Wajib bagi kita untuk menunaikan hak-hak para rasul, sesuai dengan kedudukan mereka yang Allah berikan kepada mereka, dengan kemuliaan dan ketinggian derajat mereka, dan karena tugas yang diemban oleh mereka yaitu menyampaikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kaum-kaum mereka. Karena kemuliaan mereka inilah, mereka memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh orang-orang beriman.
Daftar Isi
Hak yang pertama adalah, wajib untuk membenarkan rasul-rasul Allah, membenarkan misi mereka yaitu menyampaikan risalah kepada umat manusia.
Kita juga wajib beriman bahwa mereka benar-benar utusan dari Allah Ta’ala, dan kita tidak boleh membeda-bedakan mereka sehingga wajib bagi kita untuk membenarkan mereka semua. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ
“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” [An Nisa 4:64]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَٱحۡذَرُواْۚ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” [Al Maidah 5:92]
Dalam ayat ini Allah memperingati untuk berhati-hati jika kita tidak mentaati para rasul, karena tugas para rasul adalah untuk menyampaikan risalah kepada kita. Dan juga Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيۡنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٖ وَنَكۡفُرُ بِبَعۡضٖ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا ١٥٠ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ حَقّٗاۚ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٗا مُّهِينٗا ١٥١
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” [An Nisa 4:150-151]
Maka merupakan kewajiban bagi kita untuk membenarkan semua rasul, membenarkan apa yang mereka bawa dari risalah karena ini merupakan konsekuensi beriman dengan para rasul.
Harus diketahui bahwa tidak boleh bagi seseorang baik dari golongan jin maupun manusia untuk mengikuti rasul-rasul sebelumnya setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang diutus untuk semua umat manusia. Syariat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghapus syariat-syariat yang ada sebelum kedatangan beliau. Maka agama yang haq adalah apa yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imron 3:85]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [Saba’ 34:28]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” [Al A’raf 7:158]
Dengan begini kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus kepada semua umat manusia. Adapun para rasul yang sebelumnya, mereka diutus kepada umat mereka masing-masing.
Hak yang kedua adalah kita berwala’ kepada rasul-rasul semuanya, loyal kepada mereka semua tanpa membeda-bedakan mereka, mencintai mereka dan harus waspada jangan sampai terlintas dalam benak kita untuk membenci atau tidak menyukai mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” [Al Maidah 5:56]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” [At Taubah 9:71]
Maka ayat yang terakhir ini mengandung sifat orang-orang beriman yang loyal satu sama lain, maka masuk di dalamnya adalah rasul-rasul Allah Ta’ala, bahkan mereka paling sempurna keimanannya. Oleh karena itu loyal kepada mereka dan juga mencintai mereka harus diwujudkan karena kemuliaan mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyandingkan larangan memusuhi para rasul dengan memushi Allah dan para malaikat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبۡرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. [Al Baqoroh 2:98]
Meyakini kemuliaan dan keutamaan rasul-rasul diatas semua manusia
Tidak akan ada manusia biasa selain mereka yang bisa mencapai kedudukan para Nabi dan Rasul bagaimanapun ibadah orang tersebut. Hal ini karena Allah lah yang memilih mereka menjadi Nabi dan Rasul, bukan sesuatu yang dapat diusahakan. Allah Ta’ala berfirman,
ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٞ
“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al Hajj 22:75]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Al An’am 6:83]
Dalam hadis-hadis Nabi juga telah dijelaskan bahwa tidak ada seorang hamba yang dapat mencapai derajat para rasul. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari hadis Abi Huroiroh Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
“Tidak sepatutnya seorang hamba berkata, aku lebih baik dari Yunus bin Matta.”
Sebagian ulama hadis menjelaskan hadis tujuan hadis ini agar tidak ada seseorang yang tidak paham dan tidak punya ilmu sehingga ia merendahkan martabat Nabi Yunus ‘Alaihis Salam, hal ini karena adanya kisah beliau di dalam Al-Qur’an. Dan para ulama menjelaskan bahwa apa yang terjadi kepada Nabi Yunus ‘Alaihissalam dari tragedi beliau, tidak menurunkan derajat beliau sebagai seorang Nabi sedikitpun. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan Nabi Yunus ‘Alaihissalam di dalam hadis tersebut karena Allah menyebutkan kisah Nabi Yunus ‘Alaihissalam di dalam Al-Qur’an, seperti firman-Nya Ta’ala,
وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبٗا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” [Al Anbiya’ 21:87]
Sehingga jangan sampai ada seseorang merendahkan Nabi Yunus ‘Alaihissalam, karena kejadian yang menimpa beliau. Kemudian Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya,
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” [Al Anbiya 21:88] Hal ini menunjukkan bahwasannya para rasul lebih mulia dari manusia biasa. Tidak ada manusia biasa yang bisa melampui derajat kenabian dan kerasulan.

Meyakini kemuliaan para rasul yang bertingkat-tingkat
Bahkan Allah melebihkan derajat sebagian rasul dibandingkan rasul yang lainnya. Sebagai contohnya Allah menetapkan Ulul Azmi dari ke 25 nabi dan rasul yang ada. Mereka adalah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘Alaihimussholatu Was Salam. Mereka inilah lebih mulia dibandingkan yang lainnya. Kemudian dari kelima Rasul Ulul Azmi yang paling mulia adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman,
تِلۡكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۘ مِّنۡهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُۖ وَرَفَعَ بَعۡضَهُمۡ دَرَجَٰتٖۚ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.” [Al Baqoroh 2:253]
Imam Ath-Thobari berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Itulah rasul-rasulku, aku tinggikan sebagian derajat dibandingkan yang lainnya, maka Aku berbicara langsung dengan sebagian mereka (seperti Musa ‘Alaihissalam), dan Aku mengangkat derajat sebagian mereka dengan kemuliaan……….”
Bersholawat dan mengucapkan salam kepada mereka
Seperti ketika menyebut nama mereka diikuti dengan “Alaihissalam” atau “Alaihis Sholatu Was Salam”. Ini merupakan perintah Allah Ta’ala, dan Allah akan menjadikan pujian-pujian kepada Rasul itu kekal. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,
وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ٧٨ سَلَٰمٌ عَلَىٰ نُوحٖ فِي ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”.” [As Shaffat 37:78-79]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim,
وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ١٠٨ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” [Ash Shaffat 37:108-109]
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan tentang Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimas Salam,
وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ١١٩ سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ
“Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”.” [Ash Shaffat 37:119-120]
Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ
“Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.” [Ash Shaffat 37:181]
Imam An Nawawi menukilkan bahwa kesepakatan para ulama tentang bolehnya mengucapkan shalawat kepada para Nabi dan Rasul utusan Allah. Sehingga Shalawat tidak hanya khusus kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sehingga bolehnya seseorang mengatakan, “Nuh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”. Adapun kepada selain Nabi maka mayorittas ulama mengatakan bahwa tidak diucapkan shalawat. Sehingga cukup dengan, “Rahimahullah” atau “Radhiyallahu ‘Anhu”.
Inilah yang merupakan beberapa kewajiban kepada para Nabi dan Rasul yang berasal dari nash-nash yang shahih.
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I
Baca Juga : Cara Beriman Kepada Para Rasul



