Daftar Isi
Dalil Bid'ah (Perkara Baru dalam Agama dan meninggalkan sunnah)
Hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha beliau berkata,
قال رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : من أحْدَثَ في أمرِنا هذا ما ليس منه، فهو ردّ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngadakan sesuatu di dalam perkara kami ini yang bukan darinya maka itu tertolak.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)
Juga dalam riwayat lain disebutkan,
من صنع أمرا على غير أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang membuat satu perkara yang bukan atas perkara kami maka tertolak.” (HR. Abu Dawud)
Kemudian dalam riwayat Muslim,
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang bukan atas perintah kami maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim)
Hadist Pokok Pembahasan
Kemudian hadits yang kedua,
عن جابر رضي الله عنه قال: كان رسولُ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذا خطب احمرَّتْ عيناه، وعلا صوتُه، واشتدَّ غضبُه، كأنَّهُ منذرُ جيشٍ، يقول: صَبَّحكم ومَسَّاكم ويقول: بُعِثْتُ أنا والساعةُ كهاتين – وَيَقرنُ بين إصبَعَيْه السبابّةِ والوُسطى – ويقول: أمّا بعد، فإنّ خيرَ الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهَدْي هَدْيُ محمدٍ، وشرَّ الأمور محدثاتُها، وكل بدعة ضلالة”. ثم يقول: “أنا أولى بكل مؤمن من نفسِه، من ترك مالاً فلأهلِه، ومن تَرَكَ دَيناً أو ضياعاً فإليَّ، وعليَّ”.
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menyampaikan khutbah memerah kedua matanya dan meninggi suaranya serta semakin bertambah marahnya, seakan akan beliau adalah orang yang memberi peringatan kepada sebuah pasukan yang berkata kalian) akan diserbu oleh musuh kalian( di pagi hari dan di sore hari, dan
beliau bersabda: “Aku diutus sementara kiamat itu ibarat dua jari ini, – dan beliau menggandengkan antara dua jarinya yakni jari telunjuk dan jari tengah -, kemudian beliau berkata: “Adapun berikutnya, sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Muhammad, dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang diada-adakan (di dalam agama ini), dan setiap perbuatan bid’ah adalah kesesatan”, kemudian beliau bekata: “Aku lebih pantas untuk menolong seorang mukmin daripada dirinya sendiri, barangsiapa yang wafat dan meniggalkan harta maka hartanya untuk keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan utang atau keluarga maka kemarilah aku akan menanggungnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Hadits Jabir diatas menjelaskan kepada kita tentang bagaimana khutbah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa khutbah beliau adalah khutbah yang serius, ini dibuktikan dengan kedua mata beliau yang memerah tatkala beliau khutbah dan meninggi suara beliau, dan hikmahnya adalah agar orang yang mendengar khutbah serius dalam mendengar karena kesungguhan khotib yang menyampaikan khutbah. Kemudian ketika beliau marah semakin bertambah marah beliau, marahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu karena Allah, beliau marah apabila Allah Ta’ala atau agama Allah dilecehkan.
Kemudian, tatkala menyampaikan khutbah beliau seperti pemimpin pasukan yang memberi peringatan kepada pasukannya untuk selalu siap siaga dalam waktu pagi dan sore, dan begitulah seharusnya seorang mukmin di dalam kehidupannya, harus selalu siap siaga, karena Allah tidak memberitahu kapan dia akan meniggal. Jadi hadits ini mengingatkan kita bahwa di dalam kehidupan ini harus selalu siap siaga, agar kita senantiasa beramal sholeh, istiqomah, menjaga iman dan amal, karena suatu saat akan datang kematian kepada kita.
Kemudian di dalam khutbahnya beliau berkata “Aku diutus sementara kiamat itu ibarat dua jari ini” -sambil mempermisalkan hal tersebut dengan jari telunjuk dan tengah beliau-. Para ulama menafsirkan bahwa antara diutusnya Nabi Muhammad hingga hari kiamat tidak ada lagi seorang Nabi maupun Rasul, karena tidak ada pembatas dari kedua jari tersebut, ini penafsiran yang pertama. Kemudian yang kedua bahwa jarak hari kiamat dari hari diutusnya Nabi itu seperti jarak antara jari telunjuk dan tengah, artinya umur dunia ini sudah di penggujung.

Lalu beliau melanjutkan dengan kalimat “Amma Ba’du”, arti dari kata tersebut adalah “dengarkanlah dan perhatikanlah apa yang akan aku sampaikan!”. Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya pembicaraan yang paling baik adalah Kitabullah (Al Qur’an)”, karena yang berbicara adalah Rabbul ‘Aalamiin (Tuhan alam semesta), maka tidak ada pembicaraan yang lebih baik daripada Al Qur’an, dan Allah mengatakan seandainya jin dan manusia semuanya berkumpul untuk mendatangkan pembicaraan seperti Al Qur’an ini, maka niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan yang sama seperti Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah kalamullah yang memiliki bahasa yang indah dan penuh dengan makna, setiap kali orang membaca dan memahami Al Qur’an pasti ada manfaat yang dia ambil dari apa yang dibaca.
Baca Juga : Jangan Tertipu Dengan Kebanyakan Manusia
Hal yang disayangkan dan perlu ditangisi oleh kaum muslimin yaitu membaca Al Qur’anul Karim, karena kita ini banyak meremehkan dan melalaikan dari membaca Al Qur’an, semua berita yang ada di media social kita baca dan tidak ketinggalan, akan tetapi Al Qur’anul Karim sering lupa untuk dibaca, ini suatu hal yang harus kita sadari, padahal orang kafir itu paling takut dengan Al Qur’an, karena selama umat muslim ini masih memiliki Al Qur’anul Karim yang terjaga dan terpelihara maka mereka tidak akan bisa mengotak-atik kaum muslimin dari sisi akidahnya atau agamanya, Allah berfiman:
وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ إِنِ ٱسۡتَطَٰعُواْۚ
“Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup.” (QS. Al Baqarah: 217)
Orang-orang kafir akan senantiasa terus memerangi kaum muslimin dan tujuan mereka adalah memurtadkan kaum muslimin dari agama Islam. Maka kita jangan khawatir tatkala harta kita diambil oleh mereka, karena agama ini lebih dari segalanya, aqidah dan iman kita yang harus kita khawatirkan jika direbut atau dirusak oleh mereka. Jadi selama mereka belum mendapatkan tujuannya, mereka tidak akan berhenti, apalagi Allah katakan ما استطاعوا dengan semua kekuatan yang mereka miliki, baik dari informasi, ilmu pengetahuan, ekonomi, sistem politik dll, dengan tujuan bagaimana umat ini keluar dari agamanya. Maka hati-hatilah, jangan terlalu ribut dengan masalah ekonomi, karena Allah telah menentukan rezeki seseorang, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Adapun yang tidak dijamin itu adalah aqidah kita, tidak ada jaminan di dalam aqidah ini kecuali bagi orang yang benar-benar berpegang teguh kepada aqidahnya dan orang yang diberi rahmat dan hidayah oleh Allah yang istiqomah sampai akhir hayatnya, maka itulah orang yang selamat.
Kemudian sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diikuti oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik, maka daripada itu Allah berfiman pada surah Al An’am ayat 153,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ١٥٣
“Dan sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am: 153) Di dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan jalan yang banyak adalah kelompok, firqoh, aliran, atau jama’ah-jama’ah yang punya pemikiran yang menyimpang.
Di dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan jalan yang banyak adalah kelompok, firqoh, aliran, atau jama’ah-jama’ah yang punya pemikiran yang menyimpang.
Dan perkara yang paling jelek adalah hal-hal yang baru yang di dalam agama ini, dan setiap bid’ah itu sesat, bid’ah yang dimaksud adalah di dalam perkara agama, karena agama ini sudah sempurna. Seandainya seseorang berusaha untuk mengerjakan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan baik dari perkara wajib atau sunnah maka dia tidak akan mampu, makanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
إذا أمرتكم بشيء فأتوا منه ما استطعتم، وإذا تهيتكم عن شيء فانتهوا
“Apabila aku perintahkan kepada kalian sesuatu maka lakukanlah semampu kalian, akan tetapi jika aku larang kalian dari sesuata maka berhentilah.”
Kemudian kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Aku lebih utama terhadap kaum muslimin yakni di dalam membantu seorang muslim dibandingkan dirinya sendiri”, ini sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al Qur’an,
عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ١٢٨
“Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 128)
Beliau adalah orang yang merasa berat jika melihat penderitaan umatnya, jika ada orang yang mengaku cinta kepada umat ini melebihi Rasulullah maka dia adalah pendusta, karena tidak ada yang lebih mencintai umat ini dibandingkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka daripada itu tidaklah suatu kebaikan yang menyampaikan kepada surga kecuali telah beliau sempaikan, dan tidaklah sesuatu yang menjerumuskan kepada neraka kecuali beliau sudah peringatkan, sebagaimana sabda Rasulullah “Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, jalan yang terang berderang, malamnya seperti siang”.
Kemudian selanjutnya, “barangsiapa yang wafat dan meniggalkan harta maka hartanya untuk keluarganya”, ini menunjukkan bahwa beliau tidak gila harta, malah beliau itu sering memberi apalagi tatkala Ramadhan, disebutkan bahwa kedermawanan beliau lebih dari angin yang ditiup kencang.
Lalu beliau mengatakan “Dan barangsiapa yang meninggalkan utang setelah wafat atau keluarga maka datanglah kepadaku dan aku akan bertanggung jawab”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu zhahir dan batinnya mencintai umat ini, apabila seseorang memiliki sikap rahmah kepada umat ini maka dia tidak akan gampang untuk mengeluarkan orang dari manhaj dan aqidah ini akan tetapi dia akan menasehati dan menyampaikannya dengan cara yang baik. Maka janganlah seorang muslim ketika melihat saudaranya melakukan hal yang menyimpang kemudian dia tertawa, akan tetapi hendaklah dia mendoakannya.
Hadits ini dimasukkan oleh Imam Nawawi ke dalam bab ini karena terdapat pembukaan khutbah Nabi yang menyebutkan tentang bid’ah.
Perpecahan Umat
وعن معاويَة رضي الله عنه قال: قام فينا رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فقال: ألا إنَّ مَن كان قبلكم من أهلِ الكتابِ افترَقُوا على ثِنْتَيْنِ وسبعين مِلَّة، وإنَّ هذه الأمَّة ستفترق على ثلاثٍ وسبعين، ثِنْتَانِ وسبعون في النار، وواحدةٌ في الجنّة، وهي الجماعةُ”
Dari Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah-tengah kami lalu beliau berkata: “Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab mereka terpecah belah menjadi 72 golongan, dan bahwasanya umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan di neraka, dan satu di surga, dan itu adalah Al Jama’ah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Yang dimaksud dengan Jama’ah adalah orang yang mengikuti apa yang Rasulullah dan para sahabat berdiri teguh diatasnya, karena para sahabat itu diridhoi oleh Allah, dan jika ada yang mengatakan bahwa mereka pernah berselisih satu sama lain, maka aqidah ahlus sunnah adalah mengatakan itu adalah ijtihad mereka, itu adalah perbuatan mereka yang telah lalu, bagaimana dengan kita yang sekarang apa amalan kita, makanya berdoa agar selalu diberikan ketetapan dalam agama ini, karena kita tidak tau bagaimana akhir kita.
Rasulullah memberitahukan kepada kita tentang perpecahan umat Yahudi dan Nasrani sebanyak 72 golongan dan umat ini sebanyak 73 golongan, dan hal ini tidak bisa dipungkiri, kita melihat sekarang banyak aliran seperti murjiah, Rofidhoh dll, dan adanya kelompok ini merupakan ujian dari Allah untuk melihat mana diantara hamba-Nya yang tetap di jalan yang lurus, karena hidup ini adalah ujian.
Kemudian hadits selanjutnya,
وإنه سيخرجُ في أُمتي أقوامٌ تَتَجارى بهم الأهواءُ، كما يتجارى الكَلَب بصاحبه، ولا يَبقى منه عِرق ولا مفصلٌ إلا دَخله
“Dan sesungguhnya akan muncul di tengah-tengah umatku ini beberapa kaum yang mana mereka ini kemasukan hawa nafsu, sebagaimana masuknya virus anjing gila di dalam tubuh orang yang digigit oleh anjing, tiada satu urat pun yang tersisa dan tidak pula satu persendian pun yang ada pada orang itu melainkan dimasuki oleh virus tersebut.” (HR. Abu Dawud: 4597).
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I



