kepada mereka dalam sehari semalam…”. (HR. Bukhari : 7372)

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran yang dapat kita petik, diantaranya adalah :

  1. Mendakwahi tauhid serta berupaya menyebarkannya ketempat yang jauh seperti daerah-daerah pelosok, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dengan mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal ke Yaman.
  2. Hendaknya bagi seorang da’i mengetahui perihal kaum yang akan didakwahi olehnya.
  3. Pentingnya mendakwahi tauhid kepada umat.
  4. Hendaknya dalam berdakwah seseorang bertahap dalam menyampaikannya.
  5. Hadits ini menjelaskan kepada kita akan pentingnya salat lima waktu setelah dua kalimat syahadat.
  • Dari ’Abdullah bin Mas’ud bahwasannya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk neraka.” (HR. Bukhari : 4497)

  • Dari Jabir bin ’Abdillah radiyallahu ’anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَن لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ به شيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ، ومَن لَقِيَهُ يُشْرِكُ به دَخَلَ النَّارَ

”Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyekutukan Allah maka ia akan masuk neraka”. (HR. Muslim : 93) Hadits-hadits yang semisal ini sangat banyak di kitab kitab hadits para ‘Ulama.

Penjelasan Urgensi Tauhid Uluhiyyah

Tidak diragukan lagi bahwasannya tauhid uluhiyyah merupakan prinsip dasar yang paling agung, sempurna, utama, dan yang paling wajib demi kebaikan manusia. Karena tauhid uluhiyyah inilah Allah menciptakan jin, manusia, dan seluruh alam semesta. Berikut ini beberapaurgensi tauhid uluhiyyah yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah :

  • Tauhid uluhiyyah merupakan inti dari pada dakwahnya para Nabi dan Rasul. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ

”Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”. (QS. An-Nahl : 36)

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

”Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

  • Tauhid uluhiyyah merupakan kunci dakwah para Nabi dan Rasul dan tauhid uluhiyyah merupakan materi yang paling pertama dan utama didakwahkan oleh para Rasul kepada kaumnya. Sebagaimana firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini :

۞ وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

”(Kami telah mengutus) kepada (kaum) ‘Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Tidakkah kamu bertakwa?” (QS. Al-A’raf : 65)

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

”Kami telah mengutus) kepada (kaum) Samud saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kamu tuhan selain Dia. Sungguh, telah datang kepada kamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta betina Allah untuk kamu sebagai mukjizat. Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan keburukan apa pun sehingga kamu ditimpa siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-A’raf : 73)

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ

”Kepada penduduk Madyan, Kami (utus) saudara mereka, Syuʻaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada bagimu tuhan (yang disembah) selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah merugikan (hak-hak) orang lain sedikit pun. Jangan (pula) berbuat kerusakan di bumi setelah perbaikannya. Itulah lebih baik bagimu, jika kamu beriman.” (QS. Al-A’raf : 85)

Wallahu A’lam

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img