BerandaAqidah dan ManhajJalan Kebenaran Hanya Satu

Jalan Kebenaran Hanya Satu

Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu- bahwasanya jalan kebenaran yang memberikan jaminan bagi kenikmatan Islam yang telah dianugerahkan kepadamu hanya satu dan tidak berbilang. Karena Allah subhanahu wata'ala telah mencatat keberuntungan hanya untuk satu golongan saja, Allah berfirman :

أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah : 22)

Sebagaimana Allah telah mencacat kemenangan hanya untuk mereka pula, Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah : 56).

Bagaimanapun engkau berupaya untuk mencari dalam Kitab Allah subhanahu wata'ala dan Sunnah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, engkau tidak akan menemukan di dalamnya pemecahbelah (pengkotak-kotak) ummat kepada Jama’ah-jama’ah, partai-partai, golongan-golongan, kecuali perbuatan itu dicela dan tercela.

Allah azza wajalla berfirman :

وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (31) مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ (32)

“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”  (QS. Ar-Rum : 31-32)

Baca juga : Pentingnya Belajar Ilmu Aqidah Bagian 1

Jalan Petunjuk dan Kebenaran

Bagaimana mungkin Rabb kita, Allah subhanahu wata'ala akan mengakui dan melegitimasi perpecahan sebuah ummat ketika mereka terpecah belah dan mengancam mereka atas perpecahan tersebut, Allah berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am : 159)

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata; ketahuilah bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu bersabda :

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعوْنَ فِي النَارِ وَوَاحِدَةٌ في الجَنَّةِ وَهِيَ الجَمَاعَةُ.

“Ketahuilah bahwasanya Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah-belah menjadi 72 golongan dan bahwasanya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, yang tujuh puluh dua di Neraka dan hanya satu yang di Surga, yaitu al-Jama’ah.” 1

Amir ash-Shan’ani rahimahullah bertutur dalam mengomentari hadits ini: “Penyebutan bilangan pada hadits ini bukan untuk menjelaskan orang yang binasa, akan tetapi hanya untuk menerangkan luasnya jalan-jalan kesesatan dan cabang-cabangnya yang banyak banyak serta penjelasan bahawasanya jalan kebenaran itu hanya satu”. Hal serupa telah disebutkan pula oleh Ulama Ahli Tafsir dalam firman Allah azza wajalla :

وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”  (QS. Al-An’am : 153)

Pada ayat ini Allah menyebutkan bentuk jamak pada kata yang menerangkan “jalan-jalan yang dilarang mengikutinya” guna menerangkan perpecahan dan banyaknya jalan-jalan kesesatan serta keluasannya.

Sedangkan pada kata “jalan petunjuk dan kebenaran”, Allah subhanahu wata'ala menggunakan bentuk tunggal, karena jalan-jalan al-Haq itu hanya satu dan tidak banyak jumlahnya.

Baca juga : Kiat Menggapai Istiqomah

Hakikat Jalan Kebenaran

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu'anhu ia berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَثُمَّ قَالَ : هَذِهِ سُبُلٌ وَعَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ، ثمَّ قَرَأَ (وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ)

“Pernah Rasulullah membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda : ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat beberapa garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda : ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak), pada setiap jalan ada syaitan yang mengajak kepadanya’. Kemudia beliau membaca :

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am : 153)2

Nash/redaksi hadits ini menunjukkan jalan kebenaran itu hanya satu.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Hal ini disebabkan karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanya satu. Yaitu apa-apa yang dengannya Dia mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-kitab-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan yang satu ini. Meskipun manusia dating dengan menempuh setiap jalan, lalu mendatangi setiap pintu untuk dibukakan bagi mereka, niscaya seluruh tertutup dan semua pintu terkunci bagi mereka, terkecuali dari jalan satu-satunya ini, karena dialah yang menghubungkan dengan Allah dan mengantarkan hingga sampai kepada-Nya.”3

Lika-liku Jalan Kebenaran

Saya (Syaikh Abdul Malik Ramadhani) berkata : “Akan tetapi banyaknya lika-liku di jalan ini yang cukup memberatkan, menjadikan seseorang ragu lalu menggalkannya.”

Adapun kelompok-kelompok yang telah menyimpang dari jalan ini, tidaklah mereka menyimpang lalu meninggalkanya melainkan karena merasa senang serta tenang pada jalan yang banyak, dan meresa berat untuk menyendiri dan terdorong oleh keinginan untuk segera tiba, dan takut akan beban perjalanan yang panjang yang harus dipikul. Ibnul Qayyim berkata :

مَنْ اسْتَطَالَ الطَرِيْقَ ضَعُفَ مَشْيُهُ

“Barangsiapa menganggap jauhnya sebuah perjalanan, ia akan lemah dalam menempuhnya” 4

Wallahul Musta’aan.

Dikutip dari buku 6 Pilar Dakwah Salafiyah oleh Syaikh Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani dialihbahasakan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.HI. Penerbit Pustaka Imam Syafi’i.

  1. HR. Ahmad, IV/102, Abu Dawud no 4597, ad-Darimi, II/241, ath-Thabrani, XIX/376, 884-885, al-Hakim, 1/128 dan yang lainya, hadits ini Shahih.
    ↩︎
  2. Hadits Shahih, HR. Ahmad 1/435 dan selainnya. ↩︎
  3. At-Tafsirul Qayyim, hal. 14-15. ↩︎
  4. Kitab Al-Fawaa-id karya Ibnul Qayyim, hal. 90 cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah. ↩︎
ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img