spot_img
BerandaAqidah dan ManhajKeutamaan Tauhid dan Bahaya Kesyirikan dalam Kehidupan Seorang Muslim

Keutamaan Tauhid dan Bahaya Kesyirikan dalam Kehidupan Seorang Muslim

Terdapat banyak keistimewaan dan keutamaan bagi orang-orang yang bertauhid serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tauhid merupakan tujuan utama Allah Ta'ala menciptakan seluruh makhluk, yaitu agar mereka senantiasa mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak mencampuradukkan tauhid dengan kesyirikan.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An‘ām: 82)

Ayat ini merupakan penegasan dari Allah kepada seluruh makhluk bahwa iman yang murni, yang tidak tercampuri oleh kesyirikan, akan mengantarkan seseorang kepada rasa aman pada hari Kiamat, aman dari azab neraka, serta memperoleh petunjuk dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Yang dimaksud dengan kezaliman dalam ayat ini adalah perbuatan syirik, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta‘ālā:

اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar.”
(QS. Luqmān: 13)

Baca Juga: Keutamaan dan Keistimewaan Kalimat Tauhid dalam Menghapus Dosa

Macam-Macam Kezaliman

Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-‘Utsaimīn raḥimahullāh menjelaskan bahwa kezaliman yang dilakukan manusia terbagi menjadi tiga macam:

  • Kezaliman terbesar, yaitu menyekutukan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dimaksud dalam QS. Al-An‘ām ayat 82.
  • Kezaliman terhadap diri sendiri, yaitu dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah, baik yang bersifat wajib maupun sunnah.
  • Kezaliman terhadap orang lain, yaitu dengan berbuat aniaya kepada sesama manusia.

Jaminan Surga bagi Orang yang Bertauhid

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق، والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, serta bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya, serta bersaksi bahwa surga dan neraka itu benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang ia kerjakan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan persaksian tauhid dan keimanan terhadap seluruh perkara pokok dalam aqidah. Seseorang yang mentauhidkan Allah dan mengimani seluruh hal tersebut, maka ia pasti akan dimasukkan ke dalam surga Allah, meskipun tingkatan surga yang diperolehnya bergantung pada amal yang ia lakukan di dunia.

Tauhid Mengharamkan Pelakunya dari Neraka

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan tentang kemuliaan orang yang bertauhid di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:

فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya yang mengesakan-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Inilah dakwah pertama yang disampaikan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada kaumnya ketika diutus sebagai Rasul:

أيُّها النَّاسُ قولوا لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ تُفلِحوا

“Wahai manusia, ucapkanlah Lā ilāha illallāh, niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Ibnu Isḥāq)

Bahkan di akhir hayat beliau, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tetap memperingatkan umatnya agar menjauhi kesyirikan, sebagaimana sabdanya:

طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ … لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tauhid

Tauhid Lebih Berat dari Seluruh Dosa

Dalam hadis tentang bithāqah (kartu tauhid), Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kalimat tauhid dapat mengalahkan dosa yang sangat banyak:

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ … فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

(HR. Ibnu Mājah, Tirmidzi, dan Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa Lā ilāha illallāh memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Kalimat Tauhid dan Luasnya Ampunan Allah

Doa Nabi Musa ‘alaihis salām juga menunjukkan keagungan kalimat tauhid:

قَالَ: يَا مُوْسَى، لَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ … مَالَتْ بِهِنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Seandainya langit dan bumi diletakkan di satu timbangan, dan Lā ilāha illallāh di timbangan lainnya, niscaya Lā ilāha illallāh lebih berat.”
(HR. Ibnu Ḥibbān)

Bahkan Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba yang bertauhid:

…يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا …

(HR. Tirmidzi)

Allah Ta‘ālā juga berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ

(QS. Az-Zumar: 53)

Inilah sebagian keutamaan kalimat tauhid yang agung. Dengan kalimat ini, dosa-dosa besar dihapuskan dan rahmat Allah diluaskan. Maka sudah sepantasnya seorang hamba tidak berputus asa dari rahmat Allah, serta senantiasa istiqamah dalam merealisasikan tauhid hingga akhir hayat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam tauhid dan dikumpulkan di surga-Nya bersama orang-orang yang kita cintai.

Wallāhu a‘lam.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img