Daftar Isi
Definisi Tauhid Rububiyyah
- Secara Etimologi/Bahasa
Kata rububiyah merupakan mashdar atau asal kata dari kata kerja رَبَّبَ, ar-rububiyyah merupakan sifat Allah yang memiliki beberapa makna, diantaranya adalah yang menguasai, tuan yang di taati, dan yang memperbaiki.
- Secara Terminologi/Istilah
Adapun secara terminologi tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah pada seluruh perbuatanNya. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam seluruh perbuatanNya, baik menciptakan, memiliki, mengatur, dan seluruh hal yang terjadi di alam semesta ini. Disebutkan pada buku ini bahwa diantara perbuatan-perbuatan Allah adalah Yang Menciptakan, Yang Memberikan Rizki, Yang Mengatur, Yang Memberikan Nikmat, Yang Menguasai, Yang Membentuk, Yang Memberi, Yang Menahan, Yang Menhidupkan, Yang Mematikan, Yang Memutuskan atau Menetapkan suatu perkara, dan seluruh perbuatan Allah lainnya yang mana tidak ada sekutu padanya. Oleh karena itu wajib atas seluruh hamba untuk mengimani seluruh perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalil atau Dasar Tauhid Rububiyyah
- Dalil dari Al-Qur’an
Dasar mengenai tauhid rububiyah disebutkan pada beberapa dalil dari ayat Al-Qur’an diantaranya dalam surat Luqman ayat 10 dan 11 :
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ هٰذَا خَلْقُ اللّٰهِ فَاَرُوْنِيْ مَاذَا خَلَقَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ بَلِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ࣖ
”Dia menciptakan langit tanpa tiang (seperti) yang kamu lihat dan meletakkan di bumi gunung-gunung (yang kukuh) agar ia tidak mengguncangkanmu serta menyebarkan padanya (bumi) segala jenis makhluk bergerak. Kami (juga) menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami menumbuhkan padanya segala pasangan yang baik. Inilah ciptaan Allah. Maka, perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sembahanmu) selain-Nya. Sebenarnya orang-orang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Luqman : 10 – 11).
Kemudian diantara dalil lainnya yang disebutkan oleh Al Qur'anul Karim yaitu firman Allah dalam Surat At Thur ayat 35 :
اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَۗ
”Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. At-Thur : 35)
Pada ayat tersebut Allah bertanya kepada manusia untuk mengingkari mereka, karena tidak mungkin manusia tercipta tanpa ada yang menciptakan mereka atau mereka menciptakan diri mereka sendiri. Dengan demikian ada dzat yang menciptakan mereka yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua pertanyaan Allah pada ayat tersebut diarahkan kepada orang-orang musyrik yang tidak beriman kepada Allah agar mereka menggunakan akal pikiran mereka yang sehat.
Baca Juga : Kita Diperintah Untuk Beribadah
Ada suatu kisah dari sahabat Zubair bin Muth’im radiyallahu ’anhu sebelum Beliau memeluk agama islam, suatu ketika Beliau radiyallahu ’anhu melewati Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam disaat Rasulullah sedang membaca surat At-Thur. Bahwasannya Zubair bin Muth’im mendengar surat At-Thur ayat 35 ini, lalu Zubair bin Muth’im radiyallahu ’anhu berkata : ”hampir saja hatiku melayang ketika mendengar ayat tersebut”. Setelah mendengar ayat tersebut Zubair pun memeluk agama islam. Sungguh ayat-ayat Al-Qur’an sangat mengena pada kaum kafir Quraisy karena mereka memahami maknanya dengan betul dan mendalam, sehingga ketika ada yang mendengarnya secara langsung, akan membuat mereka berfikir dengan akal sehatnya mengenai dzat yang menciptakan mereka. Maka seyognya seorang muslim mentadaburi dan merenungi makna makna ayat Al-Qur’an agar memiliki pengaruh yang baik pada kehidupannya.
- Dalil dari As-Sunnah
Dalil dari hadis hadis Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam mengenai tauhid rububiyyah, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Imam Abu Daud dari hadits sahabat ’Abdullah bin Asy-Syikkhir radiyallahu ’anhu Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
السيِّدُ اللهُ تبارك وتعالى
“Yang patut ditaati dan dimuliakan adalah Allah tabaraka wa ta’ala” (HR. Abu Daud : 4806 dan Ahmad : 16359)
Diantara dalil lain mengenai tauhid rububiyah adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi bahwasannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada ’Abdullah bin ’Abbas radiyallahu ’anhuma :
وَاعْلَم أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، ولَوِ اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ
”Ketahuilah, kalau seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu, dan kalau seandainya mereka bersatu untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, niscaya tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. at Tirmidzi : 2516, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)

Hadits ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan rububiyyahnya Allah, bahwa Allah telah mencatat segala sesuatu dan semuanya pasti akan terjadi.
- Dalil Secara Akal
Akal yang sehat akan menunjukkan tentang adanya Allah subhanahu wa ta’ala serta keesaanNya dalam rububiyyah, akal yang sehat akan menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala atas seluruh maklukNya. Hal tersebut dapatercapai dengan cara merenungkan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala, terdapat banyak cara dalam merenungi ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala diantaranya ada dua cara yaitu:
Pertama; merenungi kebesaran Allah melalui diri manusia sendiri yang disebut dengan dalalatul anfus, karena diri manusia merupakan salah satu tanda diantara tanda-tanda kebesaran Allah subahanahu wa ta’ala yang menunjukkan keesaan Allah dalam rububiyyahNya serta tidak ada sekutu bagiNya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
”(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat : 21)
Dalam ayat lain Allah berfirman juga :
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ
”dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya.”(QS.Asy-Syams : 7)
Seandainya manusia mencermati terhadap apa yang ada pada diri mereka berupa keajaiban-keajaiban ciptaan Allah, maka hal itu akan membimbing mereka bahwa terdapat Rabb yang menciptakan dan mengatur diri mereka.
Kedua; merenungi ayat-ayat Allah melalui ciptaanNya yang ada di alam semesta atau yang disebut dengan dalalatul afaq, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat : 53)
Insya Allah pembahasan akan kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang. Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi semuanya, dan menambah keyakinan kita terhadap Allah subhanahu wa ta'ala sehingga kita betul-betul bersyukur kepadaNya dengan meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Inilah yang dapat kami sampaikan.
Wallahu ta’ala a’lam.
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I
Baca Juga : Iman Kepada Allah



