spot_img
BerandaAqidah dan ManhajAllah yang Menamakan Kita Muslim: Menjaga Identitas Sesuai Syariat

Allah yang Menamakan Kita Muslim: Menjaga Identitas Sesuai Syariat

Dalam surah Al-Hajj ayat 78, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

هُوَ سَمََّكُمْ الْمُسْلِمِيْنَ
“Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu dan dalam (kitab) ini (Al-Qur'an)” (QS. Al-Hajj: 78)

Ibnu Abbas dan Mujahid menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa Allah telah menyebut umat ini sebagai kaum Muslimin dalam kitab-kitab sebelumnya, bahkan sebelum turunnya Al-Qur'an.

Bahaya Menyeru kepada Seruan Jahiliyah

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ﻣﻦ ﺍﺩﻋﻰ ﺩﻋﻮﻯ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻓﺈﻧﻪ ﻣﻦ ﺟﺜﺎ ﺟﻬﻨﻢ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﺻﻠﻰ ﻭﺻﺎﻡ؟ ﻓﻘﺎﻝ : ﻭﺇﻥ ﺻﻠﻰ ﻭﺻﺎﻡ ﻓﺎﺩﻋﻮﺍ ﺑﺪﻋﻮﻯ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺳﻤﺎﻛﻢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ

 “Barangsiapa yang menyerukan manusia kepada seruan jahiliyyah, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk kedalam penghuni neraka”. Kemudian ada seseorang yang bertanya kepada Nabi tentang hal itu “Wahai Rasulallah, meskipun dia mengerjakan shalat dan puasa.? Dan Nabi menjawab “Meskipun orang tersebut mengerjakan shalat dan puasa.” maka serulah manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mana Allah menyebut mereka sebagai orang-orang muslim dan beriman kepadaya Azza Wa Jalla (HR. Tarmidzi).

Makna dakwah jahiliyah atau seruan jahiliyah menurut para ulama, seperti dijelaskan oleh Al-Mubarakfuri rahimahullah, memiliki dua makna:

  1. Seruan untuk menghidupkan kembali tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan Islam.
  2. Seruan fanatisme golongan, baik untuk menolong yang dizalimi maupun yang menzalimi.

Fanatisme kelompok ini banyak terjadi akibat ketidaktahuan dan kebodohan dalam agama.

Bahaya Menisbatkan Diri kepada Nama Selain Muslim

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

من أقر باسم من هذه الأسماء المحدثة فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

“Barangsiapa yang mengakui nama-nama baru (selain Islam), maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”(Al-Ibanah 1/354).

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata:

“Berhati-hatilah kalian dari segala nama selain nama Islam.”(Al-Ibanah 1/354).

Ucapan ini mengandung peringatan keras agar kaum Muslimin tidak bermudah-mudahan dalam memberikan julukan dan label di luar nama yang telah Allah tetapkan: Muslim.

Allah yang Menamakan Kita Muslim

Islam Adalah Sunnah dan Sunnah Adalah Islam

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata:

اعْلَمُوا أَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ السُّنَّةُ، وَالسُّنَّةَ هِيَ الْإِسْلَامُ

“Ketahuilah bahwa Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam.”(Syarah Sunnah hal 65)

Maksudnya, Islam yang dimaksud adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadits. Sunnah dalam arti luas adalah agama Islam itu sendiri.

Nama-nama yang Disyariatkan dan Penyandaran kepada Salaf

Al-Lalika'i rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh kelompok yang menyimpang menisbatkan nama kelompok mereka kepada pencetus pemikiran mereka. Berbeda dengan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, mereka menisbatkan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengikuti beliau secara utuh.

Mereka dikenal dengan nama-nama seperti Al-Muslimin, Ahlul Hadits, dan Ahlus Sunnah. Nama-nama ini bukanlah bid‘ah atau celaan, melainkan keutamaan karena merupakan penisbahan kepada generasi terbaik: salafush shalih.

Komentar Para Ulama Tentang Manhaj Salaf Al-Imam As-Safarini berkata:

“Manhaj Salaf adalah metode beragama para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in, yang diterima dan diikuti oleh generasi setelahnya.”

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili juga menegaskan pentingnya memahami ayat-ayat secara menyeluruh dan tidak memotong sebagian ayat yang justru bisa menyebabkan kesesatan dan perpecahan.

Baca Juga: Jangan Ikuti Mayoritas Jika Menyimpang

Pokok-Pokok Penting dalam Pembahasan Ini:

  1. Allah Subhanahu wa Ta'ala menamakan kita sebagai Muslimin, dan kita wajib ridha serta bangga dengan nama tersebut.
  2. Menisbatkan diri kepada Salaf adalah penisbahan kepada Islam yang murni.
  3. Penyandaran kepada manhaj salaf menyatukan umat, bukan memecah belah.
  4. Allah memerintahkan kita untuk bersatu, bukan berpecah belah.
  5. Menisbatkan diri kepada kelompok tertentu di luar ajaran Nabi adalah penyebab perpecahan dan termasuk seruan jahiliyah.

Sudah seharusnya setiap Muslim memahami bahwa kebanggaan tertinggi dalam beragama adalah dengan menyandang nama yang telah Allah tetapkan, yaitu Muslim. Menjaga identitas ini adalah bagian dari menjaga agama, menjauhkan diri dari fanatisme golongan, dan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai satu-satunya panutan dalam beragama.

هُوَ سَمََّكُمْ الْمُسْلِمِيْنَ
“Dia telah menamakan kalian sebagai Muslim.” (QS. Al-Hajj: 78)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img