Manusia terbagi menjadi tiga golongan dalam permasalahan kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:
- Kelompok yang ekstrem (ifrath)
- Kelompok yang menggampangkan dan meremehkan (tafrith)
- Kelompok yang pertengahan (wasathiyyah)
Daftar Isi
1. Kelompok yang Ekstrem
Kelompok pertama yaitu orang-orang yang berlebihan dalam kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membuat perkara-perkara baru yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dari hal-hal yang melampaui batas yang mereka lakukan dalam memuji beliau, perbuatan ekstrem tersebut bahkan sampai kepada hal-hal yang seharusnya tidak boleh disandarkan dan ditujukan kepada selain Allah. Mereka menjadikan sebagian bentuk ibadah untuk beliau seperti berdoa kepada beliau, bertawasul dengan beliau, bersumpah dengan nama beliau, mengusap kamar yang beliau dikuburkan di dalamnya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan selain hal-hal tersebut yang merupakan bentuk kesyirikan dan kebid’ahan semuanya dilakukan dengan klaim sebagai bentuk cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hal-hal tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak pula dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang dikenal dengan pengagungan dan kecintaan mereka yang besar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, hal-hal tersebut termasuk yang telah dilarang oleh syariat agar tidak dikerjakan.
Golongan ini termasuk orang yang paling bermaksiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena telah menyelisihi peringatan beliau terhadap syirik dan bid’ah.
Maka wajib membedakan mana hak yang merupakan kekhususan bagi Allah semata, hak bagi Rasul-Rasul-Nya secara umum, dan hak kekhususan bagi Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah telah memperinci hak-hak tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 9)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa ta’zīr (menguatkan) dan taqwīr (mengagungkan) ditujukan untuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan tasbih hanya untuk Allah semata.
Demikian pula dalam ayat lain, Allah berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ketaatan adalah untuk Allah dan Rasul-Nya, sedangkan khasyah (rasa takut yang disertai pengagungan) dan ketaqwaan hanya untuk Allah semata.
Syaikh ibnu Baz mengatakan bahwa, cinta Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bukan dengan berbuat kebid’ahan membuat sesuatu yang baru dalam agama, namun wujud cinta kepada beliau adalah dengan mengikuti jalan beliau dalam beragama shallallahu’alaihi wa sallam, dengan mengikuti perintah-perintahnya, dan meninggalkan larang-larangannya, dengan bershalawat kepada beliau ketika disebutkan nama beliau di setiap waktu (bukan hanya pada waktu tertentu saja).

Adapun membuat perkara baru bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang membuat beliau marah dan murka, dan termasuk dalam perkara yang beliau larang dan beliau ingkari shallallahu’alaihi wa sallam. Perkara ini pula adalah yang bisa menyebabkan Allah murka, Allah mengingkari ahli bid’ah atas kebid’ahan yang mereka lakukan. Allah berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”. QS Asy Syura: 21.
Suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk mengikuti beliau dan tidak membuat perkara baru dalam agama yang merupakan suatu bentuk kebid’ahan. Bagi seorang muslim wajib untuk mengikuti syariat dan itu sudahlah cukup, alhamdulillah. Adapun membuat kebid’ahan mengada-adakan perkara baru dalam agama maka adalah suatu keburukan dan bencana.
Agama Islam ini adalah agama yang telah lengkap alhamdulillah. Tidak boleh ada seorang pun untuk membuat perkara baru yang Allah tidak mensyariatkannya, tidak perkara maulid atau perkara lainnya.
Diantara perkara baru yang lain adalah membangun bangunan di atas kubur, menjadikan masjid di atas kuburan, maka ini adalah suatu kebid’ahan dan diantara wasilah kepada kesyirikan, diantara wasilah kepada kesyirikan adalah memplester kuburan, membangun kubah di atasnya, meletakkan tabir kain di atasnya ini semua adalah diantara bentuk kebid’ahan pula dan termasuk yang dapat menyebabkan kesyirikan dan wasilah kepada kesyirikan.
Maka suatu kewajiban bagi seorang muslim yang beragama Islam untuk menghindari kebid’ahan dan menjauhinya, sehingga menyebabkan ia menyelesihi Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam. Sebaliknya hendaklah ia mengikuti beliau dalam segala yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang shallallahu’alaihi wa sallam.
Syaikh ibnu Utsaimin mengatakan, wajib untuk kita ketahui bahwa kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan pengagungan kepada beliau tidak dengan ghuluw berlebihan. Bahkan orang yang ghuluw kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maka sesungguhnya pada hakikatnya dia tidak mengagungkan beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang melampaui batas kepada beliau, maka jika kamu melampaui batas kepada beliau maka pada hakikatnya engkau telah mendurhakai beliau.
Maka apakah jika ada orang yang mendurhakai seseorang maka berarti ia mengagungkannya? Tentu tidak. Oleh karenanya suatu kewajiban bagi kita untuk tidak ghuluw berlebihan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana orang-orang ahlu kitab telah berbuat ghuluw berlebihan kepada para Nabi.
Maka kita mengatakan sesungguhnya Muhammad shalallallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba Allah yang beliau tidak berhak untuk ditujukan ibadah kepada beliau, dan beliau adalah seorang Rasul utusan-Nya yang tidak boleh untuk didustakan risalahnya.
Baca Juga: Kedudukan Cinta kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam
2. Kelompok yang Menggampangkan dan Meremehkan
Adapun golongan yang kedua adalah mereka yang meremehkan, mereka yang melalaikan dalam merealisasikan cinta kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka yang tidak memperdulikan hak-haknya shallallahu’alaihi wa sallam dalam wajibnya mendahulukan cinta kepaa beliau di atas kecintaan kepada selainnya, baik cinta kepada diri sendiri, keluarga ataupun harta. Sebagaimana mereka.
Pertama, berpaling dari sunnah beliau shallallahu’alaihi wa sallam dan berpaling dari mengikuti syariatnya karena sebab maksiat, dan lebih mendahulukan hawa nafsu ketimbang mengukuti petunjuk.
Kedua, berkeyakinan dalam hatinya bahwa dengan membenarkan kenabian dan risalah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maka sudah merasa merealisasikan keimanan walaupun tanpa mengikuti petunjuk beliau.
Ketiga, kebodohan ketidak tahuan (bahkan tidak mau tahu) tentang hak-hak yang wajib untuk ditunaikan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yang diantaranya adalah hak cinta kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam.
Syaikh as Syanqithi memberikan penjelasan ketika menafsirkan firman Allah,
…قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Surat Ali ‘Imran, Ayat 31).
Allah secara jelas menerangkan pada ayat mulia ini bahwa kecintaan kepada Nabi-Nya adalah konsekuensi cinta kepada Allah dan Allah mencintai beliau, dan dari hal itu pula bahwa ketaatan kepada Rasul-Nya maka itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah juga, demikian Allah terangkan hal ini dalam firman-Nya,
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.. QS An Nisa: 80. Demikian pula Allah berfirman
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. QS al Hasyr : 7.
Faidah yang dapat diambil dari ayat ini, bahwa alamat tanda dari kebenaran cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Adapun orang yang menyelisihi beliau dan mengaku bahwa dirinya cinta kepada beliau maka itu merupakan kedustaan yang dibuat-buat saja, karena cinta cintanya benar dan tulus maka niscaya ia akan mengukuti beliau, dan merupakan suatu yang maklum diketahui oleh manusia bahwa konsekuensi cinta yang benar dan tulus maka ia akan menaati dan menuruti orang yang dicintainya, sebagaimana penyair mengatakan,
Jika cintamu adalah cinta tulus sejati maka pasti kau kan menurutinya
Karena pecinta sejati kepada yang dicintainya pasti akan menurutinya
Bersambung……
Dinukil dari Dorar.net
Diterjemahkan oleh Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.



