BerandaFiqih dan MuamalahFikih Muamalah Jual Beli - Muqoddimah (bagian 1)

Fikih Muamalah Jual Beli – Muqoddimah (bagian 1)

Fikih muamalah jual beli merupakan kebutuhan yang harus kita penuhi dan kita tidak bisa lepas darinya, Maka tentu kita harus memiliki ilmu, Kita harus memahami terlebih dahulu tentang hukum-hukum seputar jual beli.

Hukum-hukum Muamalah Jual Beli

Ketika jual beli muamalah merupakan kebutuhan yang harus kita penuhi dan kita tidak bisa lepas darinya. Kita harus memahami terlebih dahulu tentang hukum hukum seputar jual beli.

Alhamdulillah Kita hidup di dunia ini tentu tidak lepas dari yang namanya jual beli. Baik itu kita sebagai penjual ataupun kita sebagai pembeli, karena untuk memenuhi kebutuhan kita, maka kita tidak bisa memenuhinya sendiri sehingga kita harus membeli dari pihak orang lain.

Maka dari itu kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, ketika jual beli muamalah merupakan kebutuhan yang harus kita penuhi dan kita tidak bisa lepas darinya, Maka tentu kita harus memiliki ilmu, Kita harus memahami terlebih dahulu tentang hukum hukum seputar jual beli.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah).

Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu pernah mengatakan:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka wajib bagi dirinya untuk memiliki ilmunya”.

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْم

“Begitu pula barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, menghendaki kehidupan surga, dia pun juga harus memiliki ilmunya”. Sehingga diantara ilmu tadi adalah ilmu masalah muamalah.

Bahkan dahulu pada zaman Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, beliau pernah mengatakan:

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ 

“Tidak boleh berjualan di pasar kami kecuali orang yang paham tentang agama.” (HR. At Tirmidzi no. 487)

Jadi seleksinya sangat ketat dahulu, orang tidak mengerti agama maka dia tidak boleh jualan.

Kenapa tidak boleh berjualan? Tentu di antara faktornya adalah, agar ketika dia berjualan dia tidak berbuat curang, tidak menipu, tidak menggunakan sistem ribawi, atau sesuatu yang diharamkan oleh syariat ini.

Baca Juga: Agar Ibadahmu Diterima

Sehingga mereka bisa berjual beli di samping dia mendapatkan keuntungan dunia dan yang lebih penting adalah dia mendapatkan keberkahan dari Allah subhanahu wa taala.

Dan juga Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَم فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barang siapa yang berjualan, namun dia belum memiliki ilmu agama, belum tafaquh di dalam agama, maka dia akan jatuh dalam transaksi ribawi, akan jatuh dan jatuh.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15.)

Dan inilah kebanyakan yang terjadi pada sebagian kaum muslimin, mereka tidak mempedulikan lagi mana halal dan mana haram. yang penting bagi mereka, bagaimana bisa mengumpulkan harta, bagaimana bisa mengumpulkan keuntungan yang sebanyak banyaknya.

Ketika dikasih tahu ini hukumnya haram, ini hukumnya riba, mereka hanya mengatakan “oh ini sudah banyak dilakukan oleh kaum muslimin”. Masih banyak orang yang melakukannya, namun kenapa kok ini diharamkan? kenapa anda mengharamkannya?.

Bahkan dengan tegas Alquran dan juga hadis nabi telah menunjukkan akan keharamannya. Sehingga kalau sudah seperti itu, maka terkadang mereka enggan dan susah untuk meninggalkan pekerjaan yang diharamkan tadi.

Apalagi kalau sudah merasa mendapatkan keuntungan yang besar, sehingga sebelum terlambat kita pun harus mempelajari terlebih dahulu khususnya ilmu tentang bab muamalah ini.

Fikih Muamalah Jual Beli - Muqoddimah (bagian 1)

Wajib Mempelajari ilmu Muamalah Jual Beli

Maka kaum muslimin para pembaca yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala, Maka wajib bagi kita untuk mempelajari ilmu seputar muamalah, seputar jual beli di mana Allah subhanahu wa ta'ala yang alhamdulillah dengan rahmatnya memberikan kebebasan bagi kita untuk bertransaksi jual beli, untuk menghalalkan jual beli, kecuali apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa taala.

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“dan allah subhanahu wa taala telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275).

Kaum muslimin para pembaca, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

 لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَام

“Akan datang sebuah masa di mana manusia sudah tidak peduli lagi dalam mencari harta apakah dengan cara yang halal atau dengan cara yang haram” (HR. Bukhari no. 2083).

Mereka tidak peduli lagi yang terpenting mengumpulkan uang. Maka kaum muslimin ketika bekerja, ketika mencari nafkah tujuannya adalah bagaimana agar dia memperoleh harta tersebut dengan cara yang dihalalkan.

Apa yang dimasukan ke dalam mulutnya, apa yang dinafkahkan kepada anak dan istrinya itu merupakan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah Ta'ala.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارِ وَ أَ وْلَى بِهِ

“Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka neraka layak untuknya.‘ Sementara surga adalah kebaikan, yang tidak akan dimasuki kecuali tubuh yang baik. (Ma’mu’ al-Fatawa, 21:541).

Maka kaum muslimin harus percaya bahwa rizki sudah ditentukan dan ditetapkan tinggal  bagaimana cara kita memperolehnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki..

Didalam sabda tersebut Rasulullah memerintahkan untuk bertakwa untuk meyakini Allah yang memberikan rezeki, untuk meyakini segala sesuatu itu semua terjadi atas kehendak Allah, maka perbaguslah dalam mencari rezeki, bekerjalah dengan cara yang halal.

فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِي رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا 

Karena Seorang hamba tidaklah akan mati, hingga ia benar benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya

تَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempulah jalan yang baik dalam mencari rezeki

خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Ambillah apa yang halal, dan tinggalkanlah apa saja yang haram” (HR. Ibnu Majah:2144).

Semoga Allah Subhanahu wata'ala memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semuanya, sehingga kita bisa bekerja di tempat yang halal agar pekerjaan kita, gaji kita, dan harta kita diberkahi oleh Allah Subhanahu wata'ala, sehingga mendatangkan keberkahan untuk diri kita dan keluarga kita.

Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc., M.H

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img