Daftar Isi
Dalam kehidupan beragama, Islam menekankan pentingnya mengikuti kebenaran, bukan mayoritas. Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-An'am ayat 116:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
“Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An'am: 116)
Tafsir dan Penjelasan Ulama
Al-Imam Al-Baghawiy rahimahullah menjelaskan bahwa jika seseorang mengikuti keinginan mayoritas manusia, maka ia akan tersesat dalam beragama. Kebanyakan manusia hidup dalam kesesatan, karena tidak mengesakan Allah dalam agama mereka dan banyak yang menyimpang. Mereka pun sedikit yang bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam surah Saba ayat 13:
وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah juga menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah memperingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak mengikuti kebanyakan manusia dalam urusan agama. Hal ini karena banyak dari mereka menyimpang dalam ilmu dan amal, mengikuti hawa nafsu, dan tidak mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari.
Teladan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Allah Ta'ala berfirman:
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.” (An-Nahl : 120)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang pemimpin yang sangat taat dan takut kepada Allah, mengesakan-Nya dan tidak berbuat syirik. Meskipun dalam keadaan sendiri, beliau tetap konsisten dalam tauhid, sehingga Allah menyebut beliau sebagai “ummatan” (umat) tersendiri.

Banyak Pengikut (Mayoritas) Bukan Tolak Ukur Kebenaran
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عُرِضتْ عليّ الأممِ، فرأيتُ النبيَّ ومعه الرُّهيْط، والنبيَّ ومعه الرجلُ والرجلان، والنبيَّ وليس معه أحدٌ
“Diperlihatkan kepadaku umat-umat terdahulu. Aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikut, ada nabi dengan dua pengikut, dan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa jumlah pengikut bukanlah tolak ukur kebenaran. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap di atas kebenaran meski sendirian, karena kebenaran diukur dengan dalil, bukan mayoritas.
Baca Juga: Peringatan Bagi yang Meninggalkan Sunnah dan Melakukan Perkara Baru dalam Agama
Makna Al-Jama'ah yang Sebenarnya
Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
“Sesungguhnya mayoritas orang-orang itu menyimpang dari jalan yang benar. Al-Jama'ah adalah orang yang taat kepada Allah dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun dia sendirian.” .”(Ushul I’tiqad Ahlussunnah, jilid 1 hal 108)
Demikian pula Imam Abu Ya'kub menyatakan bahwa makna Al-Jama'ah adalah ulama yang berpegang teguh pada sunnah Nabi. Jika seseorang menyelisihi ulama ini, maka ia bukan termasuk Al-Jama'ah, walaupun pengikutnya banyak.
Kesimpulan dan Pokok-Pokok Penting
- Surah Al-An'am ayat 116 menunjukkan bahwa mayoritas manusia berada dalam penyimpangan.
- Surah An-Nahl ayat 120 menegaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah teladan dalam keteguhan di atas tauhid meskipun seorang diri.
- Banyaknya pengikut bukan ukuran kebenaran.
- Kebenaran hanya diketahui melalui dalil, bukan kuantitas pengikut.
- Al-Jama'ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran meskipun jumlahnya sedikit.
Semoga kita termasuk dalam golongan yang istiqamah di atas kebenaran, meskipun sendirian. Wallahu a'lam.



