Manhaj merupakan suatu jalan yang lurus. Adapun secara bahasa manhaj adalah jalan yang jelas, karena agama islam ini terang benerang dan didalamnya tidak ada kekaburan. Dalil siapa mereka salaf tersebut pada surah At-Taubah ayat 100,
وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
Berkata Al-‘Alamah Syaikh Abdurrahman Bin Nasir Sa’di Rahimahullah Ta’ala tentang ayat ini makna dari السّٰبِقُوْنَ , yaitu mereka yang mendahului umat ini dan mereka orang-orang yang pertama kali beriman dan hijrah kepada Allah Ta’ala dan berjihad dijalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam menegakkan Agama Allah Ta’ala. Dan termasuk dari mereka ialah الْمُهٰجِرِيْنَ ,yaitu suatu kaum yang berhijrah dari Makkah ke Madinah sebagaimana firman Allah pada surah Al-Hasyr ayat 8,
الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ
“yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya dan (meninggalkan) harta bendanya demi mencari karunia dari Allah, keridaan(-Nya), serta (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang benar.”
Dan termasuk dari mereka ialah الْاَنْصَارِ yaitu mereka yang dijelaskan pada Surah Al-Hasyr ayat 9,
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ
“Orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak.”
Pada ayat ini terdapat kemulian kaum Anshar yang mana mereka mencintai orang-orang yang berhijrah atau datang kepadanya, yaitu kaum Muhajirin. Mereka tidak pernah mengharapkan sesuatu dari apa yang mereka diberikan. Mereka ikhlas memberikan kepada orang-orang Muhajirin karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mereka lebih mengutamakan orang-orang Muhajirin meskipun pada hakikatnya mereka orang Anshar itu membutuhkan apa yang mereka berikan itu, akan tetapi mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin.
Dan الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ mereka yang mengikutinya dengan baik yaitu mengikuti semua Akidah yang dianut oleh kaum Muhajirin dan Anshar baik itu dalam ucapan dan amal-amal mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang selamat dari celaan dan mereka mendapatkan pujian yang tinggi bagi mereka yang mengikuti para kaum Muhajirin dan Anshar. Dan mereka semua itu mendapatkan kemulian yang tinggi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dan Syaikh Sa’di juga menyebutkan tentang رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ yaitu mereka kaum Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang mana Allah Ridha kepada mereka. Dan Keridhaan Allah itu lebih besar dari pada nikmat Surga serta mereka pun juga ridho kepada Allah, maka Allah siapkan bagi mereka Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang ia dialirkan kepada semua surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan semua taman yang indah yang dipenuhi dengan cahaya. (Abdurrahman Bin Nasser Sa’adi, Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Berkata Abdullah Ibn Mas’ud terkait siapa mereka yang pertama kali memeluk islam dari kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan di ayat At-Taubah menjelaskan dua generasi, yaitu generasi para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sedangkan didalam hadist Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam ada tambahan generasi yang ketiga sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
قال:خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian datang kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Bukhari 2509 dan Muslim 2553)
Dan generasi yang ketiga yang terdapat pada hadist ini sudah masuk kedalam dua generasi yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dan yang ketiga ini merupakan tambahan dari hadist Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Maka dari itu mereka disebut dengan Al-Qurun Ats-Tsalatsah Mufadholah, yaitu tiga generasi yang memiliki keutamaan. Ini semua dijelaskan agar kita paham bahwasannya Salaf itu mereka yang ada digenerasi tersebut.
Berkata Al-Imam An-Nawawi terhadap hadist diatas,
هذا ذَمُّ لِمَنْ يَشْهَدُ وَيَحْلِفُ مَعَ شَهَادَتِهِ … إلى أن قال: وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يُجْمَعُ بَيْنَ الْيَمِينِ وَالشَّهَادَةِ فَتَارَةً تَسْبِقُ هَذِهِ وَتَارَةً هَذِهِ.
“Ini adalah celaan bagi orang yang bersaksi serta bersumpah dengan persaksian tersebut”… sampai kepada perkataan Al-Imam An-Nawawi “Arti dari hadist,
ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
Adalah adanya golongan yang dia menggabungkan antara keduanya yang terkadang seorang itu bersumpah dulu baru mendatangkan saksi ataupun sebaliknya. (Kitab Syarah An-Nawawi).
Maka dari itu Al-Imam An-Nawawi menyebutnya ini sebagai celaan kepada mereka. Dan juga Abdullah Ibn Mas’ud menyebutkan hanya sampai tiga generasi saja adapun generasi yang keempat itu sudah muncul padanya hal yang tercela yang mereka lakukan.
Dan berkata Jubair Ibn ‘Ady yang beliau merupakan salah satu dari generasi Tabi’in. berkata “Kami pernah mendatangi Anas Ibn Malik Radiyallahu ‘Anhu, kemudiaan kami mengadu kepadanya tentang apa yang kami dapatkan dari Hajjaj Bin Yusuf[1]. Maka berkata Anas Bin Malik “Bersabarlah kalian, karena tidak akan datang suatu zaman kepadamu melainkan zaman tersebut lebih buruk daripada sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian (Meninggal)” kemudian Anas Bin Malik berkata “Aku mendengarnya dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam”. (HR. Bukhari 2509)
[1] yaitu seorang penguasa yang sangat kejam pada zamannya. Ketika Hajjaj Bin Yusuf berpidato untuk pertama kalinya ia melihat sebagian orang-orang yang cenderung tertawa sinis kepadanya, Lalu ia berkata didalam pidatonya “saya melihat bahwa buah-buah ini sudah sudah matang sudah pantas untuk dipetik” Maksud buah disini adalah kepala. Hajjaj Bin Yusuf diangkat sebagai gurbenur oleh para Khalifah Bani Umayyah.
Baca Juga : Amalan Yang Dicintai Allah
Dan hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Thabrani didalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir, berkata Abdullah Ibn Mas’ud “Tidak ada suatu tahun melainkan tahun berikutnya lebih jelek dari sebelumnya, dan tidak ada suatu tahun yang lebih baik dari sebelumnya, dan tidak ada suatu kaum yang lebih baik dari sebelumnya, Akan tetapi akan pergi orang-orang terbaik diantara kalian dan ulama-ulama kalian. Dan akan datang suatu kaum yang mereka mengkiaskan semua perkara agama dengan pendapat mereka dan enggan merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Maka islam secara perlahan akan musnah (Al-Imam Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir) dikarenakan banyak orang-orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukkan dalam beragama dan lebih mengedepankan pendapat mereka.
Kemudian Abdullah Ibn Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu berkata “Barang siapa yang menjadikan seseorang sebagai teladan, maka hendaknya dia menjadikan para sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wasaallam sebagai teladan. Karena merekalah hati yang berbakti serta khusyuk (Beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala) Yakni Dinukil dari perkataan Abdullah Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan Imam Ahmad Bin Hambal didalam Musnadnya dengan sanad yang shahih. Berkata Abdullah Ibn Mas’ud Radiyallahu “Sesungguhnya Allah mencermati pada hati semua hambanya. Maka Allah dapati bahwa hati Muhammad adalah sebaik-baiknya hati dari hambanya, maka Allah memilih Muhammad untuk dimenjadikannya seorang Rasul.
Kemudian Allah mengutus beliau untuk membawa agamanya. Dan kemudian Allah mencermati hati hamba lainnya, maka Allah jumpai hati sahabat beliau itu sebaik-baiknya hati para hambanya setelah Muhammad. Dan Allah jadikan mereka sebagai para pembantu Nabi Shalalahu Alaihi Wasallam (Musnad Imam Ahmad). Dan mereka yang paling mendalam ilmunya dan mereka pula tidak berlebihan dalam ibadah, yakni jika ada dalil dalam perbuatan tersebut maka mereka mengerjakannya dan mereka juga yang paling lurus agama mereka dan yang paling baik keadaan agama mereka dari yang lain. Merekalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk membersamai Nabinya Shalallahu Alaihi Wasallam. Maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka, karena mereka berada pada jalan yang lurus. (Ibnu Abdil Bar, Jami Bayan Al-Ilmu wa Fadlihi)
Dan perkataan ini merupakan peringatan bagi kita. Yang mampu membawa dakwah ini adalah orang-orang yang hatinya bersih ini penegasan dari ucapan Abdullah Ibn Mas’ud Radiyallahu. Maka jika ada orang yang hatinya kotor dan rusak kemudian merasa jadi pahlawan didalam dakwah salafiyyah, lebih baik mundur. Karna Allah memilih orang untuk membantu nabinya adalah hati mereka. Allah melihat hati-hati mereka yang baik. Maka ini merupakan inti pokok dakwah yaitu yang bisa menolong dakwah salafiyyah ini mereka yang memiliki hati yang bersih serta niat yang benar karna Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Diantara ketuamaan Sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum :
- Para sahabat Nabi adalah sebaik-baiknya generasi dari semua generasi yang ada.
- Mereka sebagai perantara antara Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan umatnya yang datang setelah mereka didalam mengambil ilmu. Dan melalui perantara mereka umat ini menerima syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
- Mereka yang menaklukan negeri-negeri kafir.
- Mereka juga yang menyebarkan berbagai macam keutamaan pada umat ini dengan jujur, menasihati, akhlak mulia dan adab islam yang tidak didapatkan selain pada diri mereka (https://www.alukah.net).

Pokok penting pembahasan Bab Mengenal Manhaj Salaf
- Penjelasan tentang yang dimaksud dengan salaf yang mereka merupakan generasi yang pertama dan utama. Makna Salaf secara bahasa adalah lafadz yang jika disebutkan secara mutlak bermakna suatu yang telah berlalu. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an
فَجَعَلْنٰهُمْ سَلَفًا وَّمَثَلًا لِّلْاٰخِرِيْنَ ࣖ ۞ وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا اِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّوْنَ
“Maka, Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian. Ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya” (Surah Az-Zukhruf:56-57).
Dan berkata Ibnu Mandzur[2] “Salaf adalah yang mendahului kamu dari ayahmu, kerabatmu yang usianya lebih tua serta kebaikan” sebagaimana sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam kepada Putrinya Fatimah Radiyallahu ‘Anha “Takutlah kamu kepada Allah dan Bersabarlah, sesungguhnya aku orang terbaik yang mendahuluimu” (HR. Muslim 2450).
Dan makna salaf secara istilah adalah generasi pertama pada umat (islam) ini yang ilmu mereka kokoh pada diri mereka, yang mereka mengikuti Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, yang mereka memelihara sunnahnya dan Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat Nabinya Shalallahu Alaihi Wasallam dan Allah memilih mereka untuk menegakkan agamanya (Agama Islam) dan ulama-ulama kaum muslimin ridha kepada mereka. Dan mereka berjihad dengan sebenar-benarnya jihad kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mereka fokus dalam menasehati umat dan memberikan manfaat kepada umat dan mereka mengkorbankan diri mereka dalam mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dan berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala “Salafiyyah adalah para pengikut metode beragama Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Karena mereka para pendahului kita dan mendahului kita maka orang yang mengikutinya disebut dengan Salafiyyah. Dan adapun jika seseorang mengikuti manhaj secara khusus kemudian orang tersebut menyendiri dan menyesatkan siapa yang berada disekitarnya menyelisihinya termasuk dari orang-orang islam meskipun mereka tersebut diatas kebenaran maka ini termasuk Manhaj Hizbiyyah yang sudah tidak diragukan lagi bahwasannya ini menyelisihi Salaf” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Silsilah Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh).
- Bahwasannya Sahabat adalah manusia yang paling baik. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka” (HR. Bukhari 2509 dan Muslim 2553). Dan mereka para sahabat adalah manusia yang pertama didalam membuka segala pintu kebaikan.
- Bahwasannya kebaikan para sahabat itu bersifat umum didalam semua pembahasan dalam agama
- Bahwasannya kebaikan dari zaman ke zaman semakin berkurang
- Bahwasannya penisbatan kepada Salaf ini merupakan penisbatan kepada sebaik-baiknya generasi dan juga penisbatan kepada kebenaran.
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I



