BerandaAqidah dan ManhajSejenak Menyelami Makna Qadha’ dan Qadar

Sejenak Menyelami Makna Qadha’ dan Qadar

Definisi Qadha’ dan Qadar.

Qadha secara bahasa adalah ketetapan. Demikian juga Qadar yaitu hukum dan ketetapan.

Berkaitan dengan maknanya secara istilah, maka qadar adalah: takdir Allah terhadap segala sesuatu yang ada sesuai dengan ilmu-Nya yang telah mendahului nya dan terkandung dalam hikmahNya.

Sedangkan hubungan antara Qadha’ dan Qadar, maka ada beberapa pendapat di kalangan para ulama:

Pertama, Qadar adalah tadir, qadha’ adalah penciptaan.

Kedua, Sebaliknya, yaitu qadha’ adalah ilmu yang terdahulu, dimana Allah telah menetapkan dengannya pada zaman azali, sedangkan qadar adalah terjadinya penciptaan sesuai dengan ketetapan yang telah lalu.

Ketiga, Ada pula yang mengatakan makna keduanya adalah satu, tidak ada bedanya.

Keempat, Ada yang mengatakan: “Apabila bergabung, maka masing masing memiliki makna yang berbeda. Sedangkan apabila disebutkan secara sendirian, maka telah mencakup yang lainnya.” (al-Iman bi al-Qadha’ wa al-Qadar, hal. 19-20, Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin, jilid 2, hal. 79).

Baca juga :

Qadha' dan Qadar

Dalil Beriman Kepada Qadar

Beriman kepada qadar ini adalah berdasarkan dalil-dalil dari Kitabullah, Sunnah, ijma’, fitrah, akal dan indera.

Pertama, dari Kitabullah yaitu al-Qur’an. Hal ini termaktub pada firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ 

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. al-Qamar: 49)

Kedua, As-Sunnah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

وَتُؤْمِنُ باِلْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“…Dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk..” (HR. Muslim)

Ketiga, Ijma’.

Imam Nawawi menyatakan:

“Sungguh dalil-dalil yang qath’i (pasti) dari kitab sunnah, ijma’ sahabat, ahlul hall wa al-aqd dari kaum salaf dan khalaf telah banyak dalam menetapkan qadar Allah”. (Syarah Muslim, jilid 1, hal. 155)

Baca Juga : Jalan Kebenaran Hanya Satu

Keempat, Fitrah.

Secara fitrah beriman kepada qadar adalah telah dapat diketahui. Kesalahan bukan dalam hal pengingkaran terhadap qadar, akan tetapi dalam pemahamannya secara benar, sebagaimana firman Allah tentang orang-orang musyrik:

سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَاۗ قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ 

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am : 148)

Kelima, Akal.

Akal yang benar memastikan bahwa Allah lah pencipta alam ini dan pengaturnya. Apabila demikian, maka tidak ada yang terjadi di alam ini dalam kekuasaan dan kerajaan Allah, melainkan telah dikehendaki oleh Allah dan ditetapkanNya.

Keenam, Indera.

Kita banyak mendengar dan menyaksikan manusia, tidaklah menjadi lurus dan sempurna perkara mereka, melainkan apabila mereka beriman kepada qadar.

Dinukilkan dari Majalah Adz-Dzakirah Al-Islamiyah Vol. 9 No. 10 Tahun 1433 H/ 2012 M. Menggapai Hidup Tegar dengan Beriman Kepada Qadar oleh Ustadz Muhtar Arifin, Lc. Penerbit STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Baca juga Artikel lainya:

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img