BerandaFiqih dan MuamalahFikih Muamalah Jual Beli #4 – Hukum Asal dalam Jual Beli

Fikih Muamalah Jual Beli #4 – Hukum Asal dalam Jual Beli

Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin. Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil ambiyaai wal mursalin. wa’ala alihi wa ashhabihi waman tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumiddin. Amma ba’du.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang fikih muamalah, dan pada kesempatan kita kali ini yaitu membahas kaidah penting di dalam fiqih muamalah.

Para ulama telah membuat sebuah kaidah yang bisa dijadikan sebagai patokan kita dalam menghukumi sebuah transaksi jual beli, dimana kita semuanya mengetahui bahwasanya sistem atau tata cara jual beli yang ada sekarang ini sangatlah banyak. Bahkan bisa dikatakan setiap hari selalu bertambah.

Hukum Asal Jual Beli adalah Boleh

Sehingga para ulama membuat sebuah kaidah:

الأَصْلُ فِي الْمُعَامَلَاتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلَّا بِدَلِيْلِ

“Hukum asal dalam jual beli hukumnya adalah boleh, sampai ada dalil yang mengharamkannya.”

Tentu kaidah ini tidak datang begitu saja, akan tetapi ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan telah mengharamkan riba, dan juga dari sisi praktek yang dilakukan oleh NJabi shallallahu ‘alaihi wasalam dan juga para sahabat sahabatnya di mana seseorang itu secara mutlak pasti membutuhkan jual beli.” (Q.S. al-Baqarah: 275).

Dan sangat sulit bagi mereka apabila ingin melakukan suatu transaksi harus tanya terlebih dahulu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sehingga diantara kemudahan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa taala kepada umat manusia adalah dihalalkan jual beli, dan ini menjadi hukum dasar dari jual beli ini.

Sehingga inilah yang menjadikan pembeda antara ibadah dengan muamalah, dimana kalau kita mengetahui kaidah didalam ibadah adalah hukum asalnya adalah haram sampai ada dalil yang mensyariatkannya, sampai ada dalil yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa taala.

Namun dalam muamalah sebagaimana kita sebutkan tadi hukum asalnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya.

Sehingga apabila seseorang menjumpai sebuah transaksi maka hukum asalnya adalah boleh. Kenapa transaksi seperti ini, atau apa hukumnya transaksi ini, maka kita jauh hukumnya adalah boleh. Dan ketika mengatakan hukumnya boleh tidak perlu menanyakan dalil. Namun ketika dikatakan atau di jawab ini adalah haram ini tidak diperbolehkan baru tanya, apa Hal yang melarangnya? apa dalil yang mengharamkannya?.

Berbeda ketika seseorang melakukan suatu ibadah, maka ketika seseorang melakukan suatu ibadah atau dia melakukan suatu amalan, diniatkan untuk ibadah, maka pertanyaan yang kita ajukan adalah mana dalil yang memerintahkannya?, mana dalil yang mensyariatkannya?. Bukan yang kita tanyakan mana dalil yang melarangnya? mana dalil yang tidak memperbolehkannya?. Karena dalam ibadah hukum asalnya adalah tidak diperbolehkan.

Hukum Asal dalam Jual Beli

Maka kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala didalam bermuamalah ini sangat luas, sangat mudah, sehingga kita pun bisa bertransaksi dengan sesuka hati kita selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Namun apakah kita bisa serta merta mempraktekkan kaidah ini?

Unsur Kedzaliman dalam Akad Jual Beli

Apalagi kalau kita menjumpai seluruh praktek yang ada di zaman saat ini, mungkin belum pernah ada pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana jual beli online, sebagaimana asuransi, misalkan secara khusus dalil tentang asuransi tidak ada, secara khusus dalil tentang jual beli online tidak ada, secara khusus jual beli masalah online juga tidak ada, maka untuk menerapkan kaidah tersebut, syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala mengatakan:

“Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120).

Sehingga kita dapat memahami dari ucapan syaikh Muhammad bin sholeh al utsaimin rahimahullahu ta’ala tersebut bahwasanya sumber keharaman dalam sebuah transaksi itu ada 3 macam, yaitu tadi yang pertama adalah kezaliman, gharar dan riba.

Kalau kita sudah meneliti dalam transaksi sebuah jual beli tidak ada salah satu dari ketiga unsur ini, maka insyaallah kita bisa memastikan bahwasanya hukum asalnya adalah halal.

Contoh dalam praktek misalkan, ketika kita ingin menerapkan jual beli kredit, misalkan yang dimaksud jual beli kredit di sini adalah ketika seorang penjual menjual barang yang mana harga cash itu lebih murah apabila dijual dengan cara kredit.

Maka ketika ada pertanyaan apa hukumnya jual beli kredit, maka kita katakan hukumnya adalah halal atau boleh. Apa dalilnya?

Maka ketika mengatakan dalil Ketika mengatakan boleh, maka tidak perlu menanyakan dalil, karena hukum asalnya adalah boleh. Hanya saja secara terperinci, secara prakteknya kita lihat bagaimana transaksi jual beli kredit tersebut.

Kalau ternyata yang di jual beli itu adalah emas, seperti misalkan kita beli emas secara online namun dengan cara kredit, Atau offline pun misalkan, tapi yang dijadikan objek jual beli adalah emas, maka di sini kita katakan tidak boleh, karena ada larangan, karena emas termasuk komoditi ribawi, di mana dalam transaksi jual belinya disyaratkan harus kontan, sehingga ada dalil yang mengharamkannya.

Sehingga kaidah inipun juga tidak bisa langsung kita praktikan sampai melihat secara detail dalam transaksi tersebut terdapat salah satu dari ketiga tadi atau tidak. kalaupun ada ketiganya tadi justru akan lebih tidak diperbolehkan. Wallahu a’lam

Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc., M.H.I

Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img