BerandaAqidah dan ManhajKembalilah Kepada Keyakinan Agama Nabi Ibrahim

Kembalilah Kepada Keyakinan Agama Nabi Ibrahim

Hakikat Agama Nabi Ibrahim

Sebagaimana telah kita yakini bersama, bahwa semua Nabi dan utusan Allah mengemban amanat yang satu, yaitu mengajak manusia untuk menyembah, beribadah dan mengabdi hanya kepada Allah saja, serta menjauhi, meniadakan dan mengingkari tuhan-tuhan selain Allah. Firman-Nya :

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ 

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…” (QS. an-Nahl : 36)

Prinsip ini harus kita yakini di dalam sanubari kita, tanpa terkotori sedikitpun oleh keraguan. Karena, keraguan atas prinsip ini, akan menjadikan iman kita lemah dan goyah, atau bahkan mungkin bisa terhapus dari dada-dada kita.

Berangkat dari prinsip ini, maka kita tidak perlu ragu atas kesesatan orang-orang yang mengaku Islam, sedangkan ia menyebarkan racun yang mematikan di tengah kaum muslimin, bahwa mungkin saja para penyebar agama lain adalah para Nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, yang kita tidak diberitahu nama-nama mereka.

Padahal Allah telah menjamin, bahwa para Nabi dan rasul-Nya tidak pernah menyeru kepada kemusyrikan, bahkan seruan mereka hanya satu, yaitu kita wajib beribadah kepada Allah saja. Allah berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. al-Anbiya’ : 25)

Sedangkan yang kita jumpai dalam kenyataan, semua agama selain Islam di seluruh penjuru dunia menyeru kepada kemusyrikan, baik berupa penyembahan terhadap yang diyakini sebagai anak tuhan, dewa dewi, gunung, kawah, pusaka dan arwah para leluhur. Tidak satupun di antara mereka yang menyerukan untuk menyembah Allah saja, Tuhan Yang Maha Tunggal.

Sehingga, kita yakini juga, bahwa agama itu berbeda-beda, tapi yang benar dan sesuai dengan tauhid hanyalah Islam. Agama ibarat warna, Islam itu warna putih, bersih dan cemerlang. Jadi, apabila ada orang, siapapun dia, setinggi apapun derajat dan kedudukan serta gelarnya, akan tetapi dia mengajak kita untuk menyamaratakan semua agama, maka sama halnya kita diajak untuk menjadi orang-orang yang buta warna dan buta mata hatinya.

Di antara Nabi yang menjadi teladan dalam hal mentauhidkan Allah, adalah Nabi Ibrahim sampai-sampai ketika Nabi kita Muhammad diajak untuk memeluk agama Nasrani atau Yahudi, beliau diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim yang lurus. Allah berfirman:

وَقَالُواْ كُونُواْ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰ تَهۡتَدُواْۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 

“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS. al Baqarah: 135)

Seorang ulama ahli tafsir terkemuka, Imam Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya (ketika menafsirkan surat an-Nisa : 125) bahwa makna agama yang hanif (lurus) itu adalah agama yang benar-benar bertolak belakang dengan kesyirikan secara keseluruhan.

Agama Nabi Ibrahim

Lurusnya Agama Nabi Ibrahim

Kemurnian, ketinggian serta lurusnya agama Ibrahim, ini paling tidak tercermin pada dua peristiwa fenomental yang diabadikan di dalam al-Qur`an.

Pertama: Ketika beliau berdial dan berdebat melawan bapak dan kaumnya, tentang penyembahan mereka terhadap bintang, bulan, matahari dan berbagai macam berhala. Allah menceritakan:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. al-An’am : 76-78)

Keteguhan dan ketauhidan Nabi Ibrahim alaihissalam begitu jelas dalam dialog ini, ketika beliau menyatakan:

لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ

“Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat…” (QS. al-An’âm: 77).

Setelah berdebat dan menjelaskan kesesatan agama bapak dan kaumnya, beliau lebih mempertegas sikap dengan mengatakan:

يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ

Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-An’am : 78)

Inilah sikap mulia teladan kita di dalam menghadapi kebatilan dan kesyirikan, dari manapun sumbernya. Dan kepada ajaran Nabi Ibrahimlah , Nabi kita Muhammad shalallahu’alaihi wasallam diberikan petunjuk untuk mengikutinya dan mensyukurinya. Bahkan Nabi kita diperintahkan untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim alaihissalam. Allah berfirman:

قُلۡ إِنَّنِي هَدَىٰنِي رَبِّيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ دِينٗا قِيَمٗا مِّلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.(QS. al-An’âm: 161)

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali-Imrân: 95)

Kedua: Ketika beliau alaihissalam diperintahkan untuk menyembelih anaknya, yaitu Nabi Ismail alaihissalam padahal baru saja beliau dikaruniai anak tersebut, setelah begitu lama menunggu dan menanti, dan sebelumnya beliau bertubi-tubi telah menerima berbagai cobaan dari Allah, mulai dari perselisihan beliau dengan bapak dan kaumnya, sampai mengantarkannya pada siksaan seorang raja, yaitu beliau dilemparkan ke dalam api, kemudian diperintahkan oleh Allah untuk berhijrah ke daerah yang asing dan tidak berpenghuni.

Kali ini diuji dengan perintah untuk menyembelih anak satu-satunya, terlebih hal itu dilakukan dengan tangannya sendiri. Akan tetapi beliau bisa kembali menampakkan kemurnian tauhidnya kepada Allah, dalam hal cinta, yaitu cinta beliau kepada Allah melebihi kecintaannya kepada selain-Nya, termasuk anaknya sendiri yang amat ia sayangi.

Maka tidaklah mengherankan, jika beliau direkomendasi oleh Allah sebagai orang yang benar-benar beriman, firman-Nya:

إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 

Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (QS, ash Shaffat: 111)

Bahkan beliau memperoleh gelar khalilullih (kekasih Allah), ini merupakan tingkatan kecintaan yang paling tinggi. Firman-Nya:

وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا 

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS. an-Nisâ: 125)\

Baca Juga : Jalan Kebenaran Hanya Satu

Menjauhi Syirik itulah keteladan dari Nabi Ibrahim

Maka dari itu, apabila kita ingin menjadi orang yang Islamnya benar, Imannya benar, serta ingin menjadi orang yang dekat dan disayangi oleh Allah, hendaklah kita benar-benar berusaha meneladani jejak ajaran tauhid Nabi Ibrahim , sekaligus benar-benar menjauhi lawannya, yaitu kesyirikan.

Karena syirik merupakan dosa besar yang paling besar, sehingga pantaslah Allah tidak akan mengampuni pelakunya, kecuali apabila ia bertaubat sebelum maut menjemputnya. Allah berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. an Nisâ: 116)

Dampak negatif dosa syirik tidak berhenti pada perbuatan itu saja, bahkan akan memusnahkan semua amal kebajikan yang pernah kita lakukan, sehingga kita akan benar benar menjadi orang yang merugi, baik itu berupa shalat, puasa, zakat, haji dan selainnya. Dampak yang sangat mengerikan ini berlaku bagi semua orang, termasuk para Nabi dan Rasul, juga Nabi kita Muhammad. Allah berfirman:

وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. az-Zumar: 65)

Akibat dosa syirik tidak hanya menghapuskan pahala kebajikan kita, bahkan akan menyeret kita masuk ke dalam neraka yang adzabnya tidak akan pernah berhenti. Rasulullah bersabda:

مَنْ لَقِيَ الله لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئا دَخَلَ الجنّةَ، ومَنْ لَقِيَ الله يُشْرِكُ بِهِ شَيْئا دَخَلَ النَار

Siapa saja yang bertemu dengan Allah (setelah meninggal) dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk kedalam surga. Dan Siapa saja yang bertemu dengan Allah (setelah meninggal) dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, maka dia akan masuk kedalam neraka. (HR. Muslim).

Sedangkan manfaat tauhid adalah sangat luar biasa. Rasulullah bersabda:

 قال الله تعَالى: يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِكُ بِيْ شَيْئَاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغفِرَةً

Allah ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, seandainya kamu mendatangi-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak mempersekutukan Ku, niscaya akan Aku bawakan ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. at-Tirmidzi, No. 3540. Lihat ash-Shahihah, jilid 1, hlm 200, No. 127, Shahih at-Tirmidzi, No. 3540).

Maka dari itu, orang berakal manakah yang mau memilih perbuatan syirik demi kenikmatan yang fana dan akan segera sirna di dunia ini, kemudian dia meninggalkan tauhid yang akan mengantarkannya menuju kebahagiaan abadi di akherat kelak, yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan tidak bisa dibayangkan oleh pikiran serta khayalan???

Di antara perbuatan syirik yang merajalela dewasa ini adalah menyembelih hewan untuk selain Allah, baik dipersembahkan kepada penunggu lumpur panas, gunung merapi, benda-benda pusaka, juga kepada jin-jin yang diminta untuk menghindarkan malapetaka, menyembuhkan penyakit, mendekatkan jodoh dan rejeki serta berbagai tujuan yang lainnya. Padahal Allah melaknat pelakunya,

Rasulullah bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه

Allah melaknat siapa saja yang Menyembelih untuk selain Allah. (HR. Muslim)

Sedangkan jelas-jelas Allah memerintahkan kita untuk menyembelih hanya karena-Nya. Firman-Nya:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. al-An’am :162)

Setelah kita memahami sedikit banyak tentang tauhid dan syirik, hendaklah kita berhati-hati dari segala sesuatu yang bisa menjerumuskan kita ke dalam jurang kesyirikan, sekaligus akan mengotori atau bahkan membatalkan tauhid kita.

Kita sebagai manusia biasa mungkin saja, di dalam hidup ini terjerumus ke dalam lembah kesyirikan tanpa kita sadari, maka dari itu, hendaklah kita banyak mempelajari agama ini dan memperbanyak membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah berikut ini:

اللهمَّ إني أعوذُ بك أنْ أُشرِكَ بِكَ وأَنَا أَعْلَمُ ، و أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan memperse kutukan-Mu, dalam keadaan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun atas apa yang tidak kuketahui (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih at Targhib).

Berangkat dari prinsip tauhid ini pula, kita mempunyai prinsip untuk tidak ikut larut dalam acara-acara istimewa umat lain, baik berupa perayaan Natal dan Tahun Baru, walaupun hanya sekedar memberikan ucapan selamat, sebab Rasulullah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut. (HR. Abu Dawud, No. 4024)

Inilah obat, meskipun rasanya pahit, tapi insyâ`Allâh akan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Semoga kita senantiasa dihindarkan dan dijauhkan oleh Allahdari perbuatan syiri dengan segala macam dan jernisnya. Amin.

Dilansir dari Majalah Islamiyah Manhajiyyah Adz-Dzakirah Edisi 44 Vol.8 No. 2 tahun 1429 H, Kembalilah Kepada Agama Nabi Ibrahim oleh Imam Wahyudi rahimahullah, Penerbit STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Baca juga artikel :

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img