Di Balik Peristiwa Isra’ Mi’raj

Dibalik Peristiwa Isra' Mi'raj

Segala puji hanyalah milik Allah dengan segala bentuk rahmatNya, sehingga kita bisa merasakan indahnya beragama Islam dengan segala syariat-syariatnya. Shalawat beringan salam semoga tercurah kepada baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam yang patut kita tauladani akhlaqnya sehingga Islam pun indah begitu pula para keluarganya dan para pengikutnya.

Sebuah peristiwa yang telah terjadi selama masa kenabian Shallallahu ‘alaihi wa salam dan terdokumentasikan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Quran yang menandakan akan kemulian nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Dan dari berbagai tanda-tanda lainnya pun sejatinya kita sebagai seseorang yang mengaku sebagai umatnya, tak selayaknya kita mendahuluinya atau mengada-ada dalam perihal agama yang sudah sempurna ini.

Isra’ Mi’raj sebuah hadiah dari Rabb kepada hambaNya. Dan tidaklah ada dari detik-detik selama jantung nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam masih berdetak kecuali ada pelajaran di balik peristiwa tersebut.

Peristiwa ini juga merupakan pembeda dari orang-orang yang benar tulus dan ikhlas dengan ajaran Islam, karena sejatinya akal manusia tidak akan sampai untuk menggapainya atau memahaminya. Sehingga orang-orang jahiliyah hanya berkomentar itu adalah dongeng atau cerita fiktif belaka. Lantas bagaimanakah diri kita di mana kita di saat mendapati peristiwa ini. Apakah kita bersama para sahabat yang membenarkan atau yang menentang dan berpikiran bahwa semua haruslah sesuai dengan nalar dan nafsu belaka.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Allah Ta’ala mengabadikan peristiwa Isra’ Mi’raj di Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (al-Isra : 1)

Sebagaimana tafsir Abu Bakr al-Jazairy dalam tafsirnya

Allah Ta’ala mensucikan diriNya dari apa-apa disekutukan oleh orang musyrik dari sesembahan ataupun penisbatan anak dan pensifatan-pensifatan, bahwasanya Allah Rabb yang Maha Sempurna dan tiada yang menandinginya. Dan dari perkara (yang tak mungkin adalah mudah bagiNya) menjalankan hambaNya nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam dari Mekkah hingga Baitul Maqdis hanya dengan waktu yang singkat yaitu semalam saja.

Isra’ atau perjalanan khusus dan terikat oleh waktu yaitu malam dimana nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam diperjalankan oleh Allah Jalla fii ula (yang mudah dan tidaklah mustahil) dari Mekkah hingga Baitul Maqdis.

Dalam waktu semalam itu bukan hanya satu perjalanan, melainkan Allah Ta’la juga menaikkan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam dari Baitul Maqdis (bumi) hingga Sidratul Muntaha (langit). Dan peristiwa inilah yang disebut mi’raj. [1]

Dari hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu

لمَّا أُسْريَ برسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ انتُهيَ بِهِ إلى سدرةِ المنتَهَى ، وَهيَ في السَّماءِ السَّادسةِ ، إليها ينتَهي ما يعرجُ بِهِ منَ الأرضِ ، فيقبِضُ منها ، وإليها ينتَهي ما يُهْبِطُ بِهِ مِن فوقِها فيقبِضُ منها ، قالَ : إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى [ 53 / النجم / الآية – 16 ] قالَ : فِراشٌ من ذَهَبٍ ، قالَ : فأُعْطيَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ثلاثًا : أُعْطيَ الصَّلواتِ الخمسَ ، وأُعْطيَ خواتيمَ سورةِ البقرةِ ، وغُفِرَ لمن لم يشرِكْ باللَّهِ من أمَّتِهِ شيئًا ، المُقْحِماتُ

“Ketika Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa salam diperjalankan ke Sidaratul Muntaha, yaitu di langit ke enam. Di sanalah terhenti segala sesuatu yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan di sana pula terhenti segala sesuatu yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana. “Ketika Sidratul Muntaha dikelilingi oleh sesuatu yang meliputinya” (QS. An Najm: 16). Ibnu Mas’ud berkata: “yaitu ranjang yang terbuat dari emas”. Beliau lalu mengatakan: Lalu Rasulullah diberikan tiga hal di sana: diberikan perintah shalat lima waktu, diberikan ayat-ayat terakhir surat Al Baqarah, dan diampuni orang-orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun dari umatnya walaupun ia berbuat dosa besar” (HR. Muslim no. 173).

Simak:   Istiqomah Sampai Mati

Di Balik Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Peristiwa ini bukanlah berarti waktu tertentu yang hanya berlalu atau bukan sejarah yang semata untuk dikenang atau waktu yang hanya diperingati. Peristiwa ini memiliki banyak nilai-nilai dimana itu bisa menjadi syariat ataupun hikmah dibaliknya.

Larangan Untuk Menyukutukan Allah

Dalam awal surat al-Isra Allah Ta’ala mengawali firmannya dengan mensucikan diriNya dari kekurangan-kekurangan yang ada pada makhluk seperti mengantuk atau tidur hingga mati. Ataupun kekurangan yaitu butuh dengan lain. Allah Ta’ala telah menyatakan diriNya sempurna dan tidak akan rugi atau berkurang apabila hambaNya tidak menyembah atau tidak berdoa kepadaNya. Di dalam ayat di atas Allah adalah Maha Sempurna sehingga mampu memperjalankan dan menaikkan hambaNya dengan mudahnya di mana sesembahan-sesembahan lainnya pasti tidak mampu melakukannya.

Maka kalimat tasbih ini adalah pernyataan dan kabar untuk hambaNya agar tidak menyembah kepada selain Allah. Firman Allah Ta’ala

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ هَلْ مِنْ شُرَكَاۤىِٕكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰلِكُمْ مِّنْ شَيْءٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.(al-Rum : 40)

Predikat Terbaik Manusia

Dalam ayat di atas sebuah panggilan dan predikat terbaik yang disandang oleh manusia yaitu abd atau hamba. Bahkan predikat ini adalah agung dan kedudukan yang paling mulia yang Allah berikan kepada manusia. Banyak sekali bukti-bukti yang menyebutkan bahwa predikat hamba iniialah predikat terbaik.

Firman Allah Ta’ala

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (al-Furqan : 63)

Dari dalil ini Allah sebutkan predikat hambaNya dengan nama ar-Rahman. Dan dengan rahmatNya Allah berikan hambaNya hidayah keimanan. Dan menjaganya dalam ketaatanNya dan kedekatan terhadap Rabbnya. [2]

Fungsi Utama Akal

Akal adalah sebuah karunia dari Allah yang wajib disyukuri oleh manusia. Akal tidak lain adalah pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan adanya akal manusia bisa membedakan antara yang baik atau buruk ataupun antara yang boleh atau yang diharamkan.

Allah Azza wajalla banyak mengajak hambaNya untuk menggunakan akalnya agar sejenak memikirkan besarnya kekuasaan Allah Ta’la yang tak mungkin bisa ditandingi oleh makhlukNya. Dan begitu pula Allah mencela manusia yang tidak menggunakan akalnya sehingga pun tenggelam di neraka jahannam.

Allah Ta’ala berfirman

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.” (al-Baqarah : 170)

Allah Ta’ala mencela orang-orang yang taqlid buta atau orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa menggunakan akalnya sehingga mereka pun tersesat dan jauh dari hidayah Allah.

Akan tetapi tidak sedikit orang-orang salah dalam menggunakan akalnya sebagai alat hakim. Sehingga apa-apa yang tidak bisa dinalar oleh akal ia tolak mentah-mentah. Padahal tidaklah sedikit perkara dalam agama ini adalah perkara yang tidak mampu akal menggapainya seperti perihal ruh, jin, surga, neraka dan termasuk dalam pembahasan saat ini adalah peristiwa Isra’ Mi’raj yang hanya ditempuh dalam semalam.

Simak:   Hidayah Hanya Ditangan Allah - Al Iman TV&Radio Suara Al Iman 846 AM

Lantas bagaimanakah seharusnya manusia menggunakan akal. Maka akal tidaklah lebih tinggi dari ilmu dan ilmu adalah berasal dari wahyu yang disampaikan oleh nabi-nabi Allah. Kemampuan akal manusia adalah terbatas. Ia berfungsi untuk menyimpan ilmu kemudian ia terima dan dipahami. Sehingga ketika seseorang dihadapkan dengan perkara yang diwahyukan. Maka dia harus mengedepankannya dan menerimanya dalam kondisi apapun, walaupun tidak mampu dianalisa oleh akal.

Oleh karena itu Islam memberikan kesempatan akal untuk menganalisa apa yang masih dijangkaunya. Adapun sejauh dari itu maka harus sesuai dengan dalil-dalil syariat yang diwahyukan.

Dan berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, maka akal di sini menerima dengan lapang dada dan membenarkan bahwa tidak ada yang mungkin jika Allah pun telah berkehendak.

Urgensi Sholat dalam Agama

Telah disebutkan dari hadits sebelumnya, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mendapatkan syariat akan kewajiban seorang hamba untuk mendirikan sholat lima waktu. Syariat sholat ini adalah syariat yang istimewa daripada syariat-syariat lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam langsung menerima wahyu ini di hadapan Allah Ta’ala tanpa perantara dan syariat ini adalah satu-satunya syariat yang diminta oleh baginda Shallallahu ‘alaihi wa salam dengan sebuah keringanan yang tidak diminta disyariat-syariat Islam lainnya.

Sesuai dengan makna dari sholat yaitu penyambung. Syariat sholat diberikan langsung dari Allah Ta’ala kepada hambaNya karena sholat bisa menjadi alat penyambung antara hamba dan Rabbnya. Seorang hamba bisa berdialog dengan Rabbnya, bisa bermunajat kepadaNya dan inilah waktu dari seorang hamba dan Rabbnya yang paling dekat.

Maka inilah mengapa sholat adalah penting dalam Islam. Sholat adalah bentuk peribadatan dan bentuk ketundukan seorang hamba dan Rabbnya. Dan sebuah sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam yang menyebutkan mengapa sholat ini penting adalah karena sholat adalah pembeda antara seorang yang telah melakukan kesyirikan atau kekufuran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Antara seseorang dengan kesyirikan atau kekufuran ialah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman).

Allah Ta’ala juga memberikan ancaman kepada orang yang meninggalkan sholat. Firman Allah Ta’la

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ () الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (al-Ma’un: 4-5)

Allah Di Atas Langit

Hikmah lain dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah seorang mukmin tahu keberadaan Allah. Sehingga dia tidak perlu bimbang lagi atau masih mencari-cari atau bahkan menafikan di mana Allah sebenarnya. Karena Allah Azza wajalla telah memberitahu sendiri hambaNya dari ayat-ayatNya seperti peristiwa Isra’ Mi’raj ini.

Allah telah banyak menyebutkan akan diriNya berada di atas. Seperti di dalam ayat berikut

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

(Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (Toha : 5)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ketika menerima wahyu dari syariat sholat, beliau langsung menerimanya di hadapan Allah Jalla fii ulaa. Dan inilah saat Allah menaikkan hambaNya ke atas langit atau yang disebut dengan Mi’raj.

Lantas inilah pertanyaan bagi sebagian saudara muslim yang merayakan atau memperingati hari Isra’ Mi’raj? Mengapa mereka masih ragu bahwa Allah di atas ‘Arsy atau langit.

Inilah kelemahan kami dari penulis yang tak lain adalah manusia. Maka semua yang benar adalah datang dari Allah Azza wajalla.

Wallahu Ta’ala a’lam


[1] Tafsir Aisar at-Tafasir karya Abu Bakr al-Jazairy

[2] Sifaatul ‘Ibadurrahman karya Syeikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Badr

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan
Previous Post
Hukum Memegang Mushaf Dengan Tangan Kiri

Hukum Memegang Mushaf Dengan Tangan Kiri2 min read

Next Post
Menuju Final - MHQ Al-Iman Jilid 2

Menuju Final – Antusiasme Peserta MHQ Al-Iman Jilid 22 min read

Related Posts
Motivasi Mendalami Ilmu

Motivasi Mendalami Ilmu

Para nabi hanya mewariskan ilmu. Para ulama lalu mencarinya dan mengikuti jalannya sehingga mereka mendapatkan bagian yang melimpah ruah. Maka sangatlah sia-sia upaya mereka ketika buah yang matang pun tak dipetik.
Baca Selengkapnya
Merdeka Atau Nikmat Syukur

Merdeka Atau Nikmat Syukur

Kemerdekaan tak lain adalah salah satu bentuk kenikmatan yang Allah berikan kepada bangsa Indonesia. Dan sebuah kenikmatan haruslah tersambung dengan rasa syukur. Jangan sampai dengan hadiah kemerdekaan ini kita salah bertindak
Baca Selengkapnya