BerandaFiqih dan MuamalahFikih Muamalah Jual Beli #2 – Inti dari Sebuah Akad Jual Beli

Fikih Muamalah Jual Beli #2 – Inti dari Sebuah Akad Jual Beli

Inti dalam sebuah akad jual beli adalah makna konsekuensi hakekat yang terjadi dalam akad tersebut bukan dilihat dalam lafadznya.

Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin. Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil ambiyaai wal mursalin. wa’ala alihi wa ashhabihi waman tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumiddin. Amma ba’du.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang kaidah-kaidah penting di dalam fiqih muamalah atau dalam jual beli, dimana ada sebuah kaidah yang penting untuk kita pahami bersama.

Inti Akad Jual Beli

الْعِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ لِلْمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِيْ لَا لِلأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِيْ

Inti dari sebuah akad itu dilihat dari maksud dan juga makna dari akad tersebut, bukan dilihat dari lafat atau kalimatnya. (al-Wajib fi Idhah al-Qawaid al-Kulliyah, hlm. 147).

Apa makna atau arti dari kaidah ini?

“Dalam jual beli maka yang menjadi inti dalam sebuah akad adalah makna konsekuensi hakekat yang terjadi dalam akad tersebut bukan dilihat dalam lafadznya”

Kita sudah membahas yaitu tentang jual beli di antara rukunnya ada sighah(bentuk)  jual beli.  Di mana suatu akad jual beli bisa terjadi apabila ada akad, dan sighahnya dalam bentuk perbuatan.

Segala perbuatan yang menunjukkan sebuah transaksi jual beli, maka jual beli tersebut sah, meskipun tidak ada ucapan ijab dan kabul. Tentu ini menurut pendapat yang rajih pendapat yang kuat.

Sehingga ketika seseorang menjual barang tanpa mengucapkan apapun, sebagaimana seorang pembeli ketika mengambil barang di supermarket, kemudian langsung membayar, disitu tidak ada ucapan yang keluar dari lisan pembeli.

Disini sudah bisa dipahami, bahwasanya seorang datang mengambil barang menuju kasir, lalu kemudian membayar. Pasti maksudnya adalah ingin membeli.

Sehingga yang di jadikan patokan di sini adalah maknanya, yaitu konsekuensi dari akad yang terjadi tadi. Ini juga bisa terjadi pada contoh yang lainnya.

Fikih Muamalah Jual Beli #2 – Inti dari Sebuah Akad

Studi Kasus Akad Jual Beli

Misalkan seseorang ingin memberikan sebuah hadiah, contohnya misalkan ini saya jual HP saya, kamu nggak usah bayar.  Ungkapan saya jual HP saya dan kamu tidak perlu bayar, ini secara lafadz adalah jual beli. Namun secara akad ini bukanlah jual beli, akan tetapi hadiah karena tidak perlu membayar. Sehingga meskipun yang keluar adalah lafadz jual beli, saya jual namun karena di sini mengandung konsekuensi bahwasanya pihak yang kedua tidak perlu membayar sesuatu apapun, tidak perlu memberikan apa pun sebagai timbal balik dari HP yang saya berikan tadi, maka ini maksudnya adalah hadiah.

Sebagaimana juga misalkan ketika seorang yang buka warung. Misalkan, kemudian ada orang yang datang, Ketika ada orang yang datang kemudian duduk di warung bilang kepada penjualnya, “bu, saya minta nasi satu piring” Lalu juga mengatakan “bu, saya minta es teh satu gelas.” Nah di sini orang yang datang tadi mengucapkan minta, sebagaimana kita pahami kalau minta dalam bahasa Indonesia ya tanpa pamrih.

Namun ketika di sini diucapkan oleh seseorang ketika dia memasuki sebuah warung, dan dia mengatakan minta, maka ketika dia sudah selesai makan, sudah selesai minum, lalu  dia ingin keluar dari warung tersebut, pasti penjualnya akan mengatakan “maaf Anda harus bayar dulu.” Tidak boleh bagi pembeli tadi mengatakan “loh, saya tadi kan minta saya tidak beli.” Maka ucapan pembeli di sini “saya minta” itu maknanya adalah membeli, karena itu dilakukan di warung.

Tentu juga akan berbeda misalkan ketika minta kepada orang tua ya tentu orang tua pasti akan memberi tanpa memintanya untuk mengembalikannya. Sehingga di sini yang dipahami bukan lafadz yang keluar, tapi dipahami adalah makna yang terkandung di dalam ucapan tersebut.

Contoh yang lainnya sekarang adalah apa yang terjadi pada perbankan. Misalkan kita semuanya ketika menyimpan uang di bank misalkan. Secara umum namanya adalah menabung, ada mengatakan wadiah atau titipan, menitipkan uang kepada bank, maka kita harus melihat apa hakekatnya uang yang kita taruh pada bank tersebut.

Tidak mungkin maksudnya adalah kita benar-benar menitipkan yang mana bank akan menyimpan uang tersebut. Namun kalau kita melihat hakikatnya uang yang kita taruh di bank bukanlah untuk disimpan bukanlah untuk dijaga bank, akan tetapi pasti akan digunakan diinvestasikan atau diputar dan yang lainnya.

Sehingga itu semuanya merupakan hakekat dari utang-piutang, atau al-qord atau pinjaman uang, sehingga di situ berlaku pinjaman. Sehingga ketika di situ hukumnya pinjaman, maka orang yang meminjamkan atau nasabah yang menaruh uangnya di bank berarti dia meminjamkan uangnya kepada pihak bank. Meskipun dalam tanda tangan dalam surat tidak ada kata kata meminjamkan sama sekali, namun yang dilihat adalah hakekatnya, apakah hakekatnya itu benar benar meminjamkan ataupun tidak.

Baca juga : 5 Cara Mudah Beramal Sholeh

Ini pula yang terjadi pada sistem wadiah di perbankan syariah misalkan, karena tidak mungkin kita menitipkan pada hakikatnya, karena disitu terkadang ada tambahan bagi hasil ataupun yang lainnya yang juga bisa dimanfaatkan oleh pihak bank, maka pada hakikatnya itu adalah pinjaman kita kepada pihak bank, bukan kita menyimpan atau menitipkan uang tersebut.

Karena juga hakikatnya ketika uang tersebut hilang misalkan, bank tetap wajib untuk mengembalikan dan ini adalah hakekat dari utang piutang.

Kemudian contoh yang lainnya kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah penggunaan istilah hadiah. Hadiah berarti seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa pamrih.

Maka ketika hadiah ini diberikan oleh seseorang kepada pejabat, meskipun dia mengatakan ini adalah sebuah hadiah. Maka hukumnya tetap terlarang karena bisa jadi itu merupakan riswah. Bisa jadi itu merupakan suap.

Sedangkan suap sendiri sudah dilarang oleh syariat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi pegawai adalah bentuk Ghulul (yaitu bentuk korupsi)”. (HR. Ahmad 5/424). Dan itu dilarang meskipun dengan lafadz hadiah.

Sehingga dalam setiap transaksi, dalam setiap akad, maka yang kita ambil adalah hakikatnya. Bukan sekedar tulisannya, bukan sekedar lafadz yang keluar dari lisan. sehingga bisa menyikapi setiap akad yang terjadi dengan melihat hakikatnya.

Wallahu a’lam

Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc., M.H Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img