Daftar Isi
Seorang yang tenggelam dalam urusan dunia hanyut dalam mengejar gemerlap dunia, dan kelezatannya, hatinya lalai dari mengingat kematian dan tidak mengingatnya. Bahkan ketika ia teringat tentangnya ia akan membenci dan memalingkan diri dari mengingatnya. Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (8)
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al Jumu’ah: 8)
Allah juga berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An Nisa: 78)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS al Anbiya: 35)
Kematian dan Pedihnya Sakaratul Maut
Orang yang kenal dengan Rabbnya maka ia selalu mengingatnya, mengambil wasiat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang beliau berpesan,
“Hendaklah kalian memperbanyak mengingatkan pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HR Tirmidzi dalam sunannya).
Ibnu Majah meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar bahwasannya ia berkata, ada seorang laki-laki dari kalangan Ansor datang kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lalu ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?,” maka beliau mengatakan, “Orang yang paling baik akhlaknya,” lalu sang laki-laki tadi bertanya kembali, “Orang mukmin mana yang paling cerdas?,” maka beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat kematian diantara mereka, dan orang yang paling baik dalam mempersiapkan apa yang akan terjadi setelah kematian, merekalah orang-orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah)
Imam Hasan al Bashri pernah mengatakan, “Kematian menyingkap hakikat dunia, dan tidak menyisakan kebahagiaan bagi orang yang memahami hakikat tersebut, tidaklah seorang yang senantiasa mengingat kematian dalam hatinya melainkan dunia akan menjadi rendah baginya, dan apa yang ada di dalamnya menjadi hina.”
Penyair bersyair tentang hakikat dunia
لا طيب للعيش ما دامت منغصة
Tidak ada kebaikan pada kehidupan yang senantiasa dihantui
لذاته بادكار الموت والهرم
Terancam hilang kenikmatannya dengan mengingat kematian dan masa senja
Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan, “Ketika hatiku pernah lalai dari mengingat kematian sesaat saja maka aku merasakan kerusakan padanya.” Para ahli hikmat mengatakan, “Barangsiapa yang memperbanyak mengingat kematian maka ia akan dikaruniai tiga hal,
- Bersegera bertaubat
- Hati yang qana’ah (senantiasa merasa cukup),
- Bersemangat dalam beribadah,
Adapun orang yang melupakan kematian maka ia akan diberi azab di dunia dengan tiga hal,
- Menunda-nunda taubat,
- Tidak puas dengan kecukupan yang ada padanya,
- Malas ketika beribadah.
Kematian memiliki sekarat dan kepedihan, yang akan dialami oleh seluruh makhluk. Allah meringankan sekarat dan kepedihannya pada sebagian hamba-hamba-Nya, seperti orang-orang yang syahid, karena orang yang syahid di jalan Allah sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan,
“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian baginya.” (HR An Nasai)
Terkadang sakarat ini terasa sangat pedih bagi beberapa hamba Allah sebagai bentuk peringanan dari dosa-dosa yang telah ia lakukan, dan sebagai rahmat serta bentuk tambahan derajat baginya, seperti terjadi pada para Nabi, dan yang paling utama diantara mereka yang terjadi pada Nabi Muhammad bin Abdillah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau dahulu merasakan sebelum kematian beliau sekarat yang pedih, padahal beliau adalah hamba Allah yang paling dicintai oleh-Nya.
Imam al Bukhari meriwayatkan sebuah dari dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau mengatakan, “Dahulu di depan beliau shallallahu’alaihi wa sallam (sebelum wafat beliau) ada sebuah bejana atau wadah yang berisi air, maka beliaupun lalu memasukkan kedua tangan beliau ke dalamnya, lantas mengusapkan wajah beliau dengan kedua tangannya tadi, kemudian beliau bersabda, “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi melainkan hanya Alllah, sesungguhnya kematian memiliki sekaratnya”, kemudian beliau mengangkat tangannya seraya berdoa, “Wahai Ilah yang aku sembah, (angkatlah aku) ke tempat yang tinggi”, sampai ruh beliau dicabut dan jatuh tangan beliau.
Ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mulai merasakan berat pedihnya sakaratul maut beliau menutupkan kain pada kepala beliau, melihat hal tersebut maka Fatimah putri beliau pun mengatakan pada ayahnya, “Betapa pedihnya ujian yang menimpamu wahai ayahku”, maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam pun menjawab perkataan putrinya tersebut, “Tidak akan ada ujian berat lagi yang menimpa bapakmu setelah hari ini”. (HR Bukhari). Karena saking beratnya ujian sakaratul maut beliau sampai mengatakan, “Siramlah aku dengan air dari qirbah tempat minum, yang belum dilepas ikatan talinya, sehingga aku bisa memberi nasihat kepada manusia. (HR Bukhari).

Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa setiap kali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mandi dan bertekad untuk shalat bersama kaum muslimin maka tiba-tiba beliau pingsan sebanyak tiga kali. (HR Muslim)
Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan
مَاتَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وإنَّه لَبيْنَ حَاقِنَتي وذَاقِنَتِي، فلا أكْرَهُ شِدَّةَ المَوْتِ لأحَدٍ أبَدًا بَعْدَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam wafat saat beliau berada di atas dadaku, sejak saat itu aku tidak membenci beratnya sakaratul maut pada seseorang setelah aku melihat (beratnya sakaratul maut) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (dengan ketinggian derajat beliau). (HR Bukhari).
Sakaratul maut ini terasa lebih sangat pedih jika dialami oleh orang kafir, sebagaimana yang dirasakan oleh ahli maksiat dari kaum muslimin. Allah berfirman,
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ (93)
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS Al-Anam: 93)
Allah juga berfirman:
وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (50)
“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (QS al Anfal:50)
وإنَّ العبدَ الكافِرَ إذا كان في انقِطاعٍ من الدنيا، وإقبالٍ من الآخِرةِ، نزل إليه من السَّماءِ ملائكةٌ سُودُ الوجُوهِ، معَهُمُ المُسُوحُ، فيجلِسُونَ منه مَدَّ البَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الموتِ حتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: يَا أيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إلى سَخَطٍ من اللَّهِ وغَضَبٍ، فَتَفرَّقُ في جَسَدِهِ فيَنتَزِعُهَا كَما يُنتَزَعُ السَّفُّودُ من الصُّوفِ المَبْلُولِ، فيَأْخذَها، فإذا أخذَها لَم يَدَعُوها في يَدِهِ طَرْفَةَ عَينٍ حتَّى يَجْعَلُوهَا في تِلْكَ الْمُسُوحِ، يخرجُ منها كأَنْتَنِ ريحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ على ظَهْرِ الأَرضِ، فيصْعَدُونَ بِها
Seorang hamba kafir (diriwayat yang lain hamba fajir) ketika mendekati akhir hayatnya di dunia menuju akhiratnya, maka akan turun kepadanya beberapa malaikat dengan wajah yang hitam gelap, mereka membawa kain kasar dari api neraka, kemudian mereka duduk di samping hamba tersebut sejauh mata memandang. Hingga datanglah malaikat maut, hingga dia duduk di sisi kepalanya dan berkata, “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah engkau untuk menuju kemarahan dan kemurkaan Allah, maka jiwanya lari ke segara penjuru tubuhnya, hingga ia mencabut ruh jiwa tersebut seperti dicabutnya garpu pemanggang yang mempunyai banyak cabang dari kain yang basah yang basah maka terputuslah saluran darah dan syaraf. (HR Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam Kitab al Janaiz)
Baca Juga: Di Benteng Kokoh Kematian Pasti Akan Menjumpaimu
Kendati Berat Ujian tidak layak Mengharap Kematian
Seorang mukmin yang beriman tidak boleh baginya untuk mengharapkan ajal menjeputnya kendati dia menghadapi ujian yang sangat berat, Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnad beliau sebuah hadis dari Ummu Fadhl, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menemui Abbas sedang ia mengeluhkan keadaannya dan ia mendambakan jika maut segera menjemputnya, maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
يا عبَّاسُ عمَّ رسولِ اللهِ ! لا تتمَنَّ المَوتَ ، إن كنتَ مُحسنًا تزدادُ إحسانًا إلى إحسانِكَ خيرٌ لكَ ، وإن كنتَ مُسيئًا فإن تُؤَخَّرْ تستَعتِبْ مِن إساءَتِكَ خيرٌ لكَ
Wahai Abbas, pamannya Rasulullah, janganlah engkau menginginkan kematian (menjemputmu segera), jika engkau adalah orang yang baik, semoga dengan dengan bertambahnya umurmu bertambah pula kebaikanmu maka itu lebih baik bagimu, dan jika engkau orang yang banyak kesalahan, jika engkau diakhirkan (kematianmu) sehingga engkau bertaubat dari kesalahanmu, maka itu lebih baik bagimu. (HR Ahmad, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Targhib)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula sebuah hadis dari Anas, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لا يَتَمَنَّيَنَّ أحَدٌ مِنْكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ به، فإنْ كانَ لا بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أحْيِنِي ما كانَتِ الحَياةُ خَيْرًا لِي، وتَوَفَّنِي إذا كانَتِ الوَفاةُ خَيْرًا لِي.
“Janganlah ada seorang dari kalian yang menginginkan kematian (segera menjemputnya) karena sebab musibah yang berat yang menimpanya. Sampaipun jika mengharuskannya mengharap kematian cepat menjemputnya, maka hendaklah ia mengatakan, “Ya Allah hidupkanlah aku jika kehidupanku lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika memang kematian adalah lebih baik bagiku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Persiapkan datangnya Kematian
Setiap insan manusia hendaklah ia mempersiapkan datangnya kematian sebelum ia mendatanginya, yaitu dengan bersegera beramal shalih sebelum datangnya ajal. Allah Rabb kita telah memotivasi kita dengan motivasi yang paling besar, dan menyeru kita untuk memanfaatkan kesempatan di waktu pengangguhan ini (sebelum datangnya kematian), dan Dia telah mengabarkan kepada kita bahwa barangsiapa yang menyianyiakan waktu tersebut maka sungguh ia akan mengharapkan waktu itu kembali (ketika kematian telah menjemputnya) dan tidak mungkin hal tersebut kembali karena telah ada penghalang antara ia dan kesempatan itu. Allah berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)
apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS al Mukminun: 99 – 100)
Allah berfirman pula
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (9) وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ (10)
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS al Munafiqun: 9 – 10)
Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahih beliau sebuah hadis dari Ibnu Umar:
أخَذَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمَنْكِبِي، فَقَالَ: كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ أوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. وكانَ ابنُ عُمَرَ يقولُ: إذَا أمْسَيْتَ فلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وإذَا أصْبَحْتَ فلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وخُذْ مِن صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، ومِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.
“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Engkau di dunia jadilah seperti orang asing atau seorang yang safar melewati suatu tempat.” Ibnu Umar pun pernah mengatakan, “Jika engkau sedang berada di waktu sore jangan tunda hingga datang waktu subuh (untuk melakukan kebaikan) dan jika engkau berada di waktu pagi jangan tunggu hingga datang waktu sore. Gunakan kesempatan sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan gunakanlah waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Bukhari)
Penyair mengatakan:
يا من بدنياه اشتغل
Wahai yang sedang sibuk dengan dunianya
وغرَّه طول الأمل
Dan yang telah dilalaikan oleh panjang angannya
الموت يأتي بغتة
Kematian akan datang tiba-tiba kepadanya
والقبر صندوق العمل
dan kubur adalah kotak penyimpan amalnya
Penyair lain mengatakan:
ولو أنا إذا متنا تركنا
Jika seandainya jika kita mati selesai urusan
لكان الموت غاية كل حي
Maka kematian akan jadi harapan tujuan setiap yang punya kehidupan
ولكنا إذا متنا بعثنا
Namun ketika kita mati maka sesungguhnya kita kan dibangkitkan
ونسأل بعدها عن كل شيء
Ditanyai setelahnya dengan segala sesuatu yang telah kita lakukan
Dinukil dan diterjemahkan dari buku ad Durrar al Muntaqah karya Syaikh Dr. Amin Abdullah As Syaqawiy hafizhahullah oleh Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.



