Syirik adalah perbuatan yang paling berbahaya karena ia adalah kriminal yang paling besar di dalam agama kita dan dia bertentangan dengan tauhid. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 116)
Daftar Isi
Syirik Kriminal yang Paling Besar
Kesyirikan merupakan kezaliman yang besar dan tidak diampuni, kezaliman ada tiga secara umum, yaitu:
1. Dzanbun la yughfar (ذَنْبٌ لَا يُغْفَرُ), kezaliman yang tidak akan diampuni (yaitu kesyirikan).
2. Dzanbun yughfar (ذَنْبٌ يُغْفَرُ), kezaliman yang dilakukan manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (selain Syirik) yang akan diampuni oleh Allah.
3. Dzambun la yutrok (ذَنْبٌ لَا يُتْرَكُ), kezaliman yang tidak akan pernah dibiarkan, yaitu kezaliman yang terjadi di antara sesama manusia dan sesama makhluk.
Ketika tauhid menjadi perkara yang paling agung dan syirik menjadi kriminal yang paling besar, maka penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perkara tauhid merupakan penjelasan yang paling agung, sehingga tauhid ini mendapatkan porsi penjelasan yang paling banyak, dan saat syirik menjadi dosa yang paling besar, maka larangan Nabi dari kesyirikan juga menjadi larangan yang paling besar dan paling banyak pula.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 128)
Diantara bentuk welas asihnya Nabi kepada umatnya adalah beliau memperbanyak penjelasan tentang tauhid dan peringatan dari kesyirikan, demikian pula orang-orang yang memikul tugas yang diemban oleh para nabi dan rasul dari kalangan ulama, kalangan penuntut ilmu, kiai, ustadz, dai, ataupun mubaligh, tatkala mereka menjelaskan tentang tauhid dan memperingatkan masyarakatnya dari kesyirikan, maka hal tersebut menjadi tanda bahwa mereka welas asih dan sayang kepada masyarakatnya. Siapapun orangnya yang mengajak kita kepada jalan tauhid dan memperingatkan kita dari kesyirikan adalah orang yang sayang kepada kita dan menginginkan keselamatan bagi kita.
Al Imam Abdul Hamid bin Baadis salah seorang ulama sunnah dari Aljazair beliau mengatakan: “Aku sangat paham sekali jika ada orang datang kepada manusia dan berkhutbah ‘Hai manusia, Sesungguhnya aku datang ke sini untuk memperjuangkan hak-hak kalian yang terampas, aku datang ke sini untuk memperjuangkan agar kalian menjadi orang-orang yang makmur, murah rezeki, hak-hak kalian di dalam negara ini ditunaikan’, pasti banyak manusia akan tertarik dan menyambut seruan tersebut,
dan aku juga paham jika ada seseorang datang kepada manusia kemudian berkhutbah ‘Hai manusia, Sesungguhnya aku datang ke sini mengajak kalian kepada jalan tauhid dan memberi peringatan kepada kalian dari kesyirikan’ pasti manusia tidak ada yang berminat. Jika aku mengambil jalan politik tadi pasti manusia akan berkerumun di sekelilingku, dan aku juga mengerti kalau aku menyuarakan tauhid pasti tidak akan ada yang berminat, aku sudah paham konsekuensi dari keduanya, tetapi aku tetap akan berjalan di atas dakwah tauhid ini apapun yang terjadi”.
Pengertian Syirik
Sebelum kita memasuki penjelasan tentang bagaimana penjagaan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam terhadap kewibawaan dakwah tauhid ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu kesyirikan, kesyirikan adalah menyamakan Allah dengan selain Allah di dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan Allah Subhanahu wa Taala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan memiliki sifat-sifat ketuhanan yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan tidak mungkin dimiliki oleh selain Tuhan, maka barang siapa yang menisbatkan atau menyematkan salah satu sifat ketuhanan yang khusus bagi Allah Ta’ala kepada selain Allah, berarti orang tersebut telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, salah ssatu contohnya adalah menurunkan hujan, tidak ada makhluk di dunia ini baik manusia maupun jin yang memiliki kemampuan menurunkan hujan selain Allah Azza wa Jalla, Allah Ta’ala berfirman:
وَنَزَّلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ مُّبَٰرَكٗا
“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah.” (QS. Qaf: 9)
Jika seseorang memiliki keyakinan ada manusia yang bisa menurunkan hujan atau menolak hujan maka berarti dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan, dia telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya di dalam perkara menurunkan hujan, padahal menurunkan hujan itu merupakan sifat Allah yang tidak mungkin dimiliki oleh selain Allah Ta’ala. Contoh lain, misalnya mengetahui kejadian-kejadian yang akan datang, ini merupakan sifat Allah yang tidak dimiliki oleh manusia, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.’” (QS. AN-Naml: 65)
Barang siapa yang meyakini ada manusia yang mengetahui perkara gaib selain Allah maka dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan, berarti dia telah menempelkan sifat Tuhan untuk selain Tuhan dan itu adalah kriminal paling besar di dalam agama kita, sama seperti meyakini benda-benda mati bisa memberi manfaat dan mudhorot contohnya pelaris, pesugihan, atau angka yang mengakibatkan kesialan.
Baca Juga : Mengenal Tauhid Uluhiyyah: Definisi, Dalil, dan Urgensinya (Bagian 1)
Menjaga Wibawa Dakwah Tauhid
1. Larangan Sikap Ghuluw Terhadap Nabi
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya sangat menjaga kewibawaan dakwah tauhid, di antara buktinya adalah Nabi sangat melarang sikap melampaui batas atau ghuluw terhadap diri beliau, beliau mengatakan:
إِيَّاكُمْ وَالغُلُوَّ؛ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُوُّ
“Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (melampaui batas) karena orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw.” (HR. Ahmad, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Bagaimana bentuk ghuluw kepada Nabi tersebut, contohnya saat Nabi datang, para sahabat tiba-tiba berdiri untuk menyambut kedatangan beliau, maka Nabi memarahi mereka karena hal tersebut merupakan hal yang melampaui batas, karena menghormati dan mencintai Nabi itu bukan dengan melampaui batas kepada Nabi, akan tetapi dengan mengikuti ajaran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah Taala berfirman:
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ٣١
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Dalam sebuah riwayat Nabi mengatakan,
(هَلَكَ المُتنَطِّعونَ (قالها ثلاثًا
“Binasalah orang-orang yang melampaui batas (Beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim)
Mengapa mereka binasa?, karena melampaui batas merupakan salah satu penyebab munculnya kesyirikan.
2. Larangan Sikap Ekstrem Dalam Memuji Nabi
Kemudian bukti yang kedua bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sangat menjaga kewibawaan dakwah tauhid adalah beliau melarang sikap ekstrem di dalam menyanjung dan memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat benci untuk dipuji dengan melampaui batas, beliau bersabda:
لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari)
Pernah suatu ketika Nabi mendengar seorang budak wanita yang bersenandung “Dan sesungguhnya kami memiliki Nabi yang bisa mengetahui kejadian-kejadian yang akan terjadi”, tatkala Nabi mendengarnya maka Nabi marah dan melarangnya, karena segala hal yang memberi kesan bahwa Nabi memiliki sifat ketuhanan maka hal tersebut dilarang dan sangat dibenci oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Terdapat suatu riwayat bahwa para sahabat merasa berat karena diganggu dan ditekan oleh orang-orang musyrikin Mekkah karena jumlah kaum muslimin masih sedikit, kemudian ada salah seorang sahabat memberi usul kepada sahabat yang lain “Marilah kita beristighatsah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, ketika Nabi mendengar ucapan itu nabi marah dan mengatakan “Tidak boleh beristighatsah kepada aku, beristighasah itu hanya boleh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”.
Seorang ulama yang bernama Al-Bakri menulis kitab yang di dalamnya mengatakan boleh beristighatsah kepada selain Allah Ta’ala, kemudian dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Kitab yang berjudul “Arraddu ‘Alal Bakri” (Bantahan Kepada Bakri), Akan tapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak mengkafirkan ulama tersebut, padahal ulama ini mengatakan istighatsah kepada selain Allah itu boleh dan itu merupakan sebuah kesyirikan, maka kita juga harus seperti itu, jika ada orang tua, anak, istri, tetangga, sahabat, kerabat kita yang terjatuh ke dalam kesyirikan maka jangan cuma semangat memvonis, akan tetapi fokuslah untuk menjelaskan kekeliruan tersebut dengan hikmah, dengan akhlak yang baik, dan dengan nasihat yang bijaksana, karena dakwah itu mengajak bukan mengejek.

3. Arahan Terkait Masalah Kuburan
Kemudian bukti selanjutnya adalah beliau memberikan arahan-arahan yang berkaitan dengan masalah kuburan, arahan-arahan beliau berkaitan dengan kuburan sangat banyak karena kuburan ini banyak sekali menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan, sehingga Nabi memberikan banyak pelajaran dan arahan kepada umatnya berkaitan dengan kuburan.
1. Ziarah Kubur
Yang pertama tentang hukum ziarah kubur, hukum ziarah kubur pada awal masa kemunculan Islam dilarang total oelh Nabi sebagai sebagai bentuk menjaga kewibawaan dakwah tauhid, dan sebagai bentuk penjagaan Nabi terhadap umat ini dari perilaku kesyirikan, kemudian saat tauhid itu berangsur-angsur menguat dalam hati para sahabat, beliau mensyariatkan ziarah kubur dan membolehkannya, dan beliau menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, beliau mengatakan dalam hadisnya yang shahih:
كُنْتُ نَهَيتُكُمْ عَنْ زيَارَةِ القُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan pada akhirat.”
2. Membangun Kuburan, Duduk di atasnya, dan Sholat Menghadapnya
Nabi melarang membangun kuburan dan melarang menduduki kuburan, banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang dari membangun di atas kuburan, makanya sebagaimana yang kita saksikan sekarang kuburannya Nabi tidak dibangun, begitu pula kuburan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, termasuk kuburan para raja di Kerajaan Saudi Arabia tidak ada yang dibangun, hanya gundukan tanah setinggi sejengkal, karena memang Nabi melarangnya dalam rangka menjaga kewibawaan dakwah tauhid, karena banyak sekali kuburan-kuburan yang dikultuskan, dan juga sholat menghadap kuburan tidak boleh, sebagaimana yang Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sabdakan:
لَا تَجْلِسُوا عَلَى القُبُوْرِ وَلَا تُصَلُّوْا إِلَيْهَا
“Jangan kalian duduk di atas kubur dan jangan kalian sholat menghadapnya.” (HR. Muslim).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Muslim).
Di dalam Kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan beberapa poin yang menyebabkan kita boleh membongkar kuburan, salah satunya yaitu membongkar kuburan dipindahkan di tempat lain karena lokasi kuburannya akan dibangun Masjid. Syeikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah mengatakan bahwa larangan yang berkaitan dengan kuburan ini berlaku bagi kuburan yang tampak secara visual, jika kuburan tersebut sudah rata dan sudah tidak kelihatan bahwa itu kuburan atau bukan, maka larangan tersebut tidak berlaku, dan tidak berlaku hukum kuburan lagi.
4. Beribadah di Kuburan
Kemudian arahan Nabi berkaitan dengan kuburan yang berikutnya adalah beliau melarang untuk melakukan ibadah di kuburan, dalam hadits shahih disebutkan,
لَا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ البَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ البَقَرَةِ
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim no. 1860)
Syekh Sholeh Al-Fauzan di dalam kitab I’anatul Mustafiid mengatakan bahwa rumah yang seperti kuburan itu adalah rumah yang tidak digunakan untuk beribadah, hal ini menunjukkan bahwa di kuburan tidak ada ibadah dan tidak boleh mendirikan ibadah di kuburan, makanya nabi mengatakan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan yaitu rumah yang tidak pernah digunakan untuk sholat, ngaji, dan dzikir sehingga statusnya sama dengan kuburan.
Ibadah di kuburan itu ada dua, yang pertama meyakini ibadah di kuburan pahalanya lebih besar, lebih banyak, dan berdoa di kuburan lebih cepat dikabulkan, maka ini statusnya bid’ah. Kemudian yang kedua beribadah di kuburan dan meminta kepada si mayit, maka ini termasuk syirik akbar.
5. Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Perayaan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjadikan kuburan sebagai tempat-tempat perayaan. Rasulullah bersabda:
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتكُمْ تبلغني حَيْثُ كُنْتُ
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (tidak pernah dilaksanakan di dalamnya shalat dan juga tidak pernah dikumandangkan ayat-ayat Al Quran, sehingga seperti kuburan), dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu dan saat), bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” (HR. An-Nasa’i)
Dalam surah Fatir disebutkan,
ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ١٣
“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fatir: 13).
Orang mati yang kalian mintai itu, mereka tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari, jadi kenapa kalian minta kepada mereka dan kenapa tidak minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?, alasan mereka adalah karena kita ini manusia yang penuh dosa kalau minta langsung kepada Allah tidak dikabulkan maka harus melalui perantara. Perkataan mereka ini dibantah langsung oleh Allah, Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ
“Rabb kalian berkata: ‘Mintalah kalian Langsung kepadaku aku akan kabulkan permintaan kalian.’”
Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa Allah Ta’ala mengatakan “jikakalau manusia itu tidak berbuat dosa maka akan Aku binasakan seluruh manusia dan Aku ganti dengan generasi baru yang berbuat dosa, kemudian mereka bertaubat kepadaKu”, artinya justru jika seseorang penuh dosa dan berdoa langsung kepada Allah, Allah malah senang dan bangga dengan taubatnya meskipun sebelumnya dia memiliki dosa yang banyak.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)
4. Larangan Meminta Syafaat Kepada Nabi
Nabi Shallallahi ‘alaihi wa sallam juga melarang meminta syafaat kepadanya, karena syafaat itu seluruhnya adalah milik Allah, jadi meminta syafaat itu kepada Allah, bukan kepada Nabi apalagi ke kuburan Nabi. Disebutkan suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada Nabi dan berkata “Wahai Rasul, aku meminta kepada engkau supaya bisa bertetangga denganmu di surga”, maka Nabi mengatakan “Tolonglah aku terhadap dirimu dengan cara memperbanyak sujud”, artinya jika kamu ingin bertetangga denganku di surga kamu sendiri harus memperbanyak sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan juga di dalam hadits syafaat yang panjang disebutkan bahwa nanti seluruh manusia ketakutan karena tertimpa musibah yang dahsyat, kemudian mereka datang kepada nabi-nabi untuk meminta syafa’at hingga sampailah kepada Nabi Muhammad, kemudian Nabi Muhammad datang di bawah Arsy dan beliau bersujud dalam waktu yang lama memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan puji-pujian yang sangat banyak, lalu Allah pun mengizinkan beliau untuk memberi syafa’at.
Syarat syafa’at itu ada dua, yaitu:
1. Izin Allah kepada yang memintakan syafaat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ
“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.”
2. Ridho Allah kepada orang-orang yang diberi syafaat,
Orang yang diridhoi oleh Allah untuk mendapat syafa’at adalah orang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik.
5. Doktrin Ajaran Tauhid Kepada Anak-Anak Kecil
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ
“Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.”
6. Larangan Nabi Dari Lafaz-Lafaz Yang Mengandung Unsur Kesyirikan
Suatu ketika Nabi mendengar ada orang mengatakan “Masyaallahu wasyita” (ini atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Nabi) dan sahabat ketika mengucapkan kalimat tersebut tidak ada niat melakukan kesyirikan, tetapi kalimat itu mengandung unsur kesyirikan, maka Nabi langsung melarangnya dan mengatakan “Apakah engkau ingin menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah Ta’ala?, Katakanlah yang berkehendak hanya Allah semata, adapun aku tidak memiliki wewenang apapun”.
Wallahu Ta’ala ‘Alam bisshowaab, demikian semoga bermanfaat.



