BerandaAqidah dan ManhajMengungkap Titik Kesamaan Manusia dan Jin

Mengungkap Titik Kesamaan Manusia dan Jin

Manusia dan Jin

Sebelum membahas titik kesamaan manusia dan jin perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa wajib bagi kita mengimani adanya Jin. Jin adalah makhluk yang tidak tampak bagi kita. Dinamakan dengan jin karena tersembunyi dari pandangan kita, sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka“. (QS Al A’raf 27)

Jin berada di alam ghaib akan tetapi wajib kita mengimaninya, karena perkara ini telah ditetapkan di dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan kaum muslimin, sehingga mengingkarinya adalah sebuah kekufuran.

Adapun alasan orang yang mengingkari perkara qath’i (pasti) tentang keberadaan jin dengan dalih tidak kelihatan, maka bisa kita jawab, bahwa tidak semua yang ada itu bisa dilihat dengan panca indra. Di sana banyak hal yang tidak bisa kita lihat tapi ada dan semua menyakini keberadaannya. Seperti ruh yang mengerakkan jasad dan akal yang kita gunakan untuk berpikir dll. Itu semua tidak tampak oleh panca indra akan tetapi kita mengimani. Intinya tidaklah setiap yang ada wujudnya itu harus dapat kita lihat.

Manusia dan Jin

Titik Kesamaan Keduanya

Manusia dan jin memiliki titik kesamaan, yaitu bahwa keduanya diciptakan untuk beribadah, keduanya mendapatkan beban ibadah.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat: 56)

Syariatnya sama dengan manusia dan Nabinya juga sama, karena pada bangsa jin tidak ada Rasul (dari kalangan jin) tapi yang ada hanyalah para pemberi peringatan (para da’i). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam mengkisahkan mereka:

وَإِذۡ صَرَفۡنَآ إِلَيۡكَ نَفَرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنصِتُواْۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ قَالُواْ يَٰقَوۡمَنَآ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٖ مُّسۡتَقِيمٖ يَٰقَوۡمَنَآ أَجِيبُواْ دَاعِيَ ٱللَّهِ وَءَامِنُواْ بِهِۦ يَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (QS. Al-Ahqaf : 29-31)

Baca juga : Kembalilah Kepada Keyakinan Agama Nabi Ibrahim

Manfaat Ibadah Kembali Kepada Hamba

Para hamba ketika beribadah kepada Allah manfaatnya adalah kembali kepada diri mereka sendiri. Mereka yang membutuhkan ibadah kepada Allah dan ibadah mereka sama sekali tidak memberikan manfaat atau menambah kekuasaan Allah Ta’ala karena Dia adalah Dzat yang Maha Kaya. Allah berfirman dalam lanjutan ayat yang kita kaji:

مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ 

Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat : 57-58)

Dan firmanNya :

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ 

Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Ibrahim : 8)

Dan juga firman Allah :

إِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمۡۖ وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَۚ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ 

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu (tidak akan merugikan Allah tapi akan merugikan kalian sendiri, – pen)”. (QS. az-Zumar : 7)

Allah juga berfirman dalam hadits Qudsi :

يا عِبَادِي، لو أنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا علَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنكُمْ؛ ما زَادَ ذلكَ في مُلْكِي شيئًا، يا عِبَادِي، لوْ أنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا علَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ؛ ما نَقَصَ ذلكَ مِن مُلْكِي شيئًا، ….. يا عِبَادِي، إنَّما هي أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إيَّاهَا، فمَن وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَن وَجَدَ غيرَ ذلكَ فلا يَلُومَنَّ إلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hambaku, seandainya umat pertama kali dan paling terakhir kali, manusianya dan jin semuanya adalah seperti takwanya hati yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu sama sekali tidak akan menambahkan kekuasaan Ku sama sekali. Begitu pula kalau seandainya semua umat dari awal sampai akhir, manusianya dan jinnya seperti hati paling jahat di antara kalian, sama sekali hal itu tidak akan mengurangi kekuasaanKu sedikitpun”… kemudian di akhir hadits: “Wahai para hambaku sesung- guhnya itu adalah murni amalan- amalan kalian yang Aku hitung buat kalian sendiri, kemudian Kami penuhi pahalanya. Barangsiapa yang mendapatkan balasan kebaikan maka hendaknya memuji Allah dan barang siapa mendapatkan selain itu maka jangan sekali-kali menyalahkan kecuali diri sendiri.” (HR. Muslim: 6737)

Baca Juga : Agar Ibadahmu Diterima

Ibadah Manusia dan Jin hanya Untuk Allah

Semua macam-macam ibadah adalah hanya untuk Allah semata tidak kepada selainnya, baik Nabi, Rasul, Malaikat, apalagi makhluk lain yang lebih rendah dari mereka. Karena Allah menciptakan manusia dan jin untuk ibadah, maka hendaknya semua jenis ibadah diberikan kepada-Nya. Apabila ternyata peribadatan diberikan kepada selain-Nya padahal Allah yang menciptakannya, berarti telah melakukan tindak melampaui batas, dan melakukan kezhaliman yang agung. Allah Dzat yang menciptaan secara esa maka wajib disembah dan diibadahi secara esa pula. Allah berfirman :

أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ 

Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl : 17)

Dan firmanNya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa“. (QS. Al-Baqarah : 21)

Maka perlu digaris bawahi bahwa Allah menciptakan manusia dan jin adalah untuk mentauhidkan Allah maka ini menunjukkan bahwa syariat tertinggi adalah tauhid, wallahu’alam.

Diringkaskan dari Majalah Adz-Dzakirah Al-Islamiyah Vol. 9 No. 10 Tahun 1433 H/ 2012 M. Hikmah Penciptaan Manusia dan Jin oleh Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc., MH. Penerbit STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Baca Juga Artikel lainya :

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img