BerandaAqidah dan ManhajHaramnya Menjelaskan Masalah Agama Tanpa Didasari Ilmu

Haramnya Menjelaskan Masalah Agama Tanpa Didasari Ilmu

Ikhwatal Iman semoga Allah senantiasa menjaga kita semua, menjelaskan masalah agama tanpa didasari ilmu hukumnya adalah haram berdasarkan al Qur'an, Hadits dan ijma'.

Al-Quran Menjelaskan Haramnya Berbicara Agama Tanpa Ilmu

Dalam al-Qur an Allah telah banyak menjelaskan tentang masalah ini, di antaranya dalam firman-Nya:

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ مَتَٰعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. an-Nahl: 116-117)

Sebagian salaf rahimahullah mengatakan: “Hendaklah seorang di antara kalian berhati-hati dari mengatakan: “Allah telah menghalalkan ini dan mengharamkan ini”, lalu Allah akan berkata kepadanya: “Engkau dusta, Aku belum menghalalkan ini dan belum mengharamkan ini“. (Madârij as-Sâlikîn, juz 1, hlm 404 dan I'lâm al-Muwaqqi'în, juz 6, hlm 175, keduanya karya lbnul Qayyim)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Maksudnya adalah menghalalkan sesuatu dan mengharamkan sesuatu dengan berdasarkan pendapat saja, tanpa bukti dari Allah dan rasul Nya”. (Madarij as-Salikin, juz 1, hlm 404.)

Baca Juga : Dasar Ilmu Agama adalah Wahyu

Allah juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. al-Hujurât: 1).

Makna ayat ini, “Janganlah engkau mengatakan hingga Rasulullah mengatakan, janganlah kalian memerintahkan hingga beliau memerintahkan, janganlah berfatwa hingga beliau berfatwa, dan janganlah memastikan sesuatu perkara hingga beliaulah yang memastikannya”, Demikianlah penjelasan Ibnul Qayyim.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ 

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. al-A’raf : 33)

berbicara agama tanpa ilmu

Hadits dan Ijma' Juga Mengatakan Haram

Adapun dalam hadits, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam menjelaskannya dalam hadits yang banyak sekali, di antaranya sabda beliau:

أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إثمهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ، وَمَنْ أَشَارَ عَلَى أَخِيْهِ بَأَمْرٍ يَعْلَمُهُ أَنَّ الرُشْدَ فِي غَيْرِهِ فَقَدْ خَانَهُ

Barangsiapa diberi fatwa tanpa didasari ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang berfatwa, dan barangsiapa yang menunjukkan suatu perkara kepada saudaranya, sedangkan ia mengetahui bahwa yang benar bukan perkara itu, maka sungguh ia telah berkhianat kepadanya. (HR. Abu Dawud, No. 3657, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi', No 5944.)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara atas namaku padahal aku belum mengatakannya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka. (HR. Ibnu Majah, No 34, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh Ibn Mâjah, No. 32.)

Sedangkan dari ijma', Ibnul Qayyim rahimahullah telah menukilkan adanya ijma' tentang haramnya berkata atas nama Allah dan Rasul-Nyatanpa didasari ilmu”. (I’lam al-Muwaqqi’iin, No. 1 hlm 185).

Dinukilkan dari Majalah Islamiyah Manhajiyyih Adz-Dzakirah Edisi 44 Vol.8 No. 2 tahun 1429 H, Tatkala Orang Buta Menjadi Petunjuk Jalan oleh Abu Ashim Muhtar Arifin bin Marzuqi, Lc,. Penerbit STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Baca Juga Artikel :

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img