BerandaFiqih dan MuamalahFikih Muamalah Jual Beli #3 - Jual Beli Didasari Saling Ridho

Fikih Muamalah Jual Beli #3 – Jual Beli Didasari Saling Ridho

Jual beli itu hanya akan terlaksanakan, hanya akan sah apabila didasari dengan saling ridho antara kedua belah pihak.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang kaidah-kaidah dalam bermuamalah atau jual beli dan ini merupakan kaidah yang sangat penting, bahkan mungkin paling penting dalam pembahasan syarat sah jual beli.

Yaitu kaidah yang berbunyi,

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Jual beli itu hanya akan terlaksanakan, hanya akan sah apabila didasari dengan saling ridho antara kedua belah pihak.

Dasar dari kaidah ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisa Ayat yang ke-29 di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ

​”Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan harta sebagian dari kalian atau diantara kalian. kecuali dengan cara keridhoan diantara kalian.”

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala melarang kita untuk makan harta saudara kita dengan cara yang batil, dikecualikan dan dibolehkan apabila dilakukan dengan cara tijaroh. Yaitu berniaga, berjual beli yang dilandasi dengan keridhoan antara kedua belah pihak.

Baca Juga : Inti dari Sebuah Akad Jual Beli

Konsekuensi Keridhoan Jual Beli

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Keridhoan dalam jual beli ini memiliki konsekuensi dari 2 sisi,

Pertama, Berkaitan dengan keabsahan jual beli itu sendiri. Apabila jual beli tidak didasari dengan keridhoan, maka jual beli tersebut menjadi tidak sah. Contoh, apabila si A memaksa si B untuk menjual HP nya, kalau tidak dijual akan dipukul akan dipaksa atau mungkin bahkan akan dirampas.

Maka jual beli yang terjadi seperti ini tidak sah karena adanya paksaan, karena tidak ada keridhoan antara kedua belah pihak tadi.

Kedua, Jual beli dengan keridhoan tadi itu akan memberikan dampak konsekuensi dari jual beli. yaitu berpengaruh pada konsekuensi jual beli itu sendiri. Apabila dalam jual beli kemudian si A ketika menjual rumahnya kepada si B dengan syarat saya akan jual dengan syarat saya tempati terlebih dahulu selama satu bulan, baru setelah satu bulan engkau boleh menempatinya.

Maka keridhoan tadi juga berkonsekuensi syarat tadi harus dijalankan, maka si pembeli tidak boleh memaksa si penjual untuk segera keluar. Padahal masih belum satu bulan tadi, sehingga keridhoan yang sudah disepakati di awal tadi itu berkonsekuensi pada serah terima yang sudah disepakati tadi.

Syarat Keridhoan Jual Beli

Jual beli yang dilandasi dengan keridhoan tadi agar dapat menjadi jual beli yang sah, dan juga bisa berpindah kepemilikan tadi. Maka keridhoan harus memenuhi 3 syarat,

Pertama, Keridhoan itu bukan didasari pada suatu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa taala. Artinya, apabila terjadi transaksi jual beli, namun disana melanggar syariat agama Allah subhana wa ta’ala, maka tidak boleh. Contoh orang yang melakukan praktek ribawi. Pinjam 1.000.000 harus mengembalikan 1.100.000, disini antara nasabah dengan yang meminjami sama sama ridho, tidak ada paksaan antara satu dengan yang lainnya.

Namun apakah keridhoan kedua belah pihak tadi menjadikan jual belinya itu sah atau tidak? Kenapa? Karena jual beli tadi dilandasi dengan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa taala. Dengan kata lain, meskipun keduanya itu sudah ridho, tapi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ridho dengan jual beli tadi, maka tetap tidak diperbolehkan.

Kedua, Bahwasanya keridhoan tadi tidak menafikan tujuan utama dari jual beli. Namanya jual beli tujuan utamanya adalah agar pembeli bisa memanfaatkan barang yang dibelinya karena sudah berpindah kepemilikan. Maka apabila ada orang yang menjual barangnya, Saya jual rumah ini tapi enggak boleh ditempati, Saya jual HP saya tapi tidak boleh digunakan. Maka meskipun di sini keduanya keridhoan menjadikan jual belinya tidak sah.

Kenapa? ya Karena namanya orang beli pasti ingin dimanfaatkan. Beli rumah ingin ditempati atau ingin dimanfaatkan investasi dan yang lainnya, kalau beli HP dengan disyaratkan tidak boleh dimanfaatkan Meskipun sama sama ridho maka syarat keridhoan di sini tidak tercapai.

Ketiga, Tidak ada sebab syar’i yang membatalkan adanya keridhoan. Artinya, terkadang ada suatu kondisi dalam praktek jual beli tidak disyaratkan keridhoan, apa contohnya ?. Misal si A pernah pinjam uang kepada si B, Janjinya selama satu bulan, 2 bulan tidak dibayar, 3 bulan tidak dibayar. Padahal dia sebenarnya ada kemampuan. Kalaupun tidak ada uang cash, dia memiliki rumah, dia memiliki mobil yang bisa dijual untuk membayar utangnya tadi. Lalu si B ini melaporkan kepada pihak yang berwenang, pada penguasa amirul mukminin. Si A tadi pinjam uang tapi tidak segera mengembalikan padahal dia mampu.

Maka pemerintah itu berhak untuk memaksa si A tadi menjual mobilnya, dari uang yang dijual, dari uang yang diperoleh dari menjual mobil tadi bisa digunakan untuk bayar utang kepada si B. Berarti tadi si A tadi menjual barang dengan paksaan dari penguasa, dan disini sah. Jadi pemerintah memaksa untuk menjual mobilnya tadi dengan sebab syar’i, maka itulah tiga syarat untuk mencapai keridhoan dalam jual beli.

Jual Beli Didasari dengan Saling Ridha Antara Kedua Pihak

Caara Mengetahui Keridhoan antara Kedua Belah Pihak

Kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wa ta ala. Bagaimana kita bisa mengetahui keridhoan antara kedua belah pihak?

Pertama, bisa diketahui dengan lafadz atau ucapan yang tegas. Artinya si A mengatakan saya ridho saya jual ini, Kemudian si B juga mengatakan ridho untuk membelinya. Atau dengan kesepakatan dengan tulisan perjanjian, maka di sini sudah jelas menunjukkan keridhoan Antara kedua belah pihak.

Kedua, bisa juga dengan diam. Tapi diamnya di sini diam dalam kondisi dia itu dibutuhkan untuk menjelaskan. Contoh misalkan, ada si A ambil hp saya tanpa izin tanpa ngomong apapun dan saya tahu dia mengambil HP.  Atau kadang tidak tahu, saya tidak tahu dia ngambil HP saya dibawa pergi. Kemudian ternyata si fulan tadi itu menjual HP saya.

Lalu kemudian kembali ke saya bawa uang bilang ke saya, tadi saya ambil HP kok saya ngelihat ada orang butuh dan menawar tinggi saya ambil HP, saya jual sekian misalkan 2 juta dan ini uangnya saya berikan kepadamu, kemudian saya diam, saya ambil uangnya, kemudian saya pergi.

Di sini saya tidak mengatakan bahwa saya ridho atau oh ya silakan, karena tadi dia sudah mengambil barang, kemudian kembali dengan membawa uang dan saya pun diam. Diam saya yang tidak menunjukkan pengingkaran, tidak menunjukkan marah kepada dirinya, maka ini menunjukkan keridhoan.

Ketiga, bisa diketahui dengan Urf dengan kebiasaan. Artinya, misalkan, Kita di rumah ada tamu. Kemudian kita hidangkan makanan, ya kita taruh di atas meja tanpa berbicara silahkan, monggo misalkan. Lalu tamu tersebut mengambil dan minum ataupun makan.

Secara urf, secara kebiasaan maka pada umumnya namanya makanan ditaruh di meja, maka itu adalah izin untuk diambil diperbolehkan itu umumnya, kecuali kalau memang di masyarakat itu harus di beritahukan atau diizinkan terlebih dahulu oleh tuan rumahnya, maka nanti beda lagi. Tetapi Umumnya kalau ini meja misalkan di ruang tamu dan sedang ada tamu dikasihkan itu adalah izin untuk dimakan atau diambil.

Kemudian kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wa taala keridhoan ini juga memiliki rukun, dan rukun ridho itu ada 2 macam,

Pertama adalah ilmu. Mengetahui atau memahami sedang terjadi transaksi jual beli. Misalkan ada Orang A misalkan pergi ke Arab, Kemudian di sana ditawari oleh penjual sana pakai bahasa arab sedangkan kita tidak mengerti bahasa arab, lalu kemudian dikasih tahu ini dengan pakai bahasa campuran bahasa Indonesia yang terkadang kita tidak mengetahuinya. Tiba-tiba hanya dikasih tahu 100.000 kadang mereka juga tahunya 100.000. Sedangkan pembeli di sini tidak begitu paham apa yang dikatakan tadi hanya mengeluarkan saja.

Maka di sini tidak ada ilmu, tidak ada pengetahuan barangnya seperti apa, Speknya seperti apa, Maka di sini tidak tercapai keridhoan Antara kedua belah pihak tadi.

Kedua adalah ikhtiar, yaitu pilihan. Pilihan disini maksudnya dia dalam keadaan sadar tidak dalam keadaan paksa karena pemaksaan dalam jual beli itu akan menggugurkan keabsahan dari jual beli itu sendiri.

Nah mungkin itu sedikit kita sampaikan tentang kaidah dalam jual beli ini yaitu,

ِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ 

Jual beli harus dibangun diatas keridhoan diantara kedua belah pihak. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq.

Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc., M.H | Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

    ARTIKEL TERKAIT

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    spot_img