spot_img
BerandaAqidah dan ManhajTauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup Menyelamatkan dari Neraka

Tauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup Menyelamatkan dari Neraka

Setelah pembahasan hakikat tauhid rububiyah yang mutlak hanya milik Allah saja. Selanjutnya kita akan membahas mengenai keyakinan seseorang terhadap tauhid rububiyah saja tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya dari api neraka. Seperti dia hanya mengimani bahwa Allah lah yang menciptakan, mengatur, menguasai, dan semisalnya dari seluruh perbuatan Allah.

Perlu kita ketahui orang-orang musyrikin di zaman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun mengimani tauhid rububiyah, namun mereka tetap mendapatkan ancaman kekal di dalam neraka. Tauhid rububiyah merupakan salah satu dari tiga jenis tauhid yang mana seorang hamba wajib mengimaninya. Karena tidak sah iman seseorang sebelum ia merealisasikan tauhid rububiyah, yakni mengesakan Allah pada setiap perbuatan yang hanya khusus dimiliki oleh-Nya. Akan tetapi tauhid rububiyah ini bukanlah alasan Allah mengutus para Rasul ’alaihimus salam kepada umat manusia, dan beriman dengan tauhid ini saja tidak akan menyelamatkan seseorang dari azab Allah sebelum ia mengimani tauhid uluhiyah. Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ

”Kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka musyrik.” (QS. Yusuf : 106)

Maksud dari ayat tersebut yakni kebanyakan dari mereka tidaklah dikatakan beriman kepada Allah bahwasannya Dia Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Memberi Rizki, dan Yang Maha Mengatur, itu semua merupakan bagian dari tauhid uluhiyah. Melainkan mereka tetap dikatakan menyukutukan Allah karena bersamaan beribadah kepada Allah mereka pun beribadah kepada selain Allah.

Terdapat tafsir mengenai ayat diatas yang dijelaskan oleh para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Berikut ini penjelasannya :

’Abdullah bin ’Abbas radiyallahu ’anhuma berkata : ”Yang dimaksud dari keimanan mereka (orang-orang musyrik). Jika ditanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit, bumi dan gunung? Maka mereka menjawab : ”Allah”, akan tetapi mereka tetap menyekutukan Allah (dalam beribadah)”.

’Ikrimah rahimahullah berkata : “Engkau tanyakan kepada mereka (orang-orang musyrik), Siapakah yang menciptakan mereka dan siapakah yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan mengatakan ”Allah”. Itulah keimanan mereka terhadap rububiyahnya Allah, akan tetapi mereka menyembah kepada selain Allah”.

Mujahid rahimahullah berkata : “Keimanan mereka yakni ucapan mereka: ”Allah adalah Pencipta kami, Pemberi rizki kepada kami, dan Yang Mematikan kami. Ini lah keimanan mereka (terhadap rububiyah nya Allah) bersamaan itu mereka menyekutukan Allah dengan beribadah kepada selain-Nya”.

’Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bin Zaid berkata : ”tiada seorang pun yang menyembah menyembah Allah bersamaan menyembah selain-Nya melainkan ia merupakan orang yang mengimani bahwasannya Allah adalah robbnya, penciptanya, dan pemberi rizkinya, akan tetapi disisi lain dia menyekutukan Allah. Tidakkah engkau melihat apa yang dikatakan oleh Ibrahim ’alaihis salam?

قَالَ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمُ الْاَقْدَمُوْنَ ۙ فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?. Kamu dan nenek moyangmu terdahulu?. Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam. (QS. Asy-Syu’ara’ : 75 – 77).

Tauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup Menyelamatkan dari Neraka

Ungkapan-ungkapan seperti ini dari salaf terdahulu sangatlah banyak. Bahkan orang-orang musyrik yang hidup di zaman Nabi shallallahu ’alaihi wa salam meyakini dan mengakui bahwa Allah adalah rabb, sang pencipta, pemberi rizki, dan sang pengatur seluruh alam semesta. Namun kesyirikan mereka kepada Allah adalah dari sisi ibadah, yang mana mereka menjadikan berhala-berhala sebagai tandingan dan sekutunya Allah. Mereka berdoa, beristighotsah, serta mengadukan kebutuhan dan keinginan mereka kepada berhala-berhala tersebut.

Al-Qur’an telah menjelaskan di beberapa ayat mengenai keimanan orang-orang musyrik terhadap rububiyah-nya Allah bersamaan dengan kesyirikan mereka dalam beribadah kepada-Nya. Diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗفَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

”Jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan,” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan?”. (QS. Al-’Ankabut : 61).

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۙقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ۗبَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ

”Jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu dengan (air) itu menghidupkan bumi setelah mati,” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah.” Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-’Ankabut : 63)

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ فَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَۙ

”Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan?”. (QS. Az-Zukhruf : 87).

قُلْ لِّمَنِ الْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهَآ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ قُلْ مَنْۢ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ فَاَنّٰى تُسْحَرُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu tidak ingat?”. Katakanlah, “Siapakah pemilik langit yang tujuh dan pemilik ʻArasy yang agung?”. Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu tidak bertakwa?”. Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), bagaimana kamu sampai tertipu?” (QS. Al-Mu’minun : 84 – 89).

Baca Juga : Iman Kepada Allah

Kesimpulannya adalah semua ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa Allah-lah yang menciptakan, memberi rizki, dan mengatur seluruhnya. Serta menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang musyrikin meyakini akan rububiyah-nya Allah, namun mereka menyekutukan Allah dalam beribadah, mereka menyekutukan Allah dengan beribadah kepada selain Allah bersamaan beribadah kepada-Nya. Dikarenakan keyakinan mereka yang demikian mereka tetap tidak akan selamat dari adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Keyakinan terhadap tauhid rububiyah saja tidak cukup untuk menyelamatkan seorang hamba dari adzab Allah sebelum ia meyakini tauhid uluhiyah-nya Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang musyrik tidak meyakini bahwa berhala-berhala merekalah yang menurunkan hujan, memberikan rizki, dan mengatur seluruh alam semesta. Mereka mengakui bahwasannya berhala-berhala yang mereka sembah adalah makluk yang Allah ciptakan, mereka meyakini berhala-berhala tersebut tidak dapat memberikan manfaat, mudorot, serta tidak dapat mendengar dan melihat. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu tidak memiliki sedikitpun sifat rububiyah karena mereka adalah makhluk.

Alasan orang-orang musyrik menyembah berhala adalah menjadikannya sebagai sekutu Allah yang memperantarai mereka dengan Allah. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat lebih mendekatkan diri mereka dengan Allah serta menjadi syafa’at bagi mereka. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ

”Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar : 3)

Oleh karena itu, penetapan orang-orang musyrik terhadap rububiyah nya Allah belum dapat memasukan mereka kedalam islam. Bahkan Allah menghukumi mereka sebagai orang musyrik yang kafir, mendapatkan ancaman kekal di neraka, dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun menghalalkan darah dan harta mereka hingga mereka mengesakan Allah saja dalam beribadah.

Wallahu a’lam.

Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img