BerandaAqidah dan ManhajBulan Rajab dan Nilai Ibadah Didalamnya

Bulan Rajab dan Nilai Ibadah Didalamnya

Bulan Rajab merupakan bulan ke 7 dalam urutan bulan hijriah yang berada diantara dua bulan, yaitu Jumadil Akhir dan Sya’ban.

Keutamaan Bulan Qomariyyah

Sesungguhnya Allah menjadikan bulan-bulan disisi-Nya dengan hitungan Qomariyyah. Sebuah metode yang menetapkan pergantian bulan dengan melihat munculnya sebuah bulan. Dan berakhir pula dengan hilangnya bulan.

Sehingga ketika kita mempelajari bulan-bulan dalam hitungan Qomariyyah, maka kita akan menemukan manfaat di dalamnya terutama bagi orang muslim. Sedangkan hitungan bulan Masehi merupakan hasil bentuk pikiran orang Nashrani.

Sehingga tidak memiliki kemanfaatan bagi seorang muslim pada khususnya. Namun bulan hijriah berasal dari peristiwa hijrahnya Rasulullah ﷺ.

Sebagaimana pada bulan Ramadhan, seluruh kaum muslimin yang mengaku beriman kepada Allah maka akan berpuasa selama sebulan penuh. Hal ini telah termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat ke 183, Allah ﷻ berfirman.

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan (juga) kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Sedangkan pada bulan berikutnya, yaitu bulan Syawwal terdapat sebuah amalan yang merupakan bentuk kenikmatan bagi kaum muslimin dengan disyariatkannya puasa selama 6 hari.

Begitu pula pada bulan-bulan hijriah lainnya, yang mana di dalamnya terdapat amalan-amalan yang diperintahkan Allah ﷻ kepada seluruh hamba-Nya, baik yang bersifat wajib maupun sunnah.

Baca Juga: Muharram Adakah Yang Spesial

Keutamaan Beramal dengan Ilmu

Sesungguhnya Allah ﷻ telah menetapkan bulan hijriah bagi-Nya untuk kaum muslimin. Maka hendaknya bagi seorang muslim untuk mengenali setiap bulan di dalamnya.

Apakah bulan tersebut memiliki amalan yang bersifat khusus atau tidak atas landasanya dalil yang shahih, baik berasal dari Allah ﷻ atau melalui lisannya Rasulullah ﷺ dalam sabdanya.

Banyak dari kalangan orang-orang awam meramaikan bulan-bulan hijriah tertentu dengan amalan-amalan yang tidak memiliki landasan dalil diatasnya. Walaupun manusia memiliki niat yang baik, hendaknya tetap melandaskannya dengan dalil ataupun contoh dari Rasulullah ﷺ.

Maka apabila dijumpai ada dalil yang bersifat wajib maupun sunnah dan kita mampu mengerjakannya, itulah keutamaan seorang mukmin atas yang lainnya.

Pada hakikatnya, melaksanakan perintah atau amalan lainnya berasaskan dalil shahih bukan hanya dengan perasaan semata ataupun logika yang berasal dari akal yang memiliki keterbatasan.

Sebagaimana yang telah Rasulullah ﷺ sabdakan dalam haditsnya:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” وفي رواية ” مَن عَمِلَ عملاً ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ” [صحيح] – [متفق عليه]

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami (perkara agama) ini tanpa ada tuntunan (Rasulullah) di dalamnya. Maka dia tertolak. Sedangkan dalam riwayat lainnya, ‘barang siapa yang beramalan sebuah amalan yang tidak ada tuntunan dari Rasulullah ﷺ maka dia tertolak.’” Muttafaqun ‘alaihi.

Sehingga ketika seseorang mengerjakan sebuah amalan perbuatan yang dianggapnya baik namun tidak memiliki landasan atau tuntunan dari Rasulullah ﷺ, maka amalannya tersebut tertolak.

Maka hal inilah yang perlu dipahami oleh kaum muslimin, mengapa kita harus memperhatikannya? dan kita beribadah ? Tidak lain karena seluruh dari kita, pasti akan menjumpai kematian.

Dan Allah ﷻ akan menghitung amalan kita, bukan hanya menghitung harta kekayaan kita semata. Sehingga ketika muslim beramal kebaikan maka semua itu untuk kebaikan dirinya sendiri.  Sebagaimana dalam firmannya QS. Al-Jatsiyyah ayat ke 15:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.”

Mengenal Bulan Rajab

Menurut KBBI Rajab adalah bulan ke-7 tahun Hijriah (30 hari).

Menurut Kaum Jahiliyyah dinamakan bulan Rajab untuk mengagungkan golongan mereka atas pelarangan perang yang dilakukan di dalamnya.

Lalu bagaimana apabila kaum muslimin berada dalam keadaan kaum kafir menyerang di bulan Rajab?  Maka dalam hal ini perlu dipahami, bahwa hukuman bagi orang yang membunuh adalah dibunuh. Maka bukanlah sebuah kesalahan apabila kita mempertahankan jiwa dan harta kita atas serangan kaum kafir di bulan Rajab.

Dalam pandangan kaum Jahiliyyah, bulan Rajab merupakan bulan yang paling diagungkan oleh mereka. Sedangkan diantara seluruh bulan hijriah, bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling diagungkan oleh kaum muslimin.

Pada bulan ini, Allah ﷻ mewajibkan kita untuk berpuasa dan menahan diri dari perbuatan dan ucapan yang sia-sia. Kemudian bulan Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat amalan ibadah haji dengan berkumpulnya seluruh kaum muslimin di padang Arafah dan berkurban.

Selain itu, bulan Al-Muharram yang didalamnya terdapat syari’at berpuasa selama 10 hari awal pada bulan tersebut. Syari’at inilah yang telah disampaikan Rasulullah ﷺ kepada pengikutnya. Dan hendaknya kaum muslimin juga mengingatnya.

Bulan Rajab dan Amalan Bulan Rajab

Keutamaan Bulan Rajab

Apabila seorang muslim telah membiasakan dirinya untuk beramal sholeh, seperti merutinkan dirinya untuk berpuasa senin kamis ataupun puasa Daud ‘alaihissalam, sehari berpuasa sehari berbuka dan membaca Al-Qur’an pada setiap harinya 2 lembar atau lebih banyak. Kedua amalan ini boleh dikerjakan kapan pun dan dimanapun karena puasa merupakan amalan sunnah sedangkan membaca kalamullah merupakan amalan yang diperintahkan oleh Allah ﷻ.

Sehingga kita tidak diperbolehkan untuk mengkhususkan sebuah amalan tertentu karena dia tidak dapat ditambahi atau dikurangi.

Jadi ketika kita menjumpai seseorang yang meramaikan dan mengagungkan sebuah bulan tertentu dengan amalan khusus yang tidak diperintahkan Allah ﷻ dan disunnahkan oleh Rasulullah ﷺ, sebaiknya kita tidak mengikutinya.

Sesungguhnya mengagungkan sebuah bulan tertentu merupakan bagian dari ibadah. Akhirnya, orang yang awam hendaknya bertanya kepada para ahli ilmu sehingga tidak keliru dalam beramal. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nahl ayat ke 43

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْۖ فَسْـأَلُواْ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Dalam urusan dunia, seseorang pasti akan bertanya kepada para pendahulunya yang lebih berilmu darinya agar bisa mencapai tujuan dan kesuksesan harta. Lalu bagaimana dengan urusan akhirat yang abadi dan kekal. Maka lebih pantas lagi untuk bertanya kepada para Ulama.

Sesungguhnya mereka akan senang ketika ditanya karena para penanya sejatinya menginginkan kebenaran. Sedangkan tidak sedikit orang-orang yang sukses dunia, lalu menyembunyikan langkah dan metode yang mereka lakukan untuk mencapai titik puncak kesuksesan.

Sehingga orang lain tidak bisa menjadi seperti dia. Sedangkan pada dasarnya, hanya Allah ﷻ yang melapangkan rezeki-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, baik mukmin ataupun kafir.

Berkata seorang Ulama dalam kitab As-Sunan wal Mubtadi’at fil ‘Ibaadat, termasuk bulan-bulan hari raya atau keramaian yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Bahkan diantara mereka hal tersebut adalah sebuah ibadah adalah bulan Rajab. Terutama pada malam ke 27, banyak masyarakat awam meramaikannya dengan mengerjakan amalan-amalan sholeh dengan sholat malam.

Padahal amalan ini tidak ada dalil dan tuntunan Rasulullah ﷺ di dalamnya. Sehingga ketika kita menjumpai masyarakat yang mengkhususkan mengerjakan amalan sholeh untuk mengagungkan bulan Rajab semata maka hal ini tidak diperbolehkan.

Selain itu, terdapat juga masyarakat yang berusaha untuk menghidupkan malam-malam di bulan Rajab dengan menegakkan sholat malam. Sedangkan pada bulan Ramadhan mereka biasa saja dalam menghidupkan malam-malamnya.

Maka hal ini tidak diperbolehkan bahkan dilarang untuk mengerjakannya. Sesungguhnya yang berhak memuliakan sebuah bulan adalah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ melalui wahyu yang datang dari Allah ﷻ. Sedangkan Allah ﷻ tidak mengkhususkan para hamba-Nya untuk berpuasa di bulan Rajab.

Bahkan disebagian tempat yang lainnya, datangnya bulan Rajab menjadikan masyarakat berbondong-bondong dalam bersedekah kepada lainnya.

Padahal sedekah, merupakan salah satu amal ibadah agung yang dapat menghapus dosa bagi yang melakukannya. Namun ketika amalan sedekah dikerjakan dengan niat khusus mengerjakannya karena datangnya bulan Rajab, maka perkara inilah yang dilarang.

Adapun amal-amal yang lainnya, maka tidaklah memiliki keutamaan yang lebih mulia daripada bulan-bulan lainnya.

Sedangkan hadits-hadits yang menjelaskan tentang amalan khusus yang harus dikerjakan di bulan Rajab maka dikatakan tidak ada yang shahih didalamnya. Meskipun ada yang mengumpulkan hadits-hadits maudhu’ dan mungkar dalam sebuah kitab yang menjelaskan tentang adab-adab bulan Rajab. Dari atsar yang shahih,

عن خرشة بن الحر قال : رايت عمر بن الخطاب يضرب أكف الناس في رجب ، حتي يضعوا في الجفان ، ويقول: كلوا فانما هو شهر كان يعظمه أهل الجاهلية، ولما جاء الاسلام ترك

Dari Khorosyah bin al-Hurr rahimahullah dia berkata, “Saya melihat Umar bin Khaththab radhiyallahu‘anhu memukul telapak tangan para manusia di bulan Rajab, sampai mereka meletakkannya di sebuah bejana. Lalu Umar berkata, ‘Makanlah, karena sesungguhnya ini adalah sebuah bulan yang dahulu pernah diagungkan oleh orang jahiliyah, ketika datang Islam maka ditinggalkan perkara itu.’”  Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya: 2/975 dan juga dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa: 25/290-291.

Berkata Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Tabyiinul ‘Ijab bima Warada fii Syahri Rajab,

وقال ابن حجر رحمه الله:لم يرد في فضل شهر رجب ولا صيامه ولا في صيام شيء منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة. وأما من صام من شهر رجب صياما كان يعتاده لأحاديث أخرى كصيام الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر، أو صيام الاثنين والخميس، أو صيام يوم وإفطار يوم دون تخصيص لهذا الشهر بذلك فلا حرج فيه .والله أعلم

“Tidak terdapat sebuah dalil tentang keutamaan bulan Rajab, walaupun dalam perkara puasanya dan tidak pula puasa lainnya secara jelas, begitu pula tidak dalam ibadah sholat malam yang khusus datang dari hadits shahih yang menshahihkannya sebagai sebuah dalil. Adapun barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab sebagaimana beramal dari hadits-hadits lainnya, seperti puasa di 3 hari pertengahan bulan, senin kamis, dan puasa Daud tanpa mengkhususkannya untuk bulan Rajab maka amalan tersebut terlepas dari pelarangan.” Wallahu a’lam.

Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,

وقال ابن القيم رحمه الله : كل حديث في ذكر صيام رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب و مفترى

“Seluruh hadits yang menjelaskan tentang puasa Rajab dan menegakkan sholat malam di hari-hari bulan Rajab, seluruhnya dusta dan dibuat-buat oleh para ahli bid’ah.”

Berkata pula Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: أن تعظيم شهر رجب من الأمور المحدثة التى ينبغى اجتنابها

“Sesungguhnya mengagungkan bulan Rajab merupakan salah satu dari perkara-perkara baru yang hendaknya bagi seorang mukmin untuk wajib menjauhinya.”

Maka hendaknya bagi seorang muslim untuk menjauhi perkara-perkara yang dibuat-buat dalam memuliakan bulan Rajab. Sesungguhnya berbagai macam ibadah telah ada dan muncul pada masa Rasulullah ﷺ dan beliau merupakan suri tauladan bagi kita.

Sebagaimana yang telah Allah ﷻ firmankan dalam QS. Al-Ahzab ayat ke 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الاَخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Sehingga ketika seorang mukmin memegang dalil dalam segala macam bentuk ibadah yang akan dikerjakannya maka dia akan terhindari dari perkara-perkara yang baru. Akhirnya, kita mengharapkan keridhoan Allah ﷻ selalu menyelimuti ibadah kita.

Wallahu a’lam.

Selengkapnya:

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img