BerandaAqidah dan ManhajCara Beriman Kepada Para Rasul

Cara Beriman Kepada Para Rasul

Apa sajakah yang menjadi kewajiban bagi setiap mukmin dalam beriman kepada para Rasul?

Prinsip dasar dakwah para Rasul adalah satu yaitu berdakwah dan menyeru manusia agar mereka mentauhidkan Allah semata, Adapun syariat para Rasul berbeda-beda. Oleh karenanya Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” [Al Anbiyaa’ 21:25]

Akan tetapi syariat setiap Rasul itu boleh berbeda, sebagaimana Allah Ta’ala berifrman,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗ

“Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” [Al Maidah 5:48]

Semua Rasul telah Menyampaikan Semua Risalah

            Yang merupakan kewajiban bagi kita dalam beriman kepada para Rasul adalah mengakui bahwa semua Rasul telah menyampaikan semua risalah dari Allah Subhanahau Wa Ta’ala dengan jelas. Demikian pula Rasul yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyampaikan semua risalah kepada semua umatnya.

            Dengan sempurnanya penyampaian risalah dari para Rasul, maka telah ditegakkannya hujjah atas semua manusia, sehingga tidak ada alasan untuk tidak beriman. Allah Ta’ala berfirman,

لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ وَاَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا ࣖ

“(Yang demikian itu) agar Dia mengetahui bahwa (rasul-rasul itu) benar-benar telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedangkan (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka. Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.” [Al Jin 72:28]

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۗ

“Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus).” [An Nisaa’ 4:165]

Sehingga tidak ada lagi alasan bagi manusia, jika nereka mengatakan bahwa belum datangnya risalah kerasulan dari seorang pun kepada mereka.

Prinsip dasar dakwah para Rasul adalah satu yaitu berdakwah dan menyeru manusia agar mereka mentauhidkan Allah semata, Adapun syariat para Rasul berbeda-beda.

Rasul Allah adalah manusia-manusia biasa

            Dan diantara yang wajib bagi manusia dalam beriman kepada para Rasul adalah para Rasul Allah adalah manusia-manusia biasa yang merupakan ciptaan Allah, mereka tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan walaupun sedikit. Akan tetapi, mereka adalah hamba-hamba Allah yang Allah muliakan dengan diberikan risalah untuk disampaikan kepada ummat-ummat mereka. Allah Ta’ala befirman,

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَمَا كَانَ لَنَآ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, “Kami hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidak mungkin bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah.” [Ibrahim 14:11]

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

وَلَآ اَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِيْ خَزَاۤىِٕنُ اللّٰهِ وَلَآ اَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَآ اَقُوْلُ اِنِّيْ مَلَكٌ وَّلَآ اَقُوْلُ لِلَّذِيْنَ تَزْدَرِيْٓ اَعْيُنُكُمْ لَنْ يُّؤْتِيَهُمُ اللّٰهُ خَيْرًا ۗ

“Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai perbendaharaan (rezeki) Allah. Aku tidak mengetahui yang gaib dan tidak (pula) mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat. Aku tidak (juga) mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka.” [Huud 11:31]

Kesimpulannya, para Nabi juga membutuhkan Allah dan tidak pernah mengucapkan bahwa mereka seperti tuhan, mengetahui hal-hal yang goib kecuali yang Allah Ta’ala beritahukan kepada mereka, sehingga mereka adalah manusia biasa dan sama seperti manusia pada umumnya.

Rasul Allah adalah Orang-Orang yang Diberikan Pertolongan dan Kemenangan

            Dan yang berikutnya yang merupakan kewajiban bagi manusia dalam beriman kepada para Rasul adalah mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang diberikan pertolongan dan kemenangan beserta para pengikut mereka. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari dihadirkannya para saksi (hari Kiamat),” [Ghafir 40:51]   

            Kewajiban berikutnya adalah mengimani bahwa para Rasul ada yang lebih tinggi dari yang lainnya dari segi derajat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ 

“Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) dengannya dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat.” [Al Baqoroh 2:253]

Sebagaimana dalam kasus Allah berbicara secara langsung kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam yang mana hal ini tidak dimiliki oleh Rasul-rasul yang lainnya.

Semua ini wajib untuk kita imani dan yakini dengan setiap apa yang datang dalam Al Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Semua hal ini diyakini dan diimani secara umum.

            Kemudian penulis menjelaskan kewajiban dalam beriman kepada para Rasul secara terperinci. Di antara kewajiban itu adalah beriman dengan setiap Rasul yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Seperti yang disebutkan tentang nama-nama mereka, kisah-kisah mereka da, keutamaan-keutamaan mereka. Dan yang nama-nama mereka disebutkan dalam Al-Qur’an ada 25 orang Rasul sekaligus Nabi. Dan Allah sebutkan 18 Nabi dalam satu keadaan, Allah Ta’ala berfirman,

وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ٨٣ وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَـٰقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُۥدَ وَسُلَيْمَـٰنَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ ٨٤ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّۭ مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ ٨٥ وَإِسْمَـٰعِيلَ وَٱلْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًۭا ۚ وَكُلًّۭا فَضَّلْنَا عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ ٨٦

“Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Kami telah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub. Tiap-tiap mereka telah Kami beri petunjuk. Sebelumnya Kami telah menganugerahkan petunjuk kepada Nuh. (Kami juga menganugerahkan petunjuk) kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Demikian juga kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (Begitu juga kepada) Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Lut. Tiap-tiap mereka Kami lebihkan daripada (umat) seluruh alam (pada masanya).” [Al An’am 6:83-86]

Kemudian penulis menyebutkan yang tersisa dari Nabi-nabi tersebut di tempat yang lain, contohnya dalam surat Al-A’raaf ayat yang ke-65 tentang Nabi Huud. Begitupun juga dalam surat Al-Israa’ ayat yang ke-73 tentang Nabi Shalih, dan ayat-ayat yang lainnya. Dan penyebutan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam surat Al-Fath ayat yang ke-29. Sehingga wajib bagi kita untuk mengimani mereka secara terperinci.

Meyakini Hadis-Hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang Menyebutkan Kemuliaan Para Rasul.

            Merupakan kewajiban kita juga dalam beriman kepada para Rasul adalah meyakini Hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang menyebutkan kemuliaan para Rasul. Sebagaimana Allah menjadikan Nabi Muhammad dan Ibrohim sebagai kekasih Allah. sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘AlAihi Wa Sallam,

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِى خَلِيلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikanku kekasih-Nya sebagaimana Allah menjadikan Ibrohim sebagai kekasih-Nya” [HR. Muslim]

Dan di antara keistimewaan para Rasul yang harus diimani adalah gunung dan burung-burung tunduk kepada Nabi Dawud sebagaimana dalam firman Alla Ta’ala,

وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ

“Kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) Kami memberi hikmah dan ilmu. Kami menundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud. Kamilah yang melakukannya.” [Al Anbiyaa’ 21:79]

Contoh lain beriman kepada Rasul dengan keistemwaan dan keutamaannya adalah Allah menjadikan angin tunduk kepada Nabi Sulaiman, begitupun juga dengan Jin tunduk kepadanya sebagaiaman dalam surat Saba’ (34) ayat yang ke-12.

            Demikian pula, kita harus mengimani kisah-kisah para Rasul yang ditolong oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti kisah Nabi Musa dan Fir’aun, kisah tentang Nabi Ibrahim dengan kaumnya, kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya dan lain-lain. Semua kisah itu wajib kita imani yang berada di dalam Al-Qur’an dan juga Hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

            Dengan demikian terwujudlah keimanan seseorang dengan para Rasul baik secara global maupun terperinci.

Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I

Baca Juga : Kembalilah Kepada Keyakinan Agama Nabi Ibrahim

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img